Kamis, 29 Desember 2011

Si Oto … Penyambung Hidup Rakyat Pelosok Sumba


Si Oto … Penyambung Hidup Rakyat Pelosok Sumba
Oleh : Abdul Hamid[1]

Dalam posting sebelumnya, telah sedikit saya singgung tentang Oto. Sekarang, secara khusus ayo kita bahas kendaraan favorit saya yang baru ini (karena tak ada alternatif pilihan lain, hahaha).
Oto adalah truk yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi alat transportasi yang dapat digunakan untuk menempuh perjalanan berat menuju daerah pelosok Sumba. Terdapat dua jenis Oto: 1) Oto yang mengangkut penumpang atau lazim juga disebut Bis Kayu; 2) Oto Dagang atau Oto yang berkeliling menjual barang dagangan dari kota kepadas masyarakat pelosok desa, atau lebih tepatnya toko berjalan. Menurut saya, Oto seperti kendaraan amphibi ?!
Ada banyak cerita menarik yang kami alami bersama si Oto. Ketika pertama kali menempuh perjalanan dari Waingapu menuju Pinu Pahar, perjalanan kami relatif tidak menemui hambatan dan dapat tiba di desa Tawui (desa tempat tinggal kami) setelah tujuh jam perjalanan (iku wes paling lancar, kalo gak lancar ya bias belasan jam Bro! hahaha). Oto yang saat itu kami tumpangi sudah dicarter oleh Pak Camat sehingga tidak mengangkut penumpang selain kami, tempat duduknya pun longgar. Sensasi ekstra baru kami rasakan ketika kami menempuh perjalanan dari Tawui menuju Waingapu. Berangkat menjelang subuh, kami baru sampai Waingapu pukul 15.00 WITA (sebelas jam Mbakyu!). Apa yang terjadi di sepanjang jalan?
Sejak kami naik dari depan SMPN 1 Pinu Pahar, si Oto sudah full muatan. Kami pun duduk berdesakan dengan para penumpang lain. Tercium aroma spesial di hidung saya, sepertinya saya kenal. Ugh … ternyata diatas atap Oto ada kambing dan ayam yang diangkut. Baunya jelas saya kenal, karena dua hewan itu peliharaan Bapak saya di rumah, haha.
Memasuki tikungan pertama, ada surprise lagi nih. Ibu yang mau naik Oto ternyata bawa “Panglima Tian Feng”. Hayow tebak apa itu? … Seratus buat yang nebak BABI, hahaha. Seekor Babi yang diikat dan ditaruh di bawah jok belakang, menambah semarak perjalanan kami (ambune yo semrebel).
Tak terhitung berapa kali kami melintasi sungai dengan batu-batunya yang terjal, juga tikungan-tikungan tajam serta jalanan bergelombang. Musik ajeb-ajeb geje yang diputar keras-keras oleh sopir membuat kami semakin larut dalam TAWUI BERGOYANG! Hahaha
Harus kami akui, pak Sopir dan 2 orang awak si Oto benar-benar kualitas jempolan (kabeh jempolku gak cukup paleng). Sang Sopir jelas memiliki skill setara dengan Tommi Makkinen (pembalap rally Finlandia yang popular sewaktu saya masih SD). Dua anak buahnya juga tak kalah hebat, terutama dalam menjaga keseimbangan si Oto dan menjaga agar muatan barang tidak jatuh. Jika si Oto miring ke kiri, maka kedua awak dengan sigap akan bergelantungan di sisi kanan Oto untuk menyeimbangkan truk. Jika Oto akan melalui tanjakan, kedua awak akan mengisi bagian belakang Oto dengan pasir agar ban Oto memiliki tekanan yang cukup terhadap jalan, sehingga tidak selip. Bila beban muatan kurang, sangat rawan terjadi selip. Jadi Oto memang harus mengangkut muatan penuh. Cerdas!
Belum lagi keluar dari desa Tawui, rasanya perut ini tak lagi bisa menahan hasrat untuk muntah. Untung saja, mental tahan malu saya masih berfungsi dengan baik, sehingga mampu menyumbat rasa mual akibat goyangan si Oto. Ulfa, yang duduk di depan saya sudah game over.
Seperti perjalanan sebelumnya, kami mampir di Tabundung. Sopir, awak, dan para penumpang turun untuk mengisi perut. Saya pun turun mencari makanan, sementara empat kawan saya tetap anteng di atas jok Oto. Saya masuk ke sebuah warung untuk membeli makanan. Tentunya saya harus selektif karena jelas kondisi di situ sangat rawan dalam hal kehalalan makanan untuk kami yg muslim.
Saya bertanya kepada Bapak-Bapak yang saat itu makan : “Lauknya apa Bapak?”. Seorang Bapak menjawab : “Ayam dan mie”. Saya kembali bertanya : “Boleh saya lihat?”. Si Bapak menjawab : “Silahkan”. Saya pun melihat makanan yang dimakan oleh Bapak tersebut. Sejenak kemudian si Bapak bertanya kepada Saya : “Mas seorang muslim”. Saya menjawab : “Iya”. Bapak itu kemudian berkata : “Oh maaf, ini tidak boleh untuk Mas”. Saya pun berkata : “Iya, terima kasih”.
Tahukah anda maksud larangan Bapak tadi? Dia tahu bahwa seorang muslim tidak boleh makan daging hewan yang disembelih selain atas nama Tuhan kami (orang muslim). Kawan-kawan kami, sesama peserta SM-3T yang bertugas di SMPN SATAP Uma Ndundu bercerita bahwa pada malam ketika mereka datang, Kepala Desa menyiapkan seekor kambing kemudian mempersilahkan salah satu dari kawan-kawan peserta SM-3T untuk menyembelih sendiri kambing tersebut. Kemudian kambing tersebut dimasak oleh para wanita setempat untuk dimakan bersama. Toleransi yang sungguh luar biasa. Itu lah indahnya Indonesia tanpa kebencian. (Semoga dapat menginspirasi kita semua)
Rasa lapar yang akan menambah beratnya perjalanan sudah terbayang di pikiran saya, namun mata saya menatap ke seberang. Ada warung yang menjual menu ikan dan sayur. Alhamdulillah, akhirnya ada energy untuk saya. Saya pun membeli dalam bungkusan untuk kemudian dimakan di atas Oto, karena saya tidak nyaman dengan lingkungan warung itu yang penuh dengan anjing dan babi berkeliaran. Keempat teman saya tak membeli makanan.
Kami pun melanjutkan perjalanan, sementara saya sambil makan nasi bungkus yang tadi saya beli. Nasi dengan lauk sayur daun singkong dan ikan laut kecil goring itu sungguh nikmat. Aromanya mengundang selera, apalagi saya belum makan dari sejak pagi. Okta yang duduk di samping saya pun tak kuasa menahan godaan (sampe klametan, hahaha). Saya pun menawarinya untuk makan berbagi dengan saya. Okta tadinya malu-malu, tapi akhirnya tak kuasa menahan godaan hingga runtuhlah benteng gengsi-nya.
Perjalanan kami ke Waingapu terhambat oleh perbaikan jalan yang memaksa kami untuk berhenti 3 jam menunggu aspal kering. Alhamdulillah, nasi bungkus tadi sangat membantu kami bertahan, hingga akhirnya kami tiba di Waingapu pukul 03.00 WITA.
Kawan-kawan peserta SM-3T yang bertugas di Okatana yang berencana menuju Waingapu dua hari setelah kami, mengalami musibah. Keberangkatan mereka tertunda karena adanya banjir yang menyebabkan rute tidak bisa dilalui oleh Oto. Ketika mereka akhirnya bisa berangkat, kami yang menunggu di Waingapu sangat bersyukur. Namun kegembiraan kami tak berlangsung lama, karena kawan-kawan dari Okatana yang seharusnya tiba di Waingapu pada malam hari ternyata tidak juga tiba sampai keesokan harinya. Kami yang semakin cemas mencoba menghubungi mereka, namun tak satu pun bisa dihubungi. Alhamdulillah ketika hari beranjak siang, kawan-kawan dari Okatana member kabar bahwa mereka akan segera tiba di Waingapu. Pukul 11.00 WITA, mereka tiba di Waingapu dengan kondisi yang kelihatan shock berat.
Menurut cerita mereka, pada sore hari sebelumnya, Oto yang mereka tumpangi selip hingga hampir terperosok ke jurang. Malam itu terpaksa seluruh penumpang Oto menginap di hutan bersama dengan barang muatan mereka, termasuk ternak seperti beberapa ekor ayam, babi, kambing, dan dua ekor kuda! Keesokan paginya, Oto berhasil kembali ke lintasan dan baru lah mereka melanjutkan perjalanan ke Waingapu.
Maha Besar Allah yang telah melindungi kami dari segala mara bahaya.

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.



[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Selasa, 27 Desember 2011

Sumba… Sepenggal Cerita Tak Ternilai Sepanjang Hidup


Sumba… Sepenggal Cerita Tak Ternilai Sepanjang Hidup
Oleh : Abdul Hamid [1]

Lulus belum tentu mulus. Mungkin kalimat itu lah yg tepat untuk saya. Setelah yudisium, saya bergegas mengirimkan lamaran kerja ke beberapa sekolah di Surabaya dan sekitarnya. Jumlahnya sangat mungkin menjadi rekor tersendiri diantara kami yang lulus bulan Oktober 2011, 21 lamaran kerja.
Dua bulan berjalan, tak satu pun panggilan kerja menghampiri saya. Senyuman kecut mulai sering tampak dari wajah saya saat banyak orang bertanya: “Sudah kerja dimana Mas?” … dsb. Beban psikologis sarjana pengangguran mungkin setara dengan mahasiswa semester akhir yang tak kunjung lulus. Bagaimana pun juga saya selalu menguatkan hati bahwa pasti ada jalan.
Minggu kedua bulan November 2011, sebuah SMS masuk ke inbox ponsel saya. Isinya tentang informasi program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Segera saya cari informasi tentang program tersebut, dan dengan izin orang tua saya berangkat mengikuti seleksi. Singkat cerita, setelah mengikuti serangkaian prosedur seleksi dan pra-kondisi, pada tanggal 11 Desember 2011 kami para peserta SM-3T dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mendarat di Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur.
Setelah sejenak beristirahat di penginapan Cendana, keesokan harinya kami langsung menjalani upacara serah terima dari pihak UNESA kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Pada hari itu juga kami diberangkatkan menuju daerah penempatan masing-masing.
Saya ditugaskan untuk mengajar di SMPN 1 Pinu Pahar bersama dengan 4 orang kawan saya : Dedi Ardiawan (Fisika), Silvia Machda (Ekonomi), Isnaini Maria Ulfa (Bahasa Indonesia), dan Nur Oktaviyanti (Matematika). Kami berangkat dari Waingapu pukul 11.30 WITA dengan menggunakan Bis Kayu atu juga biasa disebut Oto oleh masyarakat Sumba Timur. Tahu kah kalian apa itu Bis Kayu ?
Bis Kayu adalah truk yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi satu-satunya alat transportasi umum yang dapat menempuh perjalanan antara Waingapu dengan daerah-daerah lain di pelosok Sumba Timur. Mau tahu rasanya naik Bis Kayu?
Sensasional! Itu lah kata yang pantas untuk menggambarkan ketangkasan sopir & awak Bis Kayu sepanjang perjalanan melelahkan selama 7 jam dengan rute melintasi puluhan bukit, lembah, dan sungai serta menembus belantara hutan Sumba Timur. Seperti lagu soundtrack film kartun Ninja Hattori : “Mendaki gunung lewati lembah, Sungai mengalir indah ke samudra…
Sepanjang perjalanan, kami dibuat was-was oleh medan yang curam dan terjal, bahkan sebagian besar jalan berada di tepi jurang dan lebarnya hanya cukup untuk 1 truk melintas. Jika ada kendaraan dari arah berlawanan, maka salah satu harus mengalah. Jelas sekali bahwa pak Sopir dan awaknya ini sudah terlatih oleh medan yang berat. Boleh diadu dengan sopir dan awak bus Sumber Kencono di Jawa, hahaha
Selama 7 jam perjalanan, kepala dan perut kami seperti diaduk sampai hampir muntah. Untung saja selama hampir lima tahun Saya telah “dididik” oleh kehebatan sopir dan awak bus Sumber Kencono selama menempuh perjalanan Ngawi-Surabaya.
Di tengah perjalanan, kami sempat transit di sebuah kampung yang masuk wilayah kecamatan Tabundung, sebuah kecamatan sebelum Pinu Pahar. Desa tempat kami singgah tersebut hanya terdiri dari sekitar sepuluh rumah yang hampir semuanya membuka warung makan. Kami makan dengan ditemani beberapa anjing dan babi yang berkeliaran di sekitar kami. Walau pun hal itu cukup mengganggu kami, namun sebisa mungkin kami harus membiasakan diri karena sebagian besar masyarakat Sumba memang memelihara babi dan anjing.
Setiap orang yang menempuh perjalanan dari Waingapu ke Pinu Pahar atau sebaliknya harus transit di Tabundung untuk makan, sebab hanya di desa itu lah kami bisa menemukan warung makan. Kami butuh banyak energi untuk menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Perjalanan dari Waingapu menuju desa Tawui, tempat kami bertugas, dapat ditempuh selama 7 jam jika tidak ada hambatan. Seringkali harus molor karena adanya pohon tumbang atau perbaikan jalan. Sebagai catatan, perjalanan kami dari Tawui menuju Waingapu (sewaktu liburan Natal dan Tahun Baru ini) memerlkan waktu 11 jam! Molor 4 jam karena perbaikan jalan. Bahkan kawan-kawan yang ditugaskan di SMPN Satu Atap Okatana (juga masuk kecamatan Pinu Pahar, tapi beda desa dengan kami) butuh waktu 20 jam ntuk mencapai Waingapu! Oto yang mereka tumpangi terperosok di tepi jurang karena menghindari pohon tumbang, sehingga mereka harus berhenti dan bermalam di hutan sambil menunggu Oto bisa melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 07.00 WITA, kami tiba di desa Tawui. Kami disambut di rumah dinas Bapak Camat Pinu Pahar yang terletak ddi dalam komplek kantor kecamatan Pinu Pahar. Ibu Camat menghidangkan nasi merah dengan lauk sayur daun ketela pohon dan ikan untuk makan malam kami. Alhamdulillah sungguh nikmat, cukup memberi energi untuk kami yang sangat lelah.
Di kecamatan Pinu Pahar, terdapat 3 SMP Negeri antara lain SMPN 1 Pinu Pahar, SMPN SATAP Okatana, SMPN SATAP Uma Ndundu. SMPN SATAP adalah SMP Negeri yang bangunan sekolahnya satu atap dengan SD. Di kecamatan Pinu Pahar, tidak ada SMA maupun SMK. Anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTA harus merantau ke kecamatan Lewa atau Waingapu.
Jarak antara Tawui dengan Okatana hanya 8 km, namun lama perjalanan bisa mencapai 2 jam atau lebih. Okatana terletak di sebelah timur Tawui namun masih harus melewati satu desa, yaitu Lelunggi. Uma Ndundu terletak di sebelah timur Okatana, tetapi masih harus melalui delapan aliran sungai. Tak heran bila jarak antara Tawui dan Okatana sejauh 20 km bisa memakan waktu 4 jam lebih dengan sepeda motor. Oto yang biasa kami tumpangi hanya melayani rute dari Waingapu-Tabndung-Tawui-Okatana. Untuk dapat mencapai Uma Ndundu dari Okatana harus dengan ojek sepeda motor. Oto dari Waingapu menuju Uma Ndundu tidak melewati Tawui dan Okatana, tapi melalui rute yang melewati kecamatan lain. Beda desa bagaikan beda negara, kawan! Jalur transportasi darat menuju daerah selatan Sumba Timur memang banyak mengambil rute memutar karena kondisi topografis yang berbukit-bukit dengan banyak aliran sungai. Apabila musim hujan, banyak sungai yang meluap hingga tak bisa dilewati. Wilayah kami sangat rawan terisolasi di musim hujan.
Ketika kami tiba, kondisi desa Tawui gelap gulita. Hanya terlihat cahaya lilin dari rumah-rumah warga. Listrik hanya tersedia malam hari di desa ini, seperti halnya kebanyakan desa lain di pelosok Sumba Timur, bahkan masih banyak desa di Sumba Timur yang belum menikmati listrik. Listrik dari PLN belum bisa masuk sampai pelosok desa-desa di Sumba Timur. Warga desa Tawui, juga sebagian besar desa-desa di Sumba Timur dapat menikmati listrik 4 jam dalam semalam dengan genset yang berbahan bakar bensin. Setiap kepala keluarga membayar iuran swadaya untuk dapat menikmati listrik. Baru lah kami menyadari bahwa banyak diantara saudara-saudara sebangsa kita yang belum menikmati lezatnya ke kemerdekaan.
Malam itu, Bapak Domi (nama lengkapnya Dominggus Tata Ewang), kepala sekolah SMPN1 Pinu Pahar tempat kami bertugas, mengantar kami menuju mess sekolah. Kami sunggh beruntung, pihak sekolah menyediakan mess untuk kami tanpa harus membayar. Mess tersebut terletak di dalam sekolah. Pada umumnya, di dalam sekolah-sekolah di Sumba Timur terdapat mess untuk tempat tinggal kepala sekolah, guru, dan siswa yang rumahnya jauh dari sekolah. Pak Domi juga tinggal di mess sekolah yang berada di bagian depan sekolah, sedangkan kami tinggal di mess yang terletak di bagian belakang sekolah. Istri dan anak Bapak Domi tinggal di Waingapu.
Di sini tidak ada warung makan. Kami harus memasak sendiri jika ingin bertahan hidup. Jika ingin mengambil air, kami harus menuju sumber air satu-satunya di desa ini yang terletak di pasar. Pasar terletak di depan kantor kecamatan, sekitar 300 meter dari mess kami. Setiap hari kami mandi dan mencuci baju di kamar mandi yang ada di pasar, kemudian plang dengan membawa air yang diwadahi jeligen minyak bekas minyak goreng isi lima liter.
Hanya terdapat aktivitas perdagangan di pasar pada hari sabtu. Setiap hari kami berbelanja di beberapa toko warga desa. Mereka Berbelanja barang dari Waingapu dengan cara menitip pada Oto yang berangkat menuju Waingapu. Setelah Oto kembali dengan membawa barang dagangan pesanan, pedagang menjualnya kembali. Ada juga Oto dagang, yaitu truk yang membawa muatan barang dagangan dan berdagang secara keliling sepanjang rute Waingapu-Pinu Pahar. Dengan beratnya medan, wajar bila harga barang kebutuhan barang di sini lebih mahal dari di Jawa. Hanya dengan alur seperti ini lah distribusi barang dapat berjalan dan warga pelosok seperti Pinu Pahar dapat bertahan hidup.
Sejujurnya, ketika awal tiba di sini, saya merasa bahwa hidup saya setahun ke depan akan sangat berat. Seiring berjalannya waktu, kami mulai menguatkan hati untuk menjalani ini semua. Bagaimana pun kami masih bersyukur masih bisa menikmati sinyal telepon dan listrik, walau hanya 4 jam sehari. Banyak dari kawan kami, sesame peserta SM-3T, yang mengabarkan bahwa mereka tidak bisa menikmati sinyal dan listrik. Kawan-kawan kami di Uma Ndundu harus naik bukit sejauh 2 km untuk mendapatkan sinyal. Tidak ada listrik di desa mereka, sehingga mereka harus turun bukit sejauh 4 km untuk nunut mengisi baterai ponsel di rumah warga desa terdekat yang terdapat listrik.
Banyak pelajaran moral dan pengalaman tak ternilai yang kami peroleh selama di sini. Syukur Alhamdulillah masyarakat Sumba Timur menyambut kami dengan hangat. Mereka sangat ramah kepada kami, terutama karena kami adalah guru. Guru adalah profesi yang sangat mulia di mata masyarakat Sumba Timur, penghormatan besar yang bahkan sedikit pun sudah jarang kami rasakan di kampung halaman kami. Antusiasme tinggi yang sangat mengharukan tampak jelas di wajah para siswa kami saat kami memperkenalkan diri untuk pertama kalinya. Setiap warga desa selalu menyapa kami dengan ramah setiap kali berpapasan dengan kami, bahkan tak jarang mereka memberikan buah ata pun sayuran yang mereka punya untuk kami. Kami pun mulai terbiasa dengan anjing dan babi yang berkeliaran di sepanjang jalan. Atmosfer interaksi sosial di sini benar-benar membuat kami nyaman.
Mess kami menghadap langsung ke laut. Setiap hari kami bisa melihat indahnya keagungan Tuhan yang nyata, terbit dan tenggelamnya matahari. Pantai di sini sungguh indah, masih bersih dan bebas dari tangan-tangan jahil manusia yang tak bertanggungjawab. Di depan mess kami terdapat padang rumput yang luas. Setiap senja tiba, puluhan kuda, sapi, dan kerbau berkumpul di padang itu. Ketika matahari terbit, mereka kembali hilang di belantara semak-semak yang terdapat disepanjang tepi pantai. Di siang hari, giliran babi dan kambing yang mencari makan di padang rumput itu, dengan dijaga anjing-anjing di sekitarnya. Setiap pagi hingga siang, sering kali burung elang terbang dengan membawa mangsa (biasanya ular). Pada sore hari, banyak burung hinggap di punggung sapi untuk makan kutu. Dulu, sewaktu SD dan SMP, saya hanya bisa membayangkan adegan-adegan seperti itu setelah membaca buku pelajaran IPA bab rantai makanan dan simbiosis mutualisme. Subhanallah!
Seharusnya sesuai jadwal, kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai pukul 07.15 WITA, namun realitanya tak seperti itu. Sekitar pukul 09.00 WITA, baru mulai banyak siswa yang sudah hadir, itu pun masih ada saja yang tidak masuk. Hal ini sangat wajar, anak-anak di sini mulai pagi sudah harus mengambil air untuk membantu kebutuhan keluarganya. Jarak antara rumah dan sekolah pun sangat jauh, dalam hitungan kilometer. Padahal mereka hanya memakai baju seragam lusuh dengan sandal jepit, bahkan ada yang nyeker.
Saya sungguh terharu melihat foto-foto hasil dokumentasi kawan-kawan SM-3T di Uma Ndundu. Dalam foto itu, mereka mengobati kaki muridnya yang penh luka karena setiap hari harus berjalan kaki 8 km menuju sekolah, tanpa alas kaki atau nyeker. Subhanallah, laskar pelangi ternyata tak hanya sekedar cerita film namun juga nyata masih terjadi pada beberapa putra bangsa kita!

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.