Selasa, 28 Februari 2012

Menyemai Mimpi di Tawui, Berharap Menuai Buah Harapan


Menyemai Mimpi di Tawui, Berharap Menuai Buah Harapan
oleh : Abdul Hamid[1]

Kita ini sudah tak punya apa-apa
Jika tak punya mimpi, maka mati lah kita

Sepenggal kalimat sakti dari Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi tersebut adalah kalimat penuh misteri yang ingin saya cari jawabannya di Tawui ini, di sekolah ini : SMPN 1 Pinu Pahar. Novel Laskar Pelangi begitu menginspirasi saya, sejak pertama kali saya mengenalnya dalam kuliah Pendidikan Agama Islam yang diajarkan oleh Prof. Ali Haidar pada semester kedua kuliah saya. Saat itu Prof. Ali mengajar mata kuliah Agama Islam dengan caranya yang unik tapi benar-benar mendidik. Beliau tidak mengajar dengan cara konvensional menggunakan buku diktat yang disusun tim dosen Agama Islam universitas, justru buku itu seperti tak tersentuh sejak awal kami kuliah. Kuliah Agama Islam kami isi dengan mengkaji novel Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Bukan dengan tujuan mengikuti trend masyarakat saat itu yang sedang booming dua novel itu, melainkan untuk mengambil pesan moral yang terkandung di dalamnya. Sejak itu lah Laskar Pelangi begitu berkesan bagi saya.
Sejak pertama kali mendarat di Pinu Pahar, saya ingin segera membuktikan bahwa potret anak-anak bangsa yang haus dengan ilmu seperti apa yang saya baca dan lihat (dalam versi film) Laskar Pelangi itu benar-benar ada di sini. Saya pun sangat berharap bisa menjadi bagian penting dalam proses mereka mengejar dan mewujudkan mimpi.
Sekembalinya dari liburan Natal dan Tahun Baru di Waingapu, saya mulai aktif mengajar. Saya ditugaskan untuk mengajar IPS di kelas 7, yang terdiri dari kelas 7A dan 7B. Sesuai dengan materi dalam silabus, saya harus mengajarkan tentang Peta, Atlas, dan Globe kepada siswa kelas 7.
Pagi itu saya masuk ke kelas 7B dengan membawa peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), atlas, dan globe. Ketika saya memasuki kelas, mereka terdiam dari gaduhnya dan mata mereka terkonsentrasi pada benda-benda yang saya bawa. “Mau ngapain Bapak Guru ini?”, pertanyaan itu lah yang mungkin  ada di benak mereka. Sangat mungkin pula saya ini guru yang paling banyak membawa media di sini, hahaha.
Kebiasaan yang berlaku di sini setiap kali guru masuk kelas, seluruh siswa berdiri. Kemudian ketua kelas berseru : “Beri hormat!”. Serentak seluruh siswa menyahut : “Selamat pagi Pak!”. Begitu juga ketika pelajaran selesai dan guru hendak meninggalkan kelas, mereka kembali berdiri. Ketua kelas berseru lagi : “Beri hormat!”. Siswa lain menyahut : “Terima kasih Pak”. Ritual seperti itu rutin berlangsung pada saat pergantian jam pelajaran. Sungguh saya benar-benar, merasa dihargai di sini.
Setelah mereka memberi salam, saya memperkenalkan diri kepada mereka. Selanjutnya saya menggantung peta pada paku di atas papan tukis. Kemudian saya tanyakan kepada mereka : “Apakah kalian tahu, benda apa saja yang saya bawa ini?”. Serentak mereka menjawab : “Peta Pak!”. Saya bertanya lagi sambil menunjukkan atlas dan globe : “Kalau yang ini apa?”. Mereka hanya diam, pertanda belum kenal dengan dua benda yang saya bawa. Saya pun berkata : “OK nak , itu lah yang akan kita pelajari hari ini. Kita akan belajar tentang peta, atlas, dan globe. Yang digantung di depan itu namanya peta, yang seperti buku ini namanya atlas, dan yang seperti bola ini namanya globe. Pada dasarnya semua ini adalah gambaran bentuk permukaan bumi yang diperkecil dalam skala tertentu dan di dalamnya terdapat simbol-simbol yang menggambarkan muka bumi. Hanya saja terdapat perbedaan antara peta, atlas, dan globe. Peta digambarkan pada sebuah bidang datar, seperti peta yang sekarang dapat kalian lihat. Atlas adalah kumpulan peta yang disusun dalam bentuk buku. Sedangkan globe adalah gambaran muka bumi yang dibuat dalam bentuk bulat seperti bentuk sebenarnya dari bumi kita. Orang pertama yang menyatakan bahwa bumi ini bulat adalah Nicolaus Copernicus, sedangkan orang pertama yang berhasil membuktikannya adalah seorang pelaut Spanyol bernama Juan Sebastian Del Cano”. Saya ambil globe kemudian saya jelaskan tentang jalur pelayaran Del Cano dengan globe tersebut. “Juan Sebastian Del Cano ikut dalam pelayaran yang dipimpin oleh Ferdinand de Magelhaens. Mereka berangkat dari Spanyol, melewati Samudera Atlantik kemudian melewati Selat Drake yang berada di sebelah selatan benua Amerika, lalu mengarungi Samudera Pasifik hingga sampai di Filipina. Di Filipina ini, mereka terlibat pertikaian dengan suku asli setempat dan menyebabkan Ferdinand de Magelhaens terbunuh. Awak kapal yang tersisa kemudian melanjutkan pelayaran dengan dipimpin oleh Juan Sebastian Del Cano. Mereka melewati kepulauan Indonesia, masuk ke Selat Malaka dan kemudian mengarungi Samudera Hindia. Mereka melewati pantai timur Afrika menuju arah selatan dan sampai ujung selatan benua Afrika yang disebut Tanjung Harapan. Dari Tanjung Harapan, mereka mengarungi Samudera Pasifik ke arah utara dan akhirnya mereka sampai kembali di Spanyol. Dengan demikian Juan Sebastian del Cano telah membuktikan bahwa pendapat Copernicus benar. Kalian jika berlayar dari Sumba ke arah Barat, pasti juga bisa kembali sampai di Sumba dari arah timur”.
Ketika saya banyak bercerita seperti itu, mereka sangat antusias. Ini tentu membuat saya sangat terkesan. Mereka memang anak-anak yang haus dengan ilmu dan informasi, karena di sini akses informasi sangat terbatas. Listrik hanya ada 4 jam di malam hari, saat itu lah masyarakat bisa menikmati siaran televisi. Sayangnya, stasiun-stasiun televisi kita lebih suka menayangkan sinetron-sinetron pada jam-jam tersebut, hanya demi ratting. Praktis, hampir tak ada kesempatan bagi anak-anak di sini untuk menyaksikan tayangan-tayangan informatif dan mendidik. Bagaimana dengan koran? Jangankan di Pinu Pahar, di Waingapu pun saya sulit mendapatkan koran. Internet? Mimpi kali yee, hahaha.
Satu hal yang masih menjadi pekerjaan berat bagi saya adalah menumbuhkan inisiatif mereka. Siswa sangat patuh terhadap Guru, namun mereka hanya melakukan sebuah aktivitas jika sudah disuruh, sedikit sekali ada yang berinisiatif untuk sekedar mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan. Pernah suatu ketika saya masuk ke kelas 7A untuk pertama kalinya. Setelah saya memperkenalkan diri, saya meminta mereka untuk memperkenalkan diri satu per satu dengan menyebutkan nama, asal desa, dan cita-cita. Saya ingin tahu sudah sejauh mana mimpi mereka.
Kebanyakan dari mereka memperkenalkan diri dengan ekspresi tersipu malu. Ada yang bilang ingin menjadi guru, ada juga yang ingin jadi polisi, ada yang ingin jadi perawat atau bidan, dan satu orang yang paling sensasional ... dia bercita-cita menjadi HANSIP, alamaaak. Dalam suasana hati yang menahan tawa ini, saya masih mencoba berfikir positif bahwa mungkin saja anak itu melihat bahwa profesi Hansip sangat membantu masyarakat dalam setiap acara, sehingga kemudian menginspirasinya untuk bercita-cita menjadi Hansip. Luar Biasa.
Pekan berikutnya, saya masih (dan akan selalu) membawa peta NKRI ketika memasuki kelas. Saya minta kepada siswa kelas 7, baik 7A maupun 7B, untuk menggambar peta NKRI. Saya hanya bisa meminta mereka menggambar secara sederhana di buku tulis mereka, karena tak mungkin meminta mereka menggambar di atas kertas manila putih. Tidak ada satu toko pun di Pinu Pahar yang menjual kertas manila putih. Mungkin saya perlu meminta maaf kepada guru atau ilmuwan geografi di seluruh dunia karena saya hanya meminta mereka menggambar peta tersebut sesuai dengan kemampuan mereka, tanpa skala atau juga aturan baku pembuatan peta yang lain. Mengapa itu saya lakukan? Mereka baru mengenal peta dari apa yang saya ajarkan. Terlalu sulit bagi mereka untuk langsung dituntut membuat peta sesuai aturan. Hal terpenting yang ingin saya tanamkan dari kegiatan ini adalah mereka mengenal wilayah negaranya, memahami betapa besar bangsanya, dan mencintai tanah airnya.
Ketika saya katakan kepada mereka : “Silahkan menggambar peta ini dengan baik, boleh mendekat ke depan”. Serentak mereka menyerbu dengan semangat. Ini lah antusiasme mereka yang tiada henti saya kagumi. Ketika saya tunjukkan : “Ini pulau kita, Pulau Sumba”. Mereka semakin antusias. Saya pun menyingkir dari kerumunan itu untuk memberi kesempatan mereka berekspresi.
Sepuluh menit menjelang pelajaran berakhir, saya lihat hasil pekerjaan mereka. Hanya satu orang yang menggambarkan sesuai bentuk yang “bisa dipahami” bahwa itu gambar peta Indonesia. Sementara yang lain, saya akui memang ada rasa ngelus dada (prihatin), tapi tetap saja ada juga sesuatu yang menghibur. Banyak diantara mereka yang menggambar Pulau Sumba lebih besar dari pulau-pulau lain, bahkan Jawa dan Kalimantan lupa tidak digambar. Hahaha
Pagi tadi saya masuk ke kelas 7B lagi. Kali ini, lain dari biasanya. Saya bicara kepada mereka : “Hari ini kita tidak akan buka buku, kalian tidak perlu menulis, tidak juga saya berikan tugas, tapi hari ini kita tetap akan belajar. Kita akan saling berbagi cerita”. Hari itu saya mengajak mereka mengkaji Laskar Pelangi sebagaimana yang saya pelajari dalam kuliah Pendidikan Agama Islam dulu. Walau pun harus banyak bercerita, karena mereka belum pernah tahu sebelumnya, bagi saya itu tak masalah. Saya hanya ingin menanamkan pesan-pesan moral kepada mereka. Besar harapan dari saya bahwa dari sedikit benih yang saya semai ini, mereka akan menuai buah dari harapan dan cita-cita yang ada dalam hati mereka di masa depan. Semoga mereka bisa segera bermimpi dan mengejar cita-citanya. Amin.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.