Tawui Arena, The Theatre of The Dream
oleh : Abdul
Hamid[1]
|
Tawui Arena
|
=
|
Old Trafford
|
Pak Guru, mari kita main bola kaki ... !
Panggilan yang akan selalu saya rindukan. Sebuah bola usang telah menjadi
saksi “pergumulan” yang kami lalui bersama di lapangan rumput berselimut debu
di belakang sekolah kami.
Lahan kosong penuh semak belukar membentang di halaman belakang sekolah
kami yang luas. Rekan-rekan guru setempat mengatakan bahwa lahan itu adalah
sebuah lapangan sepakbola yang jarang dirawat sehingga semak belukar tumbuh subur
menutup rumput lapangan. Hujan ikut memacu pertumbuhan semak belukar itu dengan
cepat. Kami harus menunggu musim hujan selesai untuk mulai membangun kembali lapangan.
Memasuki semester kedua masa tugas, baru lah kami bisa memulai proyek kami.
Setiap hari Jum’at sore, sekolah kami mengadakan acara kerja bakti bersama yang
dikoordinir oleh OSIS. Kami memanfaatkan waktu tersebut untuk mengarahkan siswa
membersihkan semak belukar. Cukup sulit membersihkan tumbuhan-tumbuhan liar yang
biasa disebut tumbuhan Kehi dan Tai Belalang dengan akarnya yang besar, belum lagi rumput-rumput liar yang
tajamnya bisa dengan mudah mengiris kulit kaki. Butuh empat kali kerja bakti
untuk membersihkan lapangan itu.
Adalah Supriyadi Pura Tanya atau karib disapa Yadi, siswa kelas 8A yang dengan suka rela menghibahkan bambu dari
kebunnya untuk kami jadikan gawang lapangan kami. Tak akan saya lupakan sore
yang melelahkan itu, saat saya dengan Yadi memotong kemudian memikul bambu bersama
saya dari rumah Yadi yang terletak di seberang lembah sungai Tawui, kurang
lebih 2 km. Bukan jarak yang ringan karena kami berdua harus memikul bambu yang
berat.
Dan gawang itu pun berdiri
kokoh keesokan paginya. Sejak itu lah hari-hari yang indah penuh keceriaan kami
lalui. Dengan sebuah bola futsal abu – abu yang saya beli di Waingapu, lapangan
itu seolah tak pernah sepi pada jam istirahat sekolah dan sore hari selepas
kegiatan kerja bakti OSIS. Kaki – kaki kecil nan lincah itu tiada henti
mengejar bola yang bergulir, menerjang sisa – sisa rumput berduri yang tak
mampu melukai kesaktian kaki – kaki mereka. Saya pun tak ketinggalan meramaikan
permainan mereka dengan ikut bermain, walaupun hanya menjadi Kiper atau pemain
belakang. Itulah cara saya mengikat hati mereka. Peluh keringat kami adalah
ungkapan emosi kedekatan kami.
“Pinjam bola kaki Pak Guru”.
Permintaan yang selalu mereka katakan kepada saya ketika istirahat sekolah atau
jam kosong. Saya selalu mengabulkannya, asal mereka tetap masuk kelas ketika
waktunya belajar, daripada mereka meninggalkan sekolah ketika tidak ada
kegiatan belajar di kelas.
Saya seorang Milanisti (penggemar AC Milan), tapi
saya selalu terkesan dengan gelar “The
Theatre of The Dream” yang melekat pada stadion Old Trafford milik
Manchester United. Di tempat itulah Milan mengalahkan Juventus lewat drama adu
penalti pada final UEFA Champions League 2002/2003, namun lebih dari itu gelar “The Theatre of The Dream” adalah simbol
bahwa ditempat tersebut para bintang berlaga mewujudkan mimpinya. Semangat yang
coba saya tularkan kepada murid – murid kami di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar”.
Kami memiliki sosok hebat di
bawah mistar gawang layaknya Peter
Schmeichel pada diri Yanto
Pandangara. Pria kecil asal desa Lailunggi ini selalu tampil kokoh mengawal
gawang dengan kaos andalan bertuliskan “Pemburu
Janda Muda”. Hahaha
|
Yanto
|
=
|
Peter Schmeichel
|
Manchester United pernah
memiliki palang pintu kokoh Jaap Stam
dari Belanda. Kami juga punya palang pintu kokoh bernama Supriyadi Pura Tanya dari Tawui. 0(^_^)0
|
Yadi (tengah)
|
=
|
Jaap Stam
|
Sekarang hamper di seluruh
dunia memperdebatkan siapa yang terbaik antara Leonel Messi dan Cristiano
Ronaldo. Kami juga punya Ronaldo : Ronaldo
Bulu Bili atau biasa dipanggil Ronald. Jika ayah Cristiano Ronaldo
mengambil nama mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, lain dengan papa Ronald yang memberi nama putra
pertamanya ini dengan mengadopsi nama superstar Brazil Ronaldo Luis Nazario de Lima.
|
Ronaldo Bulu Bili
|
=
|
Cristiano Ronaldo
|
Masih ingat dengan penentu
kemenangan MU atas Bayern Muenchen di final UEFA Champions League 1998/1999? “The Baby Face Assasin” Ole Gunnar
Solskjaer, penyerang Norwegia berwajah imut yang sering menjadi penentu
kemenangan MU pada beberapa pertandingan penting. Sosok oportunis ini ada pada
Umbu Nessy Marumata alias Unes.
|
Unes
|
=
|
Ole Gunnar Solskjaer
|
Tak ada yang menyangkal bahwa
aktor utama kejayaan MU adala Sir Alex
Ferguson, pria Skotlandia berwatak keras namun pandai memotivasi para
pemainnya. Kesuksesan yang coba saya teladani (dalam konteks seorang pendidik)
walaupun pastinya saya belum sehebat Opa Fergie, hehe.
|
Saya dan permata – permata Tawui
|
=
|
Sir Alex dan para superstar MU
|
Hari – hari indah yang kami
lalui bersama di Tawui Arena, “The
Theatre of The Dream of Pinu Pahar” mungkin bukan sesuatu yang special
untuk sebagian orang, namun dari situlah saya mencoba menanamkan nilai
sportivitas dan jiwa kompetitif dalam diri murid – murid kami, walaupun hanya
lewat event – event sederhana seperti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola atau
juga kompetisi Class Meeting dan
peringatan HUT Kemerdekaan yang sempat kami adakan di sana. Semoga sedikit
kenangan ini bermanfaat untuk masa depan anak – anak bangsa di ujung selatan
negeri.
Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.
SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan
Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.
[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar
Kabupaten Sumba Timur.





