Selasa, 27 November 2012

Tawui Arena, The Theatre of The Dream
oleh : Abdul Hamid[1]


Tawui Arena
=

Old Trafford

Pak Guru, mari kita main bola kaki ... !

Panggilan yang akan selalu saya rindukan. Sebuah bola usang telah menjadi saksi “pergumulan” yang kami lalui bersama di lapangan rumput berselimut debu di belakang sekolah kami.
Lahan kosong penuh semak belukar membentang di halaman belakang sekolah kami yang luas. Rekan-rekan guru setempat mengatakan bahwa lahan itu adalah sebuah lapangan sepakbola yang jarang dirawat sehingga semak belukar tumbuh subur menutup rumput lapangan. Hujan ikut memacu pertumbuhan semak belukar itu dengan cepat. Kami harus menunggu musim hujan selesai untuk mulai membangun kembali lapangan.
Memasuki semester kedua masa tugas, baru lah kami bisa memulai proyek kami. Setiap hari Jum’at sore, sekolah kami mengadakan acara kerja bakti bersama yang dikoordinir oleh OSIS. Kami memanfaatkan waktu tersebut untuk mengarahkan siswa membersihkan semak belukar. Cukup sulit membersihkan tumbuhan-tumbuhan liar yang biasa disebut tumbuhan Kehi dan Tai Belalang dengan akarnya yang besar, belum lagi rumput-rumput liar yang tajamnya bisa dengan mudah mengiris kulit kaki. Butuh empat kali kerja bakti untuk membersihkan lapangan itu.
Adalah Supriyadi Pura Tanya atau karib disapa Yadi, siswa kelas 8A yang dengan suka rela menghibahkan bambu dari kebunnya untuk kami jadikan gawang lapangan kami. Tak akan saya lupakan sore yang melelahkan itu, saat saya dengan Yadi memotong kemudian memikul bambu bersama saya dari rumah Yadi yang terletak di seberang lembah sungai Tawui, kurang lebih 2 km. Bukan jarak yang ringan karena kami berdua harus memikul bambu yang berat.
Dan gawang itu pun berdiri kokoh keesokan paginya. Sejak itu lah hari-hari yang indah penuh keceriaan kami lalui. Dengan sebuah bola futsal abu – abu yang saya beli di Waingapu, lapangan itu seolah tak pernah sepi pada jam istirahat sekolah dan sore hari selepas kegiatan kerja bakti OSIS. Kaki – kaki kecil nan lincah itu tiada henti mengejar bola yang bergulir, menerjang sisa – sisa rumput berduri yang tak mampu melukai kesaktian kaki – kaki mereka. Saya pun tak ketinggalan meramaikan permainan mereka dengan ikut bermain, walaupun hanya menjadi Kiper atau pemain belakang. Itulah cara saya mengikat hati mereka. Peluh keringat kami adalah ungkapan emosi kedekatan kami.
“Pinjam bola kaki Pak Guru”. Permintaan yang selalu mereka katakan kepada saya ketika istirahat sekolah atau jam kosong. Saya selalu mengabulkannya, asal mereka tetap masuk kelas ketika waktunya belajar, daripada mereka meninggalkan sekolah ketika tidak ada kegiatan belajar di kelas.
Saya seorang Milanisti (penggemar AC Milan), tapi saya selalu terkesan dengan gelar “The Theatre of The Dream” yang melekat pada stadion Old Trafford milik Manchester United. Di tempat itulah Milan mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti pada final UEFA Champions League 2002/2003, namun lebih dari itu gelar “The Theatre of The Dream” adalah simbol bahwa ditempat tersebut para bintang berlaga mewujudkan mimpinya. Semangat yang coba saya tularkan kepada murid – murid kami di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar”.
Kami memiliki sosok hebat di bawah mistar gawang layaknya Peter Schmeichel pada diri Yanto Pandangara. Pria kecil asal desa Lailunggi ini selalu tampil kokoh mengawal gawang dengan kaos andalan bertuliskan “Pemburu Janda Muda”. Hahaha

Yanto
=

Peter Schmeichel

Manchester United pernah memiliki palang pintu kokoh Jaap Stam dari Belanda. Kami juga punya palang pintu kokoh bernama Supriyadi Pura Tanya dari Tawui. 0(^_^)0

Yadi (tengah)
=

Jaap Stam

Sekarang hamper di seluruh dunia memperdebatkan siapa yang terbaik antara Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo. Kami juga punya Ronaldo : Ronaldo Bulu Bili atau biasa dipanggil Ronald. Jika ayah Cristiano Ronaldo mengambil nama mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, lain dengan papa Ronald yang memberi nama putra pertamanya ini dengan mengadopsi nama superstar Brazil Ronaldo Luis Nazario de Lima.

Ronaldo Bulu Bili
=

Cristiano Ronaldo

Masih ingat dengan penentu kemenangan MU atas Bayern Muenchen di final UEFA Champions League 1998/1999? “The Baby Face Assasin” Ole Gunnar Solskjaer, penyerang Norwegia berwajah imut yang sering menjadi penentu kemenangan MU pada beberapa pertandingan penting. Sosok oportunis ini ada pada Umbu Nessy Marumata alias Unes.

Unes
=

Ole Gunnar Solskjaer

Tak ada yang menyangkal bahwa aktor utama kejayaan MU adala Sir Alex Ferguson, pria Skotlandia berwatak keras namun pandai memotivasi para pemainnya. Kesuksesan yang coba saya teladani (dalam konteks seorang pendidik) walaupun pastinya saya belum sehebat Opa Fergie, hehe.

Saya dan permata – permata Tawui
=

Sir Alex dan para superstar MU

Hari – hari indah yang kami lalui bersama di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar” mungkin bukan sesuatu yang special untuk sebagian orang, namun dari situlah saya mencoba menanamkan nilai sportivitas dan jiwa kompetitif dalam diri murid – murid kami, walaupun hanya lewat event – event sederhana seperti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola atau juga kompetisi Class Meeting dan peringatan HUT Kemerdekaan yang sempat kami adakan di sana. Semoga sedikit kenangan ini bermanfaat untuk masa depan anak – anak bangsa di ujung selatan negeri.

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.




[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.