Tak
terasa sudah setahun aku pergi meninggalkan mereka, anak-anakku di tepi selatan
negeriku yang dulu sering dibilang sebagai “Tanah Surga”. Hari kepulangan kami
adalah hari penuh duka di Sumba Timur. Masih teringat jelas tangisan dan
pelukan erat mereka di tubuhku, bahkan mereka sekuat tenaga lari mengejar oto (truk yang dimodifikasi sebagai
sarana transportasi) yang menjemput kami. Sementara Bapak Kepala Sekolah kami
berusaha menyembunyikan diri, menangis di dapur rumahnya.
Sebulan
lalu, aku menitipkan sebuah bola sepak dan sepucuk surat untuk mereka melalui Branita
Destrila Gati, peserta SM-3T UNESA yang kebetulan akan bertugas ditempatku
mengajar dulu, SMP Negeri 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur. Hadiah sederhana
untuk orang-orang spesial yang telah membantuku menemukan gairah menjadi guru,
sekedar memberitahu bahwa mereka selalu di hatiku, sekalipun aku sudah berada
di pulau padat membosankan yang hanya bisa mereka lihat di televisi Bapak
Kepala Desa ketika listrik dari genset
sudah menyala di petang hari.
Dua
minggu lalu, seorang muridku yang bernama Unes, putra Bapak Camat mengirim
sebuah pesan singkat lewat SMS : “Terima
Kasih Pa Guru, kami su terima bola dan surat dari Pa Guru. Kami berjanji akan
segera bersihkan itu lapangan supaya bisa main bola kaki. Tadi Yadi menangis
baca surat Pa Guru. Kami rindu dengan Pa Guru”.
Pesan
yang membuatku terharu, mereka masih “menyimpanku” di hati mereka. Terlalu
banyak kenangan kami di lapangan itu, walaupun hanya berupa semak belukar yang
kami babat selama 4 minggu hingga menjadi lapangan sederhana berukuran 40 x 60
meter.
|
sebelum
|
sesudah
|
Yadi
adalah muridku yang dulu menemaniku memikul bambu dari rumahnya yang berjarak
sekitar 1,5 km dari sekolah. Bambu itulah yang kemudian menjadi gawang lapangan
kami. Sayang sudah hampir setahun ini lapangan itu tidak terurus, hingga
kembali menjadi padang semak belukar tempat puluhan sapi dan kuda berkumpul di
malam hari.
Tak
pernah terbayangkan dalam hidupku menjejakkan kaki di tanah Sumba, padang
rumput luas tempat kuda-kuda gesit berlarian sepanjang hari. Serasa baru
kemarin aku menikmati penerbangan pertamaku dengan Batavia Air, maskapai yang
sekarang tinggal kenangan karena pailit. Aku mendarat di siang yang sangat
terik di bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu tanggal 11 Desember 2011. Sebuah
bandara imut dengan atap seng yang membuat kami berpeluh keringat selama satu
jam lebih saat antri menunggu barang-barang kami dikeluarkan dari bagasi.
Hanya
ada waktu sehari untuk kami beristirahat sebelum kami meneruskan perjalanan
menuju tempat tugas kami masing-masing. Dari daftar penempatan yang diumumkan
panitia, aku tahu bahwa aku ditugaskan di SMP Negeri 1 Pinu Pahar. Dari cerita
sebagian teman asal Sumba yang ku tanya, Pinu Pahar itu jauh sekali, bahkan
kebanyakan dari mereka belum pernah ke sana.
Kami
menuju Pinu Pahar dengan menumpang Oto
Kayu, sebutan untuk truk yang dimodifikasi dengan diberi atap dan bangku
sehingga bisa menjadi sarana transportasi yang mampu mengangkut puluhan orang
dan hewan. Hewan? Ya, kami biasa naik Oto
bersama dengan kuda, sapi, kerbau, babi, kambing, anjing, dan ayam.
Hari
sudah gelap saat kami tiba di desa Tawui, ibu kota kecamatan Pinu Pahar. Desa
yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun. Perjalanan yang cukup berat
dengan menempuh sekitar 210 kilo meter dari Waingapu selama tujuh jam.Itu waktu
paling cepat, karena saat itu kami datang dengan menumpang Oto carteran,sehingga tidak banyak berhenti untuk bongkar muat
barang setiap ada penumpang lain yang hendak turun atau naik. Di kemudian hari,
pernah ku alami nai Oto selama 17 jam
dari Tawui ke Waingapu. Kenapa begitu lama? karena saat itu Oto sudah sangat sarat muatan, sekitar
45 orang ditambah 1 ekor kerbau, ditambah 20 karung beras, ditambah sebelas
ekor babi, ditambah 2 ekor kambing, ditambah 4 ekor anjing dan belasan ekor
ayam yang sampai pingsan (atau mungkin mati) disepanjang jalan. Saat itu, Oto Jagad Raya yang ku tumpangi berjalan
terseok-seok menyusuri jalanan taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan naik turu
perbukitan Tele Tubbies (sebutan yang kami berikan untuk perbukitan Sumba yang
gundul dan hijau seperti di film Tele Tubbies).
Kegelapan
dan kesunyian di Tawui begitu terasa saat matahari terbenam, karena memang
listrik belum masuk ke desa itu. Hanya ada listrik dari genset desa yang menyala mulai pukul 19.00 sampai dengan 23.00
WITA, itu pun jika pasokan solar tidak terhambat. Beruntung sekali, ada sinyal
seluler yang sangat membantu komunikasi kami dengan keluarga dan teman-teman.
|
Esok harinya tiba saat kami diperkenalkan sebagai guru. Animo luar biasa
dari anak-anak membuat kami sangat bersemangat. Ini foto saat kami
diperkenalkan dulu.
|
|
|
Sekolah kami
terletak hanya 150 meter dari bibir pantai. Di belakangnya langsung terhampar
pemandangan indah Samudera Hindia. Ini foto udara sekolah kami.
|
|
Hanya
terdapat 5 guru PNS di sekolah kami, ditambah 3 guru honorer lulusan S1 dan 4
guru honorer yang masih kuliah di Universitas Terbuka jurusan PGSD. Itu pun
tidak semua guru mengajar sebagaimana mestinya. Seringkali mereka tidak
mengajar karena harus mengurus keperluan dinas atau kuliah di kota yang
jaraknya sangat jauh, 210 kilo meter. Belum lagi ketika masa tanam atau panen jambu
mente tiba, beberapa guru tidak masuk karena harus mengerjakan kebunnya.
|
|
Inilah salah satu momen kebersamaan kami bersama rekan – rekan guru
setempat.
|
Murid-murid
kami, kebanyakan tidak memakai alas kaki ataupun membawa tas. Bahkan banyak
yang hanya memakai sepasang seragam selama sepekan. Mereka berasal dari desa
Tawui dan desa-desa Lain di sekitarnya : Wahang, Lailunggi, dan Wanggabewa.
Sebagian murid yang rumahnya jauh tinggal di mess sekolah, menumpang pada guru
yang menjadi induk semang. Sebagian lagi menumpang pada kerabat mereka yang ada
di Tawui. Namun banyak pula anak-anak dari Lailunggi yang berjalan kaki pulang
pergi sekolah, padahal jarak rumah mereka dari sekolah sekitar 6 kilo meter.
Sering kali mereka sampai skolah sudah bermandi keringat.
|
Gedung sekolah kami berdiri tahun 2002, cukup usang dang jarang direhab.
Bahkan bayak pintu dan jendela yang jebol, sehingga hewan ternak (sapi, kuda,
kambing) menjadikan ruang kelas sebagai tempat berteduh bagi mereka, terutama
di musim hujan. Tak jarang, air kencing kuda yang baunya menyengat sering
menggenangi kelas di musim hujan. Seperti ini, hehehe
|
|
Kondisi
tersebut sebenarnya sangat memprihatinkan, sebab di luar dugaan kami sekolah
ini memiliki banyak koleksi buku dan peralatan laboratorium yang sangat
menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah, namun semuanya masih tersegel rapi
sampai kami datang. Mengapa demikian? karena Sumber Daya Manusia Guru di
sekolah kami belum mampu memberdayakan fasilitas tersebut.
Aku
adalah guru pertama yang mengeluarkan peta dan globe dari sarung bungkusnya.
Begitu juga temanku, Dedi Ardiawan (lulusan Pend. Fisika UNNES) yang
mengenalkan mikroskop dan alat ukur kepada para siswa, juga Nor Oktaviyanti
(lulusan Pend. Matematika UNESA) yang menggunakan aneka macam penggaris dan
replika bangun ruang.
Hasilnya?
Mengagumkan! Anak-anak sangat antusias
dengan apa yang kami ajarkan. Mereka saling berebut ketika aku meminta mereka
menggambar peta Indonesia di buku mereka, walaupun hasilnya : Pulau Sumba
paling besar, sedangkan pulau-pulau lain tak jelas bentuknya. Hahaha
Mereka
juga saling berebut giliran mengamati mikroorganisme dengan mikroskop. Walaupun
secara umum anak-anak di sini tidak bisa dibilang pandai, kami berhasil
menemukan beberapa anak istimewa di sini. Sekalipun mereka tidak pernah
mendapat akses informasi pengetahuan yang cukup!
Kuncinya
adalah bagaimana menghadirkan guru dengan kualitas SDM dan semangat pengabdian
yang tinggi. Tak perlu menuntut mereka semua menjadi pandai, tapi bagaimana
menciptakan gairah belajar, maka generasi emas itu akan muncul. Cukup bawa
mereka ke tanah lapang, tunjukkan pada mereka elang-elang yang banyak
berterbangan di langit Tawui untuk mencari mangsa. Tunjukkan bahwa itulah
rantai makanan. Tunjukkan pula kerbau yang asyik merumput tanpa terusik burung
yang mematuk kutu di punggungnya, katakan pada mereka : “Itulah contoh Simbiosis Mutualisme!”. Itu akan lebih efektif
daripada menyuruh mereka mencatat dari buku sampai habis tanpa diskusi, metode
yang sebelumnya lebih akrab dengan mereka.
Anak-anakku,
aku rindu pada kalian. Tuhanku, beri aku kesempatan kembali ke sana, tempat
dimana aku belajar arti kehidupan bersama mereka.
Surabaya,
8 Oktober 2013
ABDUL HAMID[1]
[1] Penulis adalah alumni S1
Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. Pernah
mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal
(SM-3T) angkatan pertama. Saat ini menempuh program Pendidikan Profesi Guru
(PPG) di Universitas Negeri Surabaya



