Rabu, 09 Oktober 2013

Sumba Timur, sebuah kenangan inspiratif tentang semangat dalam bingkai keterbatasan dan ketertinggalan

Tak terasa sudah setahun aku pergi meninggalkan mereka, anak-anakku di tepi selatan negeriku yang dulu sering dibilang sebagai “Tanah Surga”. Hari kepulangan kami adalah hari penuh duka di Sumba Timur. Masih teringat jelas tangisan dan pelukan erat mereka di tubuhku, bahkan mereka sekuat tenaga lari mengejar oto (truk yang dimodifikasi sebagai sarana transportasi) yang menjemput kami. Sementara Bapak Kepala Sekolah kami berusaha menyembunyikan diri, menangis di dapur rumahnya.
Sebulan lalu, aku menitipkan sebuah bola sepak dan sepucuk surat untuk mereka melalui Branita Destrila Gati, peserta SM-3T UNESA yang kebetulan akan bertugas ditempatku mengajar dulu, SMP Negeri 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur. Hadiah sederhana untuk orang-orang spesial yang telah membantuku menemukan gairah menjadi guru, sekedar memberitahu bahwa mereka selalu di hatiku, sekalipun aku sudah berada di pulau padat membosankan yang hanya bisa mereka lihat di televisi Bapak Kepala Desa ketika listrik dari genset sudah menyala di petang hari.
Dua minggu lalu, seorang muridku yang bernama Unes, putra Bapak Camat mengirim sebuah pesan singkat lewat SMS : “Terima Kasih Pa Guru, kami su terima bola dan surat dari Pa Guru. Kami berjanji akan segera bersihkan itu lapangan supaya bisa main bola kaki. Tadi Yadi menangis baca surat Pa Guru. Kami rindu dengan Pa Guru”.
Pesan yang membuatku terharu, mereka masih “menyimpanku” di hati mereka. Terlalu banyak kenangan kami di lapangan itu, walaupun hanya berupa semak belukar yang kami babat selama 4 minggu hingga menjadi lapangan sederhana berukuran 40 x 60 meter.

sebelum

sesudah
Yadi adalah muridku yang dulu menemaniku memikul bambu dari rumahnya yang berjarak sekitar 1,5 km dari sekolah. Bambu itulah yang kemudian menjadi gawang lapangan kami. Sayang sudah hampir setahun ini lapangan itu tidak terurus, hingga kembali menjadi padang semak belukar tempat puluhan sapi dan kuda berkumpul di malam hari.
Tak pernah terbayangkan dalam hidupku menjejakkan kaki di tanah Sumba, padang rumput luas tempat kuda-kuda gesit berlarian sepanjang hari. Serasa baru kemarin aku menikmati penerbangan pertamaku dengan Batavia Air, maskapai yang sekarang tinggal kenangan karena pailit. Aku mendarat di siang yang sangat terik di bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu tanggal 11 Desember 2011. Sebuah bandara imut dengan atap seng yang membuat kami berpeluh keringat selama satu jam lebih saat antri menunggu barang-barang kami dikeluarkan dari bagasi.
Hanya ada waktu sehari untuk kami beristirahat sebelum kami meneruskan perjalanan menuju tempat tugas kami masing-masing. Dari daftar penempatan yang diumumkan panitia, aku tahu bahwa aku ditugaskan di SMP Negeri 1 Pinu Pahar. Dari cerita sebagian teman asal Sumba yang ku tanya, Pinu Pahar itu jauh sekali, bahkan kebanyakan dari mereka belum pernah ke sana.
Kami menuju Pinu Pahar dengan menumpang Oto Kayu, sebutan untuk truk yang dimodifikasi dengan diberi atap dan bangku sehingga bisa menjadi sarana transportasi yang mampu mengangkut puluhan orang dan hewan. Hewan? Ya, kami biasa naik Oto bersama dengan kuda, sapi, kerbau, babi, kambing, anjing, dan ayam.
Hari sudah gelap saat kami tiba di desa Tawui, ibu kota kecamatan Pinu Pahar. Desa yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun. Perjalanan yang cukup berat dengan menempuh sekitar 210 kilo meter dari Waingapu selama tujuh jam.Itu waktu paling cepat, karena saat itu kami datang dengan menumpang Oto carteran,sehingga tidak banyak berhenti untuk bongkar muat barang setiap ada penumpang lain yang hendak turun atau naik. Di kemudian hari, pernah ku alami nai Oto selama 17 jam dari Tawui ke Waingapu. Kenapa begitu lama? karena saat itu Oto sudah sangat sarat muatan, sekitar 45 orang ditambah 1 ekor kerbau, ditambah 20 karung beras, ditambah sebelas ekor babi, ditambah 2 ekor kambing, ditambah 4 ekor anjing dan belasan ekor ayam yang sampai pingsan (atau mungkin mati) disepanjang jalan. Saat itu, Oto Jagad Raya yang ku tumpangi berjalan terseok-seok menyusuri jalanan taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan naik turu perbukitan Tele Tubbies (sebutan yang kami berikan untuk perbukitan Sumba yang gundul dan hijau seperti di film Tele Tubbies).
Kegelapan dan kesunyian di Tawui begitu terasa saat matahari terbenam, karena memang listrik belum masuk ke desa itu. Hanya ada listrik dari genset desa yang menyala mulai pukul 19.00 sampai dengan 23.00 WITA, itu pun jika pasokan solar tidak terhambat. Beruntung sekali, ada sinyal seluler yang sangat membantu komunikasi kami dengan keluarga dan teman-teman.
Esok harinya tiba saat kami diperkenalkan sebagai guru. Animo luar biasa dari anak-anak membuat kami sangat bersemangat. Ini foto saat kami diperkenalkan dulu.



Sekolah kami terletak hanya 150 meter dari bibir pantai. Di belakangnya langsung terhampar pemandangan indah Samudera Hindia. Ini foto udara sekolah kami.


Hanya terdapat 5 guru PNS di sekolah kami, ditambah 3 guru honorer lulusan S1 dan 4 guru honorer yang masih kuliah di Universitas Terbuka jurusan PGSD. Itu pun tidak semua guru mengajar sebagaimana mestinya. Seringkali mereka tidak mengajar karena harus mengurus keperluan dinas atau kuliah di kota yang jaraknya sangat jauh, 210 kilo meter. Belum lagi ketika masa tanam atau panen jambu mente tiba, beberapa guru tidak masuk karena harus mengerjakan kebunnya.

Inilah salah satu momen kebersamaan kami bersama rekan – rekan guru setempat.

Murid-murid kami, kebanyakan tidak memakai alas kaki ataupun membawa tas. Bahkan banyak yang hanya memakai sepasang seragam selama sepekan. Mereka berasal dari desa Tawui dan desa-desa Lain di sekitarnya : Wahang, Lailunggi, dan Wanggabewa. Sebagian murid yang rumahnya jauh tinggal di mess sekolah, menumpang pada guru yang menjadi induk semang. Sebagian lagi menumpang pada kerabat mereka yang ada di Tawui. Namun banyak pula anak-anak dari Lailunggi yang berjalan kaki pulang pergi sekolah, padahal jarak rumah mereka dari sekolah sekitar 6 kilo meter. Sering kali mereka sampai skolah sudah bermandi keringat.
Gedung sekolah kami berdiri tahun 2002, cukup usang dang jarang direhab. Bahkan bayak pintu dan jendela yang jebol, sehingga hewan ternak (sapi, kuda, kambing) menjadikan ruang kelas sebagai tempat berteduh bagi mereka, terutama di musim hujan. Tak jarang, air kencing kuda yang baunya menyengat sering menggenangi kelas di musim hujan. Seperti ini, hehehe


Kondisi tersebut sebenarnya sangat memprihatinkan, sebab di luar dugaan kami sekolah ini memiliki banyak koleksi buku dan peralatan laboratorium yang sangat menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah, namun semuanya masih tersegel rapi sampai kami datang. Mengapa demikian? karena Sumber Daya Manusia Guru di sekolah kami belum mampu memberdayakan fasilitas tersebut.
Aku adalah guru pertama yang mengeluarkan peta dan globe dari sarung bungkusnya. Begitu juga temanku, Dedi Ardiawan (lulusan Pend. Fisika UNNES) yang mengenalkan mikroskop dan alat ukur kepada para siswa, juga Nor Oktaviyanti (lulusan Pend. Matematika UNESA) yang menggunakan aneka macam penggaris dan replika bangun ruang.
Hasilnya? Mengagumkan!  Anak-anak sangat antusias dengan apa yang kami ajarkan. Mereka saling berebut ketika aku meminta mereka menggambar peta Indonesia di buku mereka, walaupun hasilnya : Pulau Sumba paling besar, sedangkan pulau-pulau lain tak jelas bentuknya. Hahaha
Mereka juga saling berebut giliran mengamati mikroorganisme dengan mikroskop. Walaupun secara umum anak-anak di sini tidak bisa dibilang pandai, kami berhasil menemukan beberapa anak istimewa di sini. Sekalipun mereka tidak pernah mendapat akses informasi pengetahuan yang cukup!
Kuncinya adalah bagaimana menghadirkan guru dengan kualitas SDM dan semangat pengabdian yang tinggi. Tak perlu menuntut mereka semua menjadi pandai, tapi bagaimana menciptakan gairah belajar, maka generasi emas itu akan muncul. Cukup bawa mereka ke tanah lapang, tunjukkan pada mereka elang-elang yang banyak berterbangan di langit Tawui untuk mencari mangsa. Tunjukkan bahwa itulah rantai makanan. Tunjukkan pula kerbau yang asyik merumput tanpa terusik burung yang mematuk kutu di punggungnya, katakan pada mereka : “Itulah contoh Simbiosis Mutualisme!”. Itu akan lebih efektif daripada menyuruh mereka mencatat dari buku sampai habis tanpa diskusi, metode yang sebelumnya lebih akrab dengan mereka.
Anak-anakku, aku rindu pada kalian. Tuhanku, beri aku kesempatan kembali ke sana, tempat dimana aku belajar arti kehidupan bersama mereka.

Surabaya, 8 Oktober 2013
ABDUL HAMID[1]




[1] Penulis adalah alumni S1 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. Pernah mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T) angkatan pertama. Saat ini menempuh program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Surabaya