Rabu, 09 Oktober 2013

Sumba Timur, sebuah kenangan inspiratif tentang semangat dalam bingkai keterbatasan dan ketertinggalan

Tak terasa sudah setahun aku pergi meninggalkan mereka, anak-anakku di tepi selatan negeriku yang dulu sering dibilang sebagai “Tanah Surga”. Hari kepulangan kami adalah hari penuh duka di Sumba Timur. Masih teringat jelas tangisan dan pelukan erat mereka di tubuhku, bahkan mereka sekuat tenaga lari mengejar oto (truk yang dimodifikasi sebagai sarana transportasi) yang menjemput kami. Sementara Bapak Kepala Sekolah kami berusaha menyembunyikan diri, menangis di dapur rumahnya.
Sebulan lalu, aku menitipkan sebuah bola sepak dan sepucuk surat untuk mereka melalui Branita Destrila Gati, peserta SM-3T UNESA yang kebetulan akan bertugas ditempatku mengajar dulu, SMP Negeri 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur. Hadiah sederhana untuk orang-orang spesial yang telah membantuku menemukan gairah menjadi guru, sekedar memberitahu bahwa mereka selalu di hatiku, sekalipun aku sudah berada di pulau padat membosankan yang hanya bisa mereka lihat di televisi Bapak Kepala Desa ketika listrik dari genset sudah menyala di petang hari.
Dua minggu lalu, seorang muridku yang bernama Unes, putra Bapak Camat mengirim sebuah pesan singkat lewat SMS : “Terima Kasih Pa Guru, kami su terima bola dan surat dari Pa Guru. Kami berjanji akan segera bersihkan itu lapangan supaya bisa main bola kaki. Tadi Yadi menangis baca surat Pa Guru. Kami rindu dengan Pa Guru”.
Pesan yang membuatku terharu, mereka masih “menyimpanku” di hati mereka. Terlalu banyak kenangan kami di lapangan itu, walaupun hanya berupa semak belukar yang kami babat selama 4 minggu hingga menjadi lapangan sederhana berukuran 40 x 60 meter.

sebelum

sesudah
Yadi adalah muridku yang dulu menemaniku memikul bambu dari rumahnya yang berjarak sekitar 1,5 km dari sekolah. Bambu itulah yang kemudian menjadi gawang lapangan kami. Sayang sudah hampir setahun ini lapangan itu tidak terurus, hingga kembali menjadi padang semak belukar tempat puluhan sapi dan kuda berkumpul di malam hari.
Tak pernah terbayangkan dalam hidupku menjejakkan kaki di tanah Sumba, padang rumput luas tempat kuda-kuda gesit berlarian sepanjang hari. Serasa baru kemarin aku menikmati penerbangan pertamaku dengan Batavia Air, maskapai yang sekarang tinggal kenangan karena pailit. Aku mendarat di siang yang sangat terik di bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu tanggal 11 Desember 2011. Sebuah bandara imut dengan atap seng yang membuat kami berpeluh keringat selama satu jam lebih saat antri menunggu barang-barang kami dikeluarkan dari bagasi.
Hanya ada waktu sehari untuk kami beristirahat sebelum kami meneruskan perjalanan menuju tempat tugas kami masing-masing. Dari daftar penempatan yang diumumkan panitia, aku tahu bahwa aku ditugaskan di SMP Negeri 1 Pinu Pahar. Dari cerita sebagian teman asal Sumba yang ku tanya, Pinu Pahar itu jauh sekali, bahkan kebanyakan dari mereka belum pernah ke sana.
Kami menuju Pinu Pahar dengan menumpang Oto Kayu, sebutan untuk truk yang dimodifikasi dengan diberi atap dan bangku sehingga bisa menjadi sarana transportasi yang mampu mengangkut puluhan orang dan hewan. Hewan? Ya, kami biasa naik Oto bersama dengan kuda, sapi, kerbau, babi, kambing, anjing, dan ayam.
Hari sudah gelap saat kami tiba di desa Tawui, ibu kota kecamatan Pinu Pahar. Desa yang akan menjadi tempat tinggalku selama setahun. Perjalanan yang cukup berat dengan menempuh sekitar 210 kilo meter dari Waingapu selama tujuh jam.Itu waktu paling cepat, karena saat itu kami datang dengan menumpang Oto carteran,sehingga tidak banyak berhenti untuk bongkar muat barang setiap ada penumpang lain yang hendak turun atau naik. Di kemudian hari, pernah ku alami nai Oto selama 17 jam dari Tawui ke Waingapu. Kenapa begitu lama? karena saat itu Oto sudah sangat sarat muatan, sekitar 45 orang ditambah 1 ekor kerbau, ditambah 20 karung beras, ditambah sebelas ekor babi, ditambah 2 ekor kambing, ditambah 4 ekor anjing dan belasan ekor ayam yang sampai pingsan (atau mungkin mati) disepanjang jalan. Saat itu, Oto Jagad Raya yang ku tumpangi berjalan terseok-seok menyusuri jalanan taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan naik turu perbukitan Tele Tubbies (sebutan yang kami berikan untuk perbukitan Sumba yang gundul dan hijau seperti di film Tele Tubbies).
Kegelapan dan kesunyian di Tawui begitu terasa saat matahari terbenam, karena memang listrik belum masuk ke desa itu. Hanya ada listrik dari genset desa yang menyala mulai pukul 19.00 sampai dengan 23.00 WITA, itu pun jika pasokan solar tidak terhambat. Beruntung sekali, ada sinyal seluler yang sangat membantu komunikasi kami dengan keluarga dan teman-teman.
Esok harinya tiba saat kami diperkenalkan sebagai guru. Animo luar biasa dari anak-anak membuat kami sangat bersemangat. Ini foto saat kami diperkenalkan dulu.



Sekolah kami terletak hanya 150 meter dari bibir pantai. Di belakangnya langsung terhampar pemandangan indah Samudera Hindia. Ini foto udara sekolah kami.


Hanya terdapat 5 guru PNS di sekolah kami, ditambah 3 guru honorer lulusan S1 dan 4 guru honorer yang masih kuliah di Universitas Terbuka jurusan PGSD. Itu pun tidak semua guru mengajar sebagaimana mestinya. Seringkali mereka tidak mengajar karena harus mengurus keperluan dinas atau kuliah di kota yang jaraknya sangat jauh, 210 kilo meter. Belum lagi ketika masa tanam atau panen jambu mente tiba, beberapa guru tidak masuk karena harus mengerjakan kebunnya.

Inilah salah satu momen kebersamaan kami bersama rekan – rekan guru setempat.

Murid-murid kami, kebanyakan tidak memakai alas kaki ataupun membawa tas. Bahkan banyak yang hanya memakai sepasang seragam selama sepekan. Mereka berasal dari desa Tawui dan desa-desa Lain di sekitarnya : Wahang, Lailunggi, dan Wanggabewa. Sebagian murid yang rumahnya jauh tinggal di mess sekolah, menumpang pada guru yang menjadi induk semang. Sebagian lagi menumpang pada kerabat mereka yang ada di Tawui. Namun banyak pula anak-anak dari Lailunggi yang berjalan kaki pulang pergi sekolah, padahal jarak rumah mereka dari sekolah sekitar 6 kilo meter. Sering kali mereka sampai skolah sudah bermandi keringat.
Gedung sekolah kami berdiri tahun 2002, cukup usang dang jarang direhab. Bahkan bayak pintu dan jendela yang jebol, sehingga hewan ternak (sapi, kuda, kambing) menjadikan ruang kelas sebagai tempat berteduh bagi mereka, terutama di musim hujan. Tak jarang, air kencing kuda yang baunya menyengat sering menggenangi kelas di musim hujan. Seperti ini, hehehe


Kondisi tersebut sebenarnya sangat memprihatinkan, sebab di luar dugaan kami sekolah ini memiliki banyak koleksi buku dan peralatan laboratorium yang sangat menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah, namun semuanya masih tersegel rapi sampai kami datang. Mengapa demikian? karena Sumber Daya Manusia Guru di sekolah kami belum mampu memberdayakan fasilitas tersebut.
Aku adalah guru pertama yang mengeluarkan peta dan globe dari sarung bungkusnya. Begitu juga temanku, Dedi Ardiawan (lulusan Pend. Fisika UNNES) yang mengenalkan mikroskop dan alat ukur kepada para siswa, juga Nor Oktaviyanti (lulusan Pend. Matematika UNESA) yang menggunakan aneka macam penggaris dan replika bangun ruang.
Hasilnya? Mengagumkan!  Anak-anak sangat antusias dengan apa yang kami ajarkan. Mereka saling berebut ketika aku meminta mereka menggambar peta Indonesia di buku mereka, walaupun hasilnya : Pulau Sumba paling besar, sedangkan pulau-pulau lain tak jelas bentuknya. Hahaha
Mereka juga saling berebut giliran mengamati mikroorganisme dengan mikroskop. Walaupun secara umum anak-anak di sini tidak bisa dibilang pandai, kami berhasil menemukan beberapa anak istimewa di sini. Sekalipun mereka tidak pernah mendapat akses informasi pengetahuan yang cukup!
Kuncinya adalah bagaimana menghadirkan guru dengan kualitas SDM dan semangat pengabdian yang tinggi. Tak perlu menuntut mereka semua menjadi pandai, tapi bagaimana menciptakan gairah belajar, maka generasi emas itu akan muncul. Cukup bawa mereka ke tanah lapang, tunjukkan pada mereka elang-elang yang banyak berterbangan di langit Tawui untuk mencari mangsa. Tunjukkan bahwa itulah rantai makanan. Tunjukkan pula kerbau yang asyik merumput tanpa terusik burung yang mematuk kutu di punggungnya, katakan pada mereka : “Itulah contoh Simbiosis Mutualisme!”. Itu akan lebih efektif daripada menyuruh mereka mencatat dari buku sampai habis tanpa diskusi, metode yang sebelumnya lebih akrab dengan mereka.
Anak-anakku, aku rindu pada kalian. Tuhanku, beri aku kesempatan kembali ke sana, tempat dimana aku belajar arti kehidupan bersama mereka.

Surabaya, 8 Oktober 2013
ABDUL HAMID[1]




[1] Penulis adalah alumni S1 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya. Pernah mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T) angkatan pertama. Saat ini menempuh program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Surabaya

Selasa, 27 November 2012

Tawui Arena, The Theatre of The Dream
oleh : Abdul Hamid[1]


Tawui Arena
=

Old Trafford

Pak Guru, mari kita main bola kaki ... !

Panggilan yang akan selalu saya rindukan. Sebuah bola usang telah menjadi saksi “pergumulan” yang kami lalui bersama di lapangan rumput berselimut debu di belakang sekolah kami.
Lahan kosong penuh semak belukar membentang di halaman belakang sekolah kami yang luas. Rekan-rekan guru setempat mengatakan bahwa lahan itu adalah sebuah lapangan sepakbola yang jarang dirawat sehingga semak belukar tumbuh subur menutup rumput lapangan. Hujan ikut memacu pertumbuhan semak belukar itu dengan cepat. Kami harus menunggu musim hujan selesai untuk mulai membangun kembali lapangan.
Memasuki semester kedua masa tugas, baru lah kami bisa memulai proyek kami. Setiap hari Jum’at sore, sekolah kami mengadakan acara kerja bakti bersama yang dikoordinir oleh OSIS. Kami memanfaatkan waktu tersebut untuk mengarahkan siswa membersihkan semak belukar. Cukup sulit membersihkan tumbuhan-tumbuhan liar yang biasa disebut tumbuhan Kehi dan Tai Belalang dengan akarnya yang besar, belum lagi rumput-rumput liar yang tajamnya bisa dengan mudah mengiris kulit kaki. Butuh empat kali kerja bakti untuk membersihkan lapangan itu.
Adalah Supriyadi Pura Tanya atau karib disapa Yadi, siswa kelas 8A yang dengan suka rela menghibahkan bambu dari kebunnya untuk kami jadikan gawang lapangan kami. Tak akan saya lupakan sore yang melelahkan itu, saat saya dengan Yadi memotong kemudian memikul bambu bersama saya dari rumah Yadi yang terletak di seberang lembah sungai Tawui, kurang lebih 2 km. Bukan jarak yang ringan karena kami berdua harus memikul bambu yang berat.
Dan gawang itu pun berdiri kokoh keesokan paginya. Sejak itu lah hari-hari yang indah penuh keceriaan kami lalui. Dengan sebuah bola futsal abu – abu yang saya beli di Waingapu, lapangan itu seolah tak pernah sepi pada jam istirahat sekolah dan sore hari selepas kegiatan kerja bakti OSIS. Kaki – kaki kecil nan lincah itu tiada henti mengejar bola yang bergulir, menerjang sisa – sisa rumput berduri yang tak mampu melukai kesaktian kaki – kaki mereka. Saya pun tak ketinggalan meramaikan permainan mereka dengan ikut bermain, walaupun hanya menjadi Kiper atau pemain belakang. Itulah cara saya mengikat hati mereka. Peluh keringat kami adalah ungkapan emosi kedekatan kami.
“Pinjam bola kaki Pak Guru”. Permintaan yang selalu mereka katakan kepada saya ketika istirahat sekolah atau jam kosong. Saya selalu mengabulkannya, asal mereka tetap masuk kelas ketika waktunya belajar, daripada mereka meninggalkan sekolah ketika tidak ada kegiatan belajar di kelas.
Saya seorang Milanisti (penggemar AC Milan), tapi saya selalu terkesan dengan gelar “The Theatre of The Dream” yang melekat pada stadion Old Trafford milik Manchester United. Di tempat itulah Milan mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti pada final UEFA Champions League 2002/2003, namun lebih dari itu gelar “The Theatre of The Dream” adalah simbol bahwa ditempat tersebut para bintang berlaga mewujudkan mimpinya. Semangat yang coba saya tularkan kepada murid – murid kami di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar”.
Kami memiliki sosok hebat di bawah mistar gawang layaknya Peter Schmeichel pada diri Yanto Pandangara. Pria kecil asal desa Lailunggi ini selalu tampil kokoh mengawal gawang dengan kaos andalan bertuliskan “Pemburu Janda Muda”. Hahaha

Yanto
=

Peter Schmeichel

Manchester United pernah memiliki palang pintu kokoh Jaap Stam dari Belanda. Kami juga punya palang pintu kokoh bernama Supriyadi Pura Tanya dari Tawui. 0(^_^)0

Yadi (tengah)
=

Jaap Stam

Sekarang hamper di seluruh dunia memperdebatkan siapa yang terbaik antara Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo. Kami juga punya Ronaldo : Ronaldo Bulu Bili atau biasa dipanggil Ronald. Jika ayah Cristiano Ronaldo mengambil nama mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, lain dengan papa Ronald yang memberi nama putra pertamanya ini dengan mengadopsi nama superstar Brazil Ronaldo Luis Nazario de Lima.

Ronaldo Bulu Bili
=

Cristiano Ronaldo

Masih ingat dengan penentu kemenangan MU atas Bayern Muenchen di final UEFA Champions League 1998/1999? “The Baby Face Assasin” Ole Gunnar Solskjaer, penyerang Norwegia berwajah imut yang sering menjadi penentu kemenangan MU pada beberapa pertandingan penting. Sosok oportunis ini ada pada Umbu Nessy Marumata alias Unes.

Unes
=

Ole Gunnar Solskjaer

Tak ada yang menyangkal bahwa aktor utama kejayaan MU adala Sir Alex Ferguson, pria Skotlandia berwatak keras namun pandai memotivasi para pemainnya. Kesuksesan yang coba saya teladani (dalam konteks seorang pendidik) walaupun pastinya saya belum sehebat Opa Fergie, hehe.

Saya dan permata – permata Tawui
=

Sir Alex dan para superstar MU

Hari – hari indah yang kami lalui bersama di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar” mungkin bukan sesuatu yang special untuk sebagian orang, namun dari situlah saya mencoba menanamkan nilai sportivitas dan jiwa kompetitif dalam diri murid – murid kami, walaupun hanya lewat event – event sederhana seperti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola atau juga kompetisi Class Meeting dan peringatan HUT Kemerdekaan yang sempat kami adakan di sana. Semoga sedikit kenangan ini bermanfaat untuk masa depan anak – anak bangsa di ujung selatan negeri.

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.




[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Kamis, 05 Juli 2012

Terima Kasih Pak dan Bu!


Terima Kasih Pak dan Bu!”
oleh : Abdul Hamid[1]

Tujuh bulan sudah kami bertugas di tanah sabana ini. Semakin hari rasa rindu kampung halaman di Jawa semakin timbul di benak kami, namun sebenarnya seiring dengan itu semakin besar pula kesedihan yang terbayang ketika kami nanti harus meninggalkan putra-putri Sumba binaan kami.
Mengingat kembali awal tugas kami, adalah momen yang sangat berkesan dan tak terlupakan, seakan membuka kembali album kenangan. Saat pertama kali memasuki desa Tawui, kami empat belas orang Guru SM-3T (enam orang bertugas di SMPN 1 Pinu Pahar, 8 orang di SMPN SATAP Okatana) sempat menjumpai beberapa murid kami yang sore itu memang banyak berada d depan rumah-rumah mereka yang terletak di tepi jalan trans Sumba Selatan yang banyak berlubang dan penuh dengan debu. Oto yang kami tumpangi berhenti sejenak pada sebuah komplek pemukiman warga di dekat kantor desa Tawui, tepat di depan sebuah tugu peringatan dimulainya proyek jalan trans Selatan Sumba yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada tahun 1988.
Diantara beberapa anak yang menunggu kami di sepanjang jalan, saya menghampiri seorang anak perempuan. Saya bertanya padanya: “Kelas berapa kamu?”. Sambil tersenyum malu-malu (ekspresi khas anak di pelosok Sumba) dia menjawab : “Kelas Delapan”. Saya pun membalas : “Salam kenal ya, besok saya mengajar kamu”. Gadis kecil itu pun berkata : “Iya Pak Guru”, sambil kemudian berlalu pergi. “Pak Guru”, sapaan yang sungguh berkesan karena baru sekali itu saya dipanggil dengan sebutan Pak Guru. Maklum, S.Pd anyar dengan pengalaman minim. Hehehe
Hari beranjak senja dan saya tak sabar menanti hari esok, berjumpa dengan murid-murid pertama saya untuk pertama kalinya, sebuah momen bersejarah bagi seorang guru pemula. Pagi itu para siswa sudah berkumpul dengan aneka rupa seragam, hal yang belum pernah saya jumpai di sekolah mana pun di Indonesia.
Kebanyakan siswa kami hanya memiliki satu stel pakaian seragam putih biru. Sedikit sekali yang memiliki seragam pramuka. Mereka memakai seragam putih biru itu selama enam hari sepekan, kemudian dicuci di hari minggu. Pantas lah jika tampak lusuh. Banyak yang pergi ke sekolah tanpa sepatu, danya memakai sandal jepit. Tas? Siswa yang pergi ke sekolah dengan membawa tas mungkin bisa dihitung dengan jari. Siswa yang selalu datang kesekolah dengan pakaian rapi dan membawa tas hanya tiga orang : Umbu Nessy Marumata (putra Pak Camat), Umbu Ndamu Makatehu, dan Jelita Andu Uma Rara Mata. Itu karena mereka berasal dari keluarga berada dan peduli pendidikan.
Bagaimana pun itu lah mereka, siswa-siswi lugu dengan keceriaan khas anak-anak yang selalu setia menghibur hati saya di kala sepi. Sering kali kami harus belajar di perpustakaan atau parkir sekolah karena kelas penuh dengan kotoran atau air kencing hewam ternak warga yang seolah sudah menjadikan sekolah kami sebagai “rumah kedua” mereka. Dan yang tak mungkin akan saya lupa adalah teriakan serempak yang selalu mereka ucapkan ketika apel pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai : “Selamat Pagi Pak dan Bu!”. Sedangkan ketika apel siang sebelum pulang, mereka berucap : “Terima Kasih Pak dan Bu!”. Selalu dengan nada yang sama, semangat yang sama, dan senyuman yang sama. Full Power banget!
Apa yang saya jumpai mungkin juga dijumpai oleh rekan-rekan peserta SM-3T lain di pelosok Sumba, bahkan ada pula yang lebih parah. Di SMPN SATAP Umandundu, tidak semua siswa memiliki pakaian seragam olahraga. Setiap akan memulai pelajaran olahraga, mereka meminjam pakaian olahraga yang disimpan di sekolah. Setelah pelajaran selesai, seragam tersebut dikembalikan untuk kemudian dipakai kembali keesokan harinya.
Banyak rekan-rekan yang ditugaskan di SMPN SATAP (Satu Atap, berdiri dalam satu area lokasi dengan SD) mengeluhkan ketiadaan buku pelajaran maupun buku bacaan untuk siswa. Masalah ini memang lumrah terjadi pada sekolah-sekolah “muda” yang baru berdiri. Berbanding terbalik dengan sekolah yang lebih “tua” seperti sekolah saya, sebenarnya sudah memiliki buku pelajaran dan buku bacaan yang bagus, bahkan menurut saya peralatan laboratorium IPA dan IPS di sini sangat mengagumkan. Lengkap, bahkan mungkin tidak semua sekolah di Jawa memiliki selengkap ini. Semua peralatan lab tersebut masih terbungkus rapi, karena belum pernah digunakan. Saya adalah orang pertama yang membuka bungkus peta dan menggunakannya untuk mengajar. Demikian juga halnya dengan dua rekan saya, mas Dedi Ardiawan adalah orang pertama yang mengajarkan siswa-siswi kami cara menggunakan mikroskop, sedangkan Nor Oktaviyanti adalah Ibu Guru pertama yang menunjukkan bentuk bangun-bangun ruang. Antusiasme siswa-siswi kami menunjukkan bahwa selama ini mereka hanya dicekoki teori-teori kosong. Belum tahu dimana letak Pulau Sumba dalam wilayah Indonesia, belum tahu tentang adanya mikroorganisme, bahkan paham beda antara bangun datar dan bangun ruang. Menjadi orang pertama yang mengenalkan itu semua kepada mereka adalah hal berkesan dan membanggakan yang mungkin tidak akan saya rasakan jika saya tidak pergi ke sini. Excited!
Sekolah kami sangat jarang (atau bahkan hampir tidak pernah) melaksanakan upacara bendera di hari Senin. Hal yang lumrah untuk sekolah-sekolah di pelosok. Melaksanakan upacara bendera adalah salah satu misi penting kami, tugas berat yang juga diemban oleh seluruh peserta SM-3T di Sumba. Berat?
Hal paling mendasar : menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan nada yang baik dan benar, sangat sulit dilakukan oleh siswa-siswi kami, begitu juga dengan lagu-lagu nasional yang lain. Lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan nada penuh semangat ternyata sulit sekali dilakukan oleh siswa-siswi kami. Alunan nada mereka cenderung melambai-lambai. Berulangkali kami coba benahi tapi sangat sulit untuk mereka memahami apa yang kami ajarkan.
Bulan Maret 2012, kami mendapat kabar gembira dengan datangnya bantuan 1060 stel pakaian SD dan 100 stel pakaian seragam SMP untuk siswa-siswi Sumba Timur, hasil penggalangan bantuan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Surabaya. Walupun tentu belum mencukupi kebutuhan seluruh siswa-siswi kami di sini, bantuan tersebut merupakan berkah luar biasa bagi putra-putri dari tanah sabana ini.
Berkah kembali datang ketika bulan Juni lalu, kami menerima bantuan 10.000 buku bacaan untuk sekolah-sekolah di Sumba Timur, hasil penggalangan yang dilakukan oleh adik-adik kami, pengurus BEMJ Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Bersamaan dengan itu dibagikan pula sumbangan berupa bendera merah putih dan CD berisi kumpulan lagu-lagu nasional untuk seluruh sekolah di Sumba Timur. Sesuatu yang sederhana namun sangat membantu menghadirkan semakin banyak keceriaan bagi anak-anak kami di sini.
Terima kasih Tuhan, jaga lah keceriaan dan semangat anak-anak Sumba ini. Jaga lah rizki untuk orang-orang yang membawa keceriaan bagi mereka.
“Selamat Pagi Pak dan Bu! Terima Kasih Pak dan Bu!” Kalimat sapaan seru yang akan selalu saya rindukan.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.




[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Kamis, 21 Juni 2012

Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit Tawui


Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit Tawui
oleh : Abdul Hamid[1]

Tak pernah saya sangka bahwa dibalik bukit si sebelah utara desa Tawui terdapat keindahan tersembunyi bernama dusun Mondu. Dua hari penuh kesan yang saya lalui dengan SUlistiyo (sesama rekan peserta SM-3T UNESA), Arban (murid kami) dan keluarganya.
Perjalanan dengan jarak hanya 6 km menjadi sangat melelahkan karena medan yang terjal, bahkan lebih berat dari 32 km yang saya lalui sewaktu menuju Ramuk dan Umandundu, walau pun juga dengan jalan kaki. Tiga jam kami butuhkan untuk sampai di dusun yang masih masuk wilayah desa Tawui tersebut. Hari sudah gelap ketika keluarga Arban menyambut kami.
Saya sangat kagum, ternyata murid kami yang paling pandai di kelas 9 itu lahir dari keluarga yang sangat bersahaja. Ayahnya menyandang cacat di tangan kanan karena polio. Dengan memakai tangan kirinya, beliau sangat terampil mengerjakan semua pekerjaan di rumah dan di kebun. Ayah Arban drop out dari kelas 1 SD karena sakit polio yang dideritanya, tetapi beliau bisa membaca, menulis, dan menghitung.
Ibu Arban hanya lulus SD, namun beliau memiliki wawasan dan kepedulian lingkungan yang tinggi sehingga dipercaya menjadi ketua kader Posyandu di dusun yang hampir tak terjamah tersebut. Ibu Arban juga dipercaya membantu persalinan di dusun Mondu. Meskipun sudah ada Perda yang mewajibkan setiap Ibu hamil untuk memeriksakan kandungan dan melahirkan di Bidan atau tenaga medis resmi, hal tersebut tidak dapat diterapkan di wilayah seperti dusun Mondu. Dengan pertimbangan tersebut, Bidan setempat mempercayakan persalinan kepada Ibu Arban apabila Bidan tidak sempat datang.
Kedua orang tua Arban memang tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka bertekad untuk menyekolahkan Arban ke SMK Pertanian di Kupang dan melanjutkan kuliah di sana. Beberapa hari yang lalu (sebelum tulisan ini saya posting), Alpius (teman Arban) menceritakan keharuan ketika Ibu Arban melepas keberangkatan putra keduanya itu ke Kupang untuk mendaftar di SMK Pertanian.
Setiap pagi, ayah Arban bekerja di ladang dengan memakai tangan kirinya, malam harinya Beliau pergi menangkap belut dan udang untuk lauk keluarganya. Kami sempat menikmati belut bakar dan kare udang yang sangat nikmat bersama keluarga ini. Sarapan paling nikmat selama kami berada di Sumba.
Tak kalah serunya, kami menyusuri sungai indah dengan beberapa air terjun menuju kebun pinang keluarga ini di hutan. Walaupun tidak ikut memetik pinang (karena kami tidak bisa memanjat pohon setinggi itu), kami masih sempat membantu mengupas pinang. Keindahan sungai tersebut mungkin seperti Green Canyon di Jawa Barat tapi dalam versi yang lebih mini, cocok untuk rafting dan kanoe.
Warga Mondu biasa menanam pinang, cengkeh, maupun kakao di ladang mereka dalam hutan, sementara padi dan ubi ditanam di kebun sekitar rumah. Sedikit pun mereka tidak pernah pindah dari daerah sunyi dan terpencil tersebut, karena di sana lah mereka bisa hidup sejahtera dengan hasil buminya. Mereka menjual hasil pertaniannya ke Tawui.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.