Kamis, 05 Juli 2012

Terima Kasih Pak dan Bu!


Terima Kasih Pak dan Bu!”
oleh : Abdul Hamid[1]

Tujuh bulan sudah kami bertugas di tanah sabana ini. Semakin hari rasa rindu kampung halaman di Jawa semakin timbul di benak kami, namun sebenarnya seiring dengan itu semakin besar pula kesedihan yang terbayang ketika kami nanti harus meninggalkan putra-putri Sumba binaan kami.
Mengingat kembali awal tugas kami, adalah momen yang sangat berkesan dan tak terlupakan, seakan membuka kembali album kenangan. Saat pertama kali memasuki desa Tawui, kami empat belas orang Guru SM-3T (enam orang bertugas di SMPN 1 Pinu Pahar, 8 orang di SMPN SATAP Okatana) sempat menjumpai beberapa murid kami yang sore itu memang banyak berada d depan rumah-rumah mereka yang terletak di tepi jalan trans Sumba Selatan yang banyak berlubang dan penuh dengan debu. Oto yang kami tumpangi berhenti sejenak pada sebuah komplek pemukiman warga di dekat kantor desa Tawui, tepat di depan sebuah tugu peringatan dimulainya proyek jalan trans Selatan Sumba yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada tahun 1988.
Diantara beberapa anak yang menunggu kami di sepanjang jalan, saya menghampiri seorang anak perempuan. Saya bertanya padanya: “Kelas berapa kamu?”. Sambil tersenyum malu-malu (ekspresi khas anak di pelosok Sumba) dia menjawab : “Kelas Delapan”. Saya pun membalas : “Salam kenal ya, besok saya mengajar kamu”. Gadis kecil itu pun berkata : “Iya Pak Guru”, sambil kemudian berlalu pergi. “Pak Guru”, sapaan yang sungguh berkesan karena baru sekali itu saya dipanggil dengan sebutan Pak Guru. Maklum, S.Pd anyar dengan pengalaman minim. Hehehe
Hari beranjak senja dan saya tak sabar menanti hari esok, berjumpa dengan murid-murid pertama saya untuk pertama kalinya, sebuah momen bersejarah bagi seorang guru pemula. Pagi itu para siswa sudah berkumpul dengan aneka rupa seragam, hal yang belum pernah saya jumpai di sekolah mana pun di Indonesia.
Kebanyakan siswa kami hanya memiliki satu stel pakaian seragam putih biru. Sedikit sekali yang memiliki seragam pramuka. Mereka memakai seragam putih biru itu selama enam hari sepekan, kemudian dicuci di hari minggu. Pantas lah jika tampak lusuh. Banyak yang pergi ke sekolah tanpa sepatu, danya memakai sandal jepit. Tas? Siswa yang pergi ke sekolah dengan membawa tas mungkin bisa dihitung dengan jari. Siswa yang selalu datang kesekolah dengan pakaian rapi dan membawa tas hanya tiga orang : Umbu Nessy Marumata (putra Pak Camat), Umbu Ndamu Makatehu, dan Jelita Andu Uma Rara Mata. Itu karena mereka berasal dari keluarga berada dan peduli pendidikan.
Bagaimana pun itu lah mereka, siswa-siswi lugu dengan keceriaan khas anak-anak yang selalu setia menghibur hati saya di kala sepi. Sering kali kami harus belajar di perpustakaan atau parkir sekolah karena kelas penuh dengan kotoran atau air kencing hewam ternak warga yang seolah sudah menjadikan sekolah kami sebagai “rumah kedua” mereka. Dan yang tak mungkin akan saya lupa adalah teriakan serempak yang selalu mereka ucapkan ketika apel pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai : “Selamat Pagi Pak dan Bu!”. Sedangkan ketika apel siang sebelum pulang, mereka berucap : “Terima Kasih Pak dan Bu!”. Selalu dengan nada yang sama, semangat yang sama, dan senyuman yang sama. Full Power banget!
Apa yang saya jumpai mungkin juga dijumpai oleh rekan-rekan peserta SM-3T lain di pelosok Sumba, bahkan ada pula yang lebih parah. Di SMPN SATAP Umandundu, tidak semua siswa memiliki pakaian seragam olahraga. Setiap akan memulai pelajaran olahraga, mereka meminjam pakaian olahraga yang disimpan di sekolah. Setelah pelajaran selesai, seragam tersebut dikembalikan untuk kemudian dipakai kembali keesokan harinya.
Banyak rekan-rekan yang ditugaskan di SMPN SATAP (Satu Atap, berdiri dalam satu area lokasi dengan SD) mengeluhkan ketiadaan buku pelajaran maupun buku bacaan untuk siswa. Masalah ini memang lumrah terjadi pada sekolah-sekolah “muda” yang baru berdiri. Berbanding terbalik dengan sekolah yang lebih “tua” seperti sekolah saya, sebenarnya sudah memiliki buku pelajaran dan buku bacaan yang bagus, bahkan menurut saya peralatan laboratorium IPA dan IPS di sini sangat mengagumkan. Lengkap, bahkan mungkin tidak semua sekolah di Jawa memiliki selengkap ini. Semua peralatan lab tersebut masih terbungkus rapi, karena belum pernah digunakan. Saya adalah orang pertama yang membuka bungkus peta dan menggunakannya untuk mengajar. Demikian juga halnya dengan dua rekan saya, mas Dedi Ardiawan adalah orang pertama yang mengajarkan siswa-siswi kami cara menggunakan mikroskop, sedangkan Nor Oktaviyanti adalah Ibu Guru pertama yang menunjukkan bentuk bangun-bangun ruang. Antusiasme siswa-siswi kami menunjukkan bahwa selama ini mereka hanya dicekoki teori-teori kosong. Belum tahu dimana letak Pulau Sumba dalam wilayah Indonesia, belum tahu tentang adanya mikroorganisme, bahkan paham beda antara bangun datar dan bangun ruang. Menjadi orang pertama yang mengenalkan itu semua kepada mereka adalah hal berkesan dan membanggakan yang mungkin tidak akan saya rasakan jika saya tidak pergi ke sini. Excited!
Sekolah kami sangat jarang (atau bahkan hampir tidak pernah) melaksanakan upacara bendera di hari Senin. Hal yang lumrah untuk sekolah-sekolah di pelosok. Melaksanakan upacara bendera adalah salah satu misi penting kami, tugas berat yang juga diemban oleh seluruh peserta SM-3T di Sumba. Berat?
Hal paling mendasar : menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan nada yang baik dan benar, sangat sulit dilakukan oleh siswa-siswi kami, begitu juga dengan lagu-lagu nasional yang lain. Lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan nada penuh semangat ternyata sulit sekali dilakukan oleh siswa-siswi kami. Alunan nada mereka cenderung melambai-lambai. Berulangkali kami coba benahi tapi sangat sulit untuk mereka memahami apa yang kami ajarkan.
Bulan Maret 2012, kami mendapat kabar gembira dengan datangnya bantuan 1060 stel pakaian SD dan 100 stel pakaian seragam SMP untuk siswa-siswi Sumba Timur, hasil penggalangan bantuan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Surabaya. Walupun tentu belum mencukupi kebutuhan seluruh siswa-siswi kami di sini, bantuan tersebut merupakan berkah luar biasa bagi putra-putri dari tanah sabana ini.
Berkah kembali datang ketika bulan Juni lalu, kami menerima bantuan 10.000 buku bacaan untuk sekolah-sekolah di Sumba Timur, hasil penggalangan yang dilakukan oleh adik-adik kami, pengurus BEMJ Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Bersamaan dengan itu dibagikan pula sumbangan berupa bendera merah putih dan CD berisi kumpulan lagu-lagu nasional untuk seluruh sekolah di Sumba Timur. Sesuatu yang sederhana namun sangat membantu menghadirkan semakin banyak keceriaan bagi anak-anak kami di sini.
Terima kasih Tuhan, jaga lah keceriaan dan semangat anak-anak Sumba ini. Jaga lah rizki untuk orang-orang yang membawa keceriaan bagi mereka.
“Selamat Pagi Pak dan Bu! Terima Kasih Pak dan Bu!” Kalimat sapaan seru yang akan selalu saya rindukan.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.




[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar