Minggu, 29 April 2012

Pinu Pahar, the Amazing Place with the Amazing People


Pinu Pahar, the Amazing Place with the Amazing People
Oleh : Abdul Hamid[1]

Wahang, Tawui, Lailunggi, Wanggabewa, Ramuk, dan Mahaniwa. Itulah deretan desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur, NTT. Hampir empat bulan bertugas di SMPN 1 Pinu Pahar, saya baru berkesempatan mengunjungi Tawui dan Wahang. Telah sejak lama timbul hasrat dalam benak saya untuk menjelajahi seluruh desa di wilayah Pinu Pahar, namun saya belum menemukan waktu yang tepat, hingga akhirnya libur Paskah tiba.
Banyak cerita unik serba kebetulan dalam petualangan saya kali ini. Dari 6 orang yang bertugas di SMPN 1 Pinu Pahar, masing-masing memiliki rencana liburan. Tiga orang Ibu Guru : Machda, Okta, dan Ulfa telah menyusun rencana matang untuk turun ke Waingapu. Mas Dedi dan Sulistiyo berencana pesiar ke pantai Tarimbang, resort indah di kecamatan Tabundung. Saya sebenarnya sangat tertarik dengan Tarimbang, tapi dua lembar “Soekarno-Hatta” yang tersisa di dompet saya memaksa saya untuk hemat, sebab yang ada dalam pikiran saya jika saya ikut ke Tarimbang maka kami harus menyewa tempat menginap. Saya pun menegaskan obsesi lama saya: Ramuk dan Mahaniwa.
Memang hanya terdapat enam desa di Kecamatan Pinu Pahar, namun keenam desa tersebut masing-masing memiliki wilayah yang sangat luas. Satu desa mungkin luasnya setara dengan luas wilayah satu kecamatan di Jawa. Medan yang berat membuat jarak antar desa sangat berat ditempuh. Ada beberapa bukit yang harus didaki dan belasan sungai yang harus diseberangi. Menurut Guru SD Masehi Lailunggi yang pernah naik Oto bersama saya, Jarak dari Wahang ke Tawui 10 km, Tawui-Lailunggi 6 km, Lailunggi-Wanggabewa 8 km, Wanggabewa-Ramuk 14 km, sedangkan Ramuk-Mahaniwa 6 km. Jadi jika saya akan menempuh sekitar 28 km ke Ramuk atau 34 km ke Mahaniwa dengan berjalan kaki. Luar biasa, deretan angka jarak tersebut membuat saya semakin penasaran dan bergairah untuk mencapainya!
Awalnya banyak yang sangsi dengan kesungguhan saya karena saya ingin pergi ke Ramuk dan Mahaniwa sendirian, sementara saya belum mengenal medan dan rute yang akan saya tempuh. Bapak Kepala Sekolah dan para Guru sampai memanggil saya secara khusus untuk menanyakan kesungguhan saya. “Guru yakin mau pigi ke Ramuk?”, tanya Bapak Kepsek kepada saya. Saya menjawab : “Insya Allah, Saya yakin”. Bapak Kepsek berusaha membujuk saya untuk mengurungkan niat : “Bukannya kita meremehkan Guru, tapi Guru kan belum tahu medan di sana. Kita yang asli sini saja pakai motor mau jatuh itu ke jurang. Apalagi Guru sendiri dan tidak tahu jalan”. Saya pun berusaha meyakinkan mereka : “Saya biasa jalan Bapak, sudah pernah tempuh Mojokerto-Surabaya sekitar 80 km. Lagi pula nanti kan bisa tanya orang di jalan to. Besok saya berangkat pagi dari sini supaya tidak terlalu malam sampai Ramuk”. Bapak Kepsek belum menyerah : “Tapi Guru, kalau di Jawa kan medan datar kho, kalau dari sini ke Ramuk itu jalan banyak mendaki sudah. Memang di sepanjang jalan ada perkampungan dan barangkali Guru bias tanya orang di situ, tapi ada juga banyak tempat yang tidak ada rumah orang dan jalan banyak bercabang, salah-salah Guru bias tersesat”. Walau pun sedikit ciut nyali mendengar kalimat terakhir dari Bapak Kepsek, saya tetap berusaha meneguhkan niat : “Saya tetap berangkat Bapak”. Bapak Kepsek pun akhirnya pasrah : “Baiklah Guru, tapi sebaiknya ajak anak murid kita yang rumahnya Wanggabewa, karena mereka tahu jalan”. Saya pun menyanggupi : “Iya Bapak”.
Saat itu hanya Yohanes, atau biasa dipanggil Hanis, satu-satunya siswa dari Wanggabewa yang masih tinggal di sekolah. Saya segera menemuinya untuk memintanya menemani saya besok, setidaknya sampai perbatasan antara Wanggabewa dan Ramuk. Hanis bersedia menemani saya, karena dia juga berencana pulang ke Wanggabewa. Saya segera mengemas barang untuk perjalanan esok.
Keesokan paginya saya harus menunggu Hanis bangun, jadi kami baru berangkat sekitar jam 9. Tanpa saya duga, Hanis ingin ikut saya ke Ramuk. Kebetulan sekali, jadi ada pemandu untuk saya. Sebelum kami berangkat, saya terlebih dahulu menghubungi Kiki (Riski Sugiarto, peserta SM-3T UNESA yang bertugas di SDN Ramuk) untuk mengabarkan bahwa saya berangkat. Ternyata di Ramuk sudah ada Kiki bersama dengan Anis dan Ifti (keduanya peserta SM-3T UNESA yang bertugas di SMPN SATAP Umandundu, desa Mahaniwa) yang menunggu saya.
Sepanjang perjalanan, saya banyak ngobrol dengan Hanis. Ternyata Ayah Hanis berasal dari Ramuk, jadi dia tahu jalan menuju Ramuk dengan baik. Hanis adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai petani di Wanggabewa. Ibu Hanis meninggal dunia saat melahirkan adiknya yang bungsu, ketika Hanis masih duduk di kelas 2 SD. Hanis sekarang berumur 16 tahun, tapi masih duduk di kelas 8. Ini karena ketika kelas 3 SD Hanis sempat drop out, baru kemudian melanjutkan sekolah 2 tahun kemudian. Keluar-masuk sekolah adalah hal yang biasa terjadi di sini, selain karena faktor jauhnya jarak antara sekolah dan rumah, juga karena kurangnya perhatian orang tua. Banyak siswa kami, terutama yang tinggal di Lailunggi, setiap hari berjalan kaki 12 km pulang pergi menuju sekolah, padahal mereka tidak sempat sarapan pagi.
Hanis tinggal menumpang di mess Bapak Wakasek. Setiap hari dia membantu mencari air, mencuci pakaian, dan memasak untuk Bapak Wakasek. Dia termasuk beruntung, karena Bapak Wakasek sering memberinya uang untuk belanja lauk dan sayur, sementara beberapa kawannya yang juga tinggal di mess (tapi sendiri, tidak menumpang Guru) harus memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya. Sering saya lihat, tiga orang anak memasak sebungkus mie instan dengan kuah banyak dengan ditambahi garam. Mereka bilang : “Biar bias cukup untuk bertiga Pak Guru”. Beberapa kali kami memberi mereka mie instan atau pun kue untuk sekedar berbagi kebahagiaan. Mereka yang sangat polos memang butuh perhatian, ini yang mungkin kurang mereka dapatkan di rumah.
Saya terkesan dengan ketulusan Hanis yang bersedia memandu perjalanan saya menuju Ramuk dan Mahaniwa. Saya berjanji kepadanya akan memberikan sepatu Spotec (jatah untuk peserta SM-3T) yang saya miliki kepadanya ketika saya kembali ke Jawa. Hanis sangat gembira. Sepanjang jalan kami banyak bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Seperti halnya siswa saya yang lain, Hanis sangat tertarik dengan kehidupan “Surga” (dalam bayangan mereka) yang selama ini saya alami di Jawa, walaupun pada kenyataannya hidup di Jawa tak semudah dan seindah bayangan mereka.
Sepanjang jalan dari Tawui sampai Lailunggi masih relatif ringan ditempuh. Memasuki Wanggabewa, kami harus langgar (menyeberangi) sungai besar selebar sekitar 20 m. Ketika kemarau, ketinggian air setinggi lutut dan arusnya sudah  cukup merepotkan orang yang melintas. Ketika musim hujan, ketinggian air bias mencapai leher atau bahkan lebih. Beberapa kali sungai tersebut menelan korban jiwa. Beberapa orang yang kami sapa di jalan sempat bertanya kepada saya : “Adam au kemana Pak Guru?”. Saya menjawab : “Pigi ke Ramuk!”. Kebanyakan dari mereka terkejut dan bereaksi : “Eh bukan main itu jauhnya Pak Guru”. Saya pun hanya membalas dengan senyuman sambil terus berlalu.
Sepanjang jalan di Wanggabewa kami lalui dengan ringan karena medan jalan masih rata dan di sepanjang tepi jalan banyak pepohonan rindang yang meneduhkan perjalanan kami. Kami temukan pula beberapa pohon besar yang tumbang karena angina puting beliung akhir Maret lalu. Ada pohon besar yang berdiameter sekitar 5 meter tumbaang ditepi jalan. Warga setempat tidak memotongnya karena pohon tersebut dikeramatkan.
Perjalanan yang cukup melelahkan membuat kami sempat dua kali berhenti untuk melepas lelah sambil makan kue dan minum air. Ketika memasuki wilayah Kamaru, kami melintasi kerumunan orang yang sedang memanen padi di depan rumah. Masyarakat pelosok Sumba memang masih bertani sederhana dengan menanam padi dan jagung di halaman rumah. Mereka terbiasa menyanyi dan menari ketika memanen padi. Kegiatan pertanian dilakukan secara gotong royong oleh pria maupun wanita dari satu keluarga yang sama. Saya tertarik untuk berhenti sejenak dan menengok aktivitas mereka dari pintu pagar. Mengetahui kehadiran saya, mereka malah menghentikan aktivitasnya dan memandang saya seperti orang asing yang aneh sambil mereka tersenyum. Cukup lama adegan konyol tersebut terjadi, hingga kemudian seorang pemuda diantara mereka yang bisa berbahasa Indonesia (karena orang-orang sepuh di sini jarang bisa berbahasa Indonesia) menghampiri saya. Saya segera menjelaskan bahwa saya hanya ingin menengok sebentar, tanpa bermaksud mengganggu aktivitas mereka. Mereka mempersilahkan saya untuk singgah, tapi saya memutuskan untuk pamit meneruskan perjalanan karena takut kemalaman.
Perjalanan berlanjut dengan medan yang semakin terasa berat menanjak. Memasuki kawasan hutan, gerimis hujan mulai terasa. Untung saya membawa jas hujan. Jas hujan tersebut kami gunakan untuk melindungi kami dari hujan yang semakin deras.  Jalan yang semakin licin membuat kami hanya bisa berjalan nggeremet perlahan. Kondisi tersebut terjadi selama dua jam dan benar-benar menguji kami. Dalam hati saya bersyukur, mengingat sebelumnya kami para peserta SM-3T UNESA telah melalui pelatihan ketahanmalangan dibawah bimbingan pak Tutur Jatmiko selama kegiatan pra-kondisi SM-3T UNESA. Materi tersebut jelas sangat bermanfaat dalam kondisi seperti ini.
Perjalanan semakin melelahkan, nafas mulai tersengal, dan perut mulai lapar, tapi kami mencoba bertahan sekuat hati, karena tidak mungkin berhenti dalam situasi ini. Hujan mulai reda dan terlihat SDN Ramuk di tepi bukit seberang. Semangat kembali menyala!
Satu jam kami berjalan ternyata belum juga sampai tujuan. Tidak ada seorang pun yang kami temui di sepanjang jalan. Saya sangat bersyukur Hanis mau menemani saya dalam liburan gila ini. Akhirnya kami mulai memasuki perkampungan. Sinyal mulai muncul, dan ternyata SDN Ramuk sudah di depan mata!
Seorang anak berdiri di depan sekolah. Saya pun menghela nafas, kemudian bertanya : “Ada Ibu Kiki?”. Gadis kecil itu menjawab : “Ada”, sambil menunjuk ke aula tempat Kiki tinggal. Kami berjalan menuju aula. Saya mengetuk pintu sambil mengucap salam : “Assalamu’alaikum…”. Dari dalam terdengar jawaban serentak : “Wa;alaikum salam…”. Kiki membuka pintu. Begitu melihat wajah saya, tiga orang Charlies Angels (Kiki, Anis, Ifti) serempak berteriak histeris bagai menyambut artis : “Hamid … !!!”. Hahaha.
Tepat pukul 4 sore, atau setelah menempuh 7 jam perjalanan, kami sampai di Ramuk. Saya duduk bersama Hanis sambil melepas lelah. Sementara Charlies Angels memasak untuk kami. Saya masih sempat menikmati alpukat Ramuk yang saking besarnya bisa dipakai untuk ganjal pintu, hahaha.
Malam itu kami menginap di Ramuk. Melewati malam dengan bermain poker bersama pemuda-pemuda setempat. Yadi, salah seorang diantara mereka, mengajak kami untuk ikut pesta panen di ladang keluarganya esok hari. Karena saya sangat saying dilewatkan, kami pun setuju ikut.
Kamis pagi seusai sarapan, Yadi sudah menjemput kami utntuk berangkat bersama ke ladang keluarganya. Ternyata ladang keluarga Yadi sangat jauh. Letaknya di lembah curam. Cukup melelahkan menuruni lembah curam seperti itu. Kami pun sampai di ladang keluarga Yadi. Setibanya di sana, saya diminta untuk menyembelih ayam. Kami sempat ikut panen sebentar, tapi karena tidak kuat panas dan gatal (penyakit rutin peserta SM-3T di Sumba Timur, hahaha), akhirnya kami istirahat di rumah kebun milik keluarga Yadi. Hanya Ifti seorang yang tetap melanjutkan panen bersama Yadi dan keluarganya. Ifti memang wanita super. Kawan seangkatan saya sewaktu kuliah di Jurusan Pendidikan Sejarah UNESA ini memiliki fisik dan daya tahan tubuh yang bagus, juga aktif di Pramuka. Ketika Yadi dan keluarganya beristirahat pun, Ifti masih kuat lanjut. Warga setempat mengagumi wanita super ini. Cermin referensi buat anda para calon peserta SM-3T, hehe
Warga Ramuk bertani dengan pola yang lebih unik dan sederhana. Mereka menanam padi di lereng yang curam. Mereka hanya menanam padi pada musim hujan, karena sawahnya bukan sawah irigasi. Setelah panen, mereka membiarkan begitu saja ladangnya, tanpa mengolah lagi tanah dan menanam bibit baru. Mereka tidak menggunakan pupuk kimia, melainkan hanya memakai kotoran ternak. Di tengah ladang, terdapat rumah kebun. Rumah kebun adalah rumah yang dibangun di tengah ladang untuk ditinggali petani dan keluarganya ketika mereka menggarap lahan. Di situ ada juga ternak-ternak mereka. Walau pun sangat sederhana (mungkin sebagian orang menganggap mereka “primitif”), mereka sangat nyaman dengan pola hidup yang mereka jalani.
Pada beberapa daerah datar, petani sudah mengolah tanah, namun jangan bayangkan mereka mengolah tanah dengan teknologi yang sama dengan petani di Jawa. Mereka tidak memakai alat bajak traktor ataupun alat bajak tradisional yang ditarik oleh dua ekor kerbau Kerbau. Mereka menggunakan sekitar sepuluh ekor kerbau yang digiring untuk membajak (mungkin lebih tepatnya “menginjak-injak”) tanah ladang mereka. Itu lah cara mereka mengolah tanah, hahaha.
Setelah panen usai, acara pesta dimulai. Kami makan dengan porsi yang LUARRRRRRRRR BIASA! Setiap orang diberi nasi merah dengan porsi satu baskom kecil yang menggunung, dengan lauk 4 potong ayam kuah (mungkin maksudnya opor). Saya menyebutnya Nasi Wanggameti, karena porsi besar tersebut menyerupai bentuk Gunung Wanggameti (gunung tertinggi di Sumba Timur). Sekuat-kuatnya saya makan, hanya kuat menghabiskan separo, itu pun dengan waktu yang lama. Sementara warga setempat dapat menghabiskannya dalam waktu yang singkat. Sekali lagi, LUARRRRRR BIASA!
Aktivitas berlanjut pada acara inti, injak padi. Mereka merontokkan padi dengan cara menginjak padi yang dihamparkan pada selembar alas lebar, sambil bernyanyi dalam bahasa setempat. Semua menari dengan riang gembira. Dalam pikiran saya, bagaimana mungkin pertanian sederhana seperti ini bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga besar ini, sementara porsi makan mereka sebanyak itu. Sekali panen mungkin hasilnya tidak sampai 2 kuintal, padahal mereka hanya sekali tanam dalam setahun, pada musim penghujan.
Sambil melihat injak padi, kami menikmati kelapa muda segar. Ramuk dan Mahaniwa memang sangat subur. Banyak hasil kebun seperti kelapa, alpukat, mangga, dan jeruk. Hawanya juga dingin, seperti di Batu.
Hari beranjak sore. Kami memutuskan untuk pamit pulang karena harus ke Mahaniwa. Kami melanjutkan perjalanan ke Mahaniwa, menuju tempat bertugas kawan-kawan peserta SM-3T di SMPN SATAP Umandundu. Masih dengan medan yang sama beratnya, kami butuh waktu 90 menit untuk sampai di Mahaniwa ketika hari sudah petang. Sesampainya di sana, kami disambut oleh : Mukhamad Nurhuda (Huda), Nova Dwi Dewantoro (Nova), Ni’matus Solihah (Nikmah), dan Putri Sari Hati (Ciput). Rasa lelah hilang seakan hilang ketika berjumpa kawan-kawan seperjuangan. Kami pun saling bertukar banyak cerita, sambil unu waibana (minum kopi). Ternyata Huda dan Nova juga baru saja pulang dari acara pesta panen di Enehau, salah satu dusun di Mahaniwa. Dua kawan saya ini sangat popular di kalangan warga setempat, karena mereka pandai bersosialisasi. Peserta SM-3T di daerah terpencil seperti kami memang seperti selebritis, dimana pun selalu jadi pusat perhatian. Hahaha
Suatu ketika Nova menolong warga setempat yang kakinya terkilir. Sebagai sarjana pendidikan olahraga yang sempat mendapatkan mata kuliah massase, dia cukup tanggap dan terampil menangani sang pasien dadakan. Sejak itu lah dia sering diundang untuk mengurut warga setempat. Ini lah bukti bahwa dimana pun kita berada, selamanya ilmu tetap bermanfaat. BRAVO FIK UNESA!
Ketika kami asyik mengobrol, datang Pak Adi. Beliau adalah Guru SMPN SATAP Umandundu yang tinggal di Ramuk. Pak Adi mengundang kami untuk menghadiri pesta ulang tahunnya pada hari Sabtu malam, sekaligus meminta Nova untuk menyembelih kambing. Wah, ternyata saya memang datang pada waktu yang tepat. Sampai di sini banyak pesta, hahaha. Niat saya untuk pulang ke Tawui hari Jum’at pun saya tunda jadi hari minggu, eman pestanya dong. Lagi pula Nova, Huda, Ifti dan Ciput berniat turut ke Tawui, jadi sekalian saja jalan bersama hari minggu.
Esok siangnya kami kedatangan tamu lagi. Mas Kamto dan Mas Panca “Sang Penunggu Pulau Salura” (karena dia satu-satunya peserta SM-3T yang ditempatkan di Pulau Salura) datang berboncengan sepeda motor dari Nggongi, tempat Mas Kamto bertugas. Mereka membawa oleh-oleh ikan asap besar dari Karera. Benar-benar liburan penuh pesta.
Sambil melepas lelah, kami kembali saling bertukar cerita. Ternyata Mas Kamto baru saja berlibur ke Pulau Salura dan Pulau Mengkudu bersama dengan Yopi Yudhista, Anifatul Maghfiroh, dan Widya Wisata. Mereka sangat beruntung bias menumpang kapal milik bule Italia yang bermaksud melakukan survey potensi wisata di kedua pulau indah tersebut. Mas Kamto dan Mas Panca bertutur sambil menunjukkan foto-foto mereka. Membuat kami semakin iri untuk juga pergi ke sana. Keindahan Pulau Salura dan Mengkudu terlalu sukar dijelaskan dengan kata-kata. Jika anda ingin mengetahui keindahan dua pulau kecil di sebelah selatan Pulau Sumba itu, coba cari di Google Map, itu akan sedikit membantu walaupun anda akan semakin terobsesi untuk pergi ke sana.
Kami para peserta SM-3T yang ditempatkan di daerah-daerah yang benar-benar terpencil, merasakan suka cita yang luar biasa ketika bisa bertemu dengan saudara senasib sepenanggungan seperti ini. Dengan diterangi cahaya bulan purnama yang indah di langit Mahaniwa, kami saling bertutur suka dan duka. Kunang-kunang dan jangkrik adalah hiburan pengiring kami. Hari semakin malam dan kami pun beristirahat dengan sleeping bed, peralatan tidur yang wajib dipakai di sini untuk sedikit mengurangi rasa dingin.
Sabtu pagi Nova sudah sibuk mengasah parang andalannya yang biasa dipakai untuk menyembelih hewan. Menurut cerita Nova, parang tersebut adalah pemberian pak Melky, guru setempat. Pak Melky memberikan parang istimewa dengan gagang dari tanduk kerbau tersebut sebagai wujud suka citanya karena Nova memberikan kaos bergambar Reog Ponorogo kepadanya. Sungguh beruntung kawan saya asal Ponorogo ini.
Hari beranjak siang dan kami segera bergegas turun ke Ramuk untuk menghadiri pesta ulang tahun ke 25 Pak Adi. Nova dan Huda berangkat duluan karena harus menyembelih kambing. Selepas maghrib, kami menuju rumah Pak Adi. Kami segera mengolah daging kambing yang sudah dipotong dengan membakarnya dalam tusukan sate. Aroma yang luar biasa menggugah selera dalam pelukan hawa dingin di Ramuk. Nyuuuuzz
Pukul 9 malam, pesta diawali dengan do’a yang dipimpin oleh pendeta setempat, dilanjutkan dengan makan bersama. Pesta ulang tahun ini setara dengan resepsi pernikahan di Jawa. Para pejabat desa diundang. Seusai makan, para hadirin menghabiskan waktu dengan bermain poker, permainan paling merakyat di Sumba. Yang sedang kalah biasa nya telinganya diberi gantungan tali dan batu, tidak peduli apakah dia rakyat biasa atau Guru bahkan Kepala Desa, sakitnya awet deh. Hahaha
Malam semakin larut dan kami pun pamit pulang karena sudah mengantuk. Tubuh ini perlu beristirahat sebelum menempuh jarak puluhan kilometer esok hari. Kami berjalan menuju aula tempat tinggal kiki yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Pak Adi. Tubuh-tubuh lelah dengan cepat terbaring.
Esok harinya, seusai sarapan pagi, kami memulai perjalanan menuju Tawui dengan jumlah 6 anggota rombongan : Saya, Hanis, Nova, Ifti, Ciput, Yani (murid SMPN SATAP Umandundu) dan Pak Yusuf (kakak Yani). Yani dan Pak Yusuf kebetulan bermaksud mengunjungi kakaknya yang tinggal di Tawui.
Ifti dan Ciput, dua kawan akrab saya sejak masa kuliah ini memang LUARRR BIASA! Mereka punya kekuatan fisik diatas rata-rata wanita pada umumnya. Ifti selalu berjalan paling di depan, sementara Ciput justru membawa tas ransel besar yang biasa dia pakai mendaki gunung. Mereka kebetulan memang punya latar belakang pecinta alam yang kuat. Selama kuliah, Ifti aktif di Pramuka, sedangkan Ciput aktif di Geopala (Geografi Pecinta Alam, perkumpulan pecinta alam mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi UNESA). Inilah bukti nyata bahwa aktivitas pengembangan minat dan organisasi kita selama kuliah sangat dibutuhkan ketika kita sudah terjun di masyarakat. Entah kebetulan atau bagaimana, menurut saya peserta SM-3T UNESA yang ditempatkan di daerah-daerah sulit seperti kami memiliki ketahanan fisik yang sesuai dengan karakteristik wilayah penempatan. Semoga saja untuk selanjutnya juga demikian.
Sepanjang jalan kami lalui dengan riang, karena banyaknya anggota rombongan sehingga kami bisa menikmati perjalanan sambil bercerita dan tertawa riang. Tidak lupa foto-foto dimana saja, hahaha.
Sekitar dua jam kami berjalan, Kami melihat pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Ketika sedang jalan menurun, tampak di depan mata kami pemandangan lautan diantara dua bukit di depan kami.  Di tengah lautan tersebut, Pulau Salura yang sangat indah tampak jelas, sementara Pulau Mengkudu yang tertutup oleh bukit juga tampak tak kalah indahnya. Subhanallah, saya merasa beruntung Allah mengirim kami di tempat sulit seperti ini dimana kami bisa melihat dan mensyukuri kebesarannya.
Perjalanan berlanjut dengan melalui beberapa sungai yang mengalir indah. Kami tanpa ragu meminum air sungai ketika haus karena memang air sungai di sini layak minum. Ketika beberapa kali memasuki area perkampungan, kami selalu menjadi pusat perhatian warga, terutama Putri yang tetap kuat berjalan dengan tas ransel besarnya. Kami menyapa mereka dan mereka membalas dengan senyum ramah. Bahkan ketika sampai di Wanggabewa dan kami kehabisan air minum, kami diberi kelapa muda oleh warga setempat. Aseeek, pesta waikokur (air kelapa).
Kami sempat dua kali istirahat di tepi sungai besar untuk melepas lelah sambil makan siang dan sholat. Kaki mulai terasa berat tapi langkah harus tetap berlanjut. Dengan sisa tenaga yang ada, kami melanjutkan perjalanan hingga kemudian sampai di Tawui ketika hari sudah gelap, sekitar jam 7 malam.
Mas Dedi dan Sulis menyambut kami bersama dengan Nofan dan Budi, dua rekan peserta SM-3T yang ditugaskan di Lewa. Mereka ikut ke Tawui bersama dengan Mas Dedi dan Sulis sepulang dari Tarimbang. Malam itu kami banyak bercerita tentang pengalaman liburan masing-masing yang sangat seru. Pukul 2 dini hari, Nofan dan Budi kembali ke Lewa dengan naik Oto. Mereka kurang beruntung karena tidak sempat merasakan kenikmatan ikan dari Tawui sebab laut sedang pasang, namun setidaknya mereka sangat puas menikmati indahnya Tawui.
Ternyata kawan-kawan dari Umandundu datang pada saat yang tepat. Pagi esoknya, kami berhasil mendapatkan 5 ekor ikan kakap merah sebesar betis dari pedagang langganan kami. Harganya Cuma Rp. 50.000,- saja. Hari itu kami isi dengan piknik sambil bakar ikan di tepi pantai sampai sore. MANTAAAAAP!
Sayang sekali Ifti dan Ciput tidak bisa lebih lama di Tawui. Keesokan harinya mereka langsung turun ke Waingapu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, sedangkan Nova dan Huda masih tinggal di Tawui. Mereka sempat memesan ikan kakap asap sebagai buah tangan untuk Kiki, Nikmah, dan Anis. Hari Rabu pagi, Nova dan Huda pulang ke Umandundu. Kami berpisah dengan meninggalkan banyak kisah tak terlupakan sepanjang liburan.
Ya Allah, terima kasih telah mengirim kami ke tempat seperti ini. Maafkan kami yang mungkin banyak mengeluh oleh cobaan dari-Mu. Kini kami sadar bahwa inilah cara-Mu menunjukkan kebesaran-Mu kepada kami, para hamba-hambaMu yang terkadang lupa bersyukur pada-Mu. Semoga kami masih berkesempatan merasakan dan mensyukuri keagunganMu sepanjang sisa hidup kami, agar kami menjadi insane yang bermanfaat. Amin.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.