Pinu Pahar, the Amazing Place with the Amazing People
Oleh : Abdul Hamid[1]
Wahang, Tawui, Lailunggi,
Wanggabewa, Ramuk, dan Mahaniwa. Itulah deretan desa yang berada dalam wilayah
Kecamatan Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur, NTT. Hampir empat bulan bertugas di
SMPN 1 Pinu Pahar, saya baru berkesempatan mengunjungi Tawui dan Wahang. Telah
sejak lama timbul hasrat dalam benak saya untuk menjelajahi seluruh desa di
wilayah Pinu Pahar, namun saya belum menemukan waktu yang tepat, hingga
akhirnya libur Paskah tiba.
Banyak cerita unik serba
kebetulan dalam petualangan saya kali ini. Dari 6 orang yang bertugas di SMPN 1
Pinu Pahar, masing-masing memiliki rencana liburan. Tiga orang Ibu Guru :
Machda, Okta, dan Ulfa telah menyusun rencana matang untuk turun ke Waingapu.
Mas Dedi dan Sulistiyo berencana pesiar ke pantai Tarimbang, resort indah di
kecamatan Tabundung. Saya sebenarnya sangat tertarik dengan Tarimbang, tapi dua
lembar “Soekarno-Hatta” yang tersisa di dompet saya memaksa saya untuk hemat,
sebab yang ada dalam pikiran saya jika saya ikut ke Tarimbang maka kami harus
menyewa tempat menginap. Saya pun menegaskan obsesi lama saya: Ramuk dan
Mahaniwa.
Memang hanya terdapat enam desa
di Kecamatan Pinu Pahar, namun keenam desa tersebut masing-masing memiliki
wilayah yang sangat luas. Satu desa mungkin luasnya setara dengan luas wilayah
satu kecamatan di Jawa. Medan
yang berat membuat jarak antar desa sangat berat ditempuh. Ada beberapa bukit yang harus didaki dan
belasan sungai yang harus diseberangi. Menurut Guru SD Masehi Lailunggi yang
pernah naik Oto bersama saya, Jarak
dari Wahang ke Tawui 10 km, Tawui-Lailunggi 6 km, Lailunggi-Wanggabewa 8 km,
Wanggabewa-Ramuk 14 km, sedangkan Ramuk-Mahaniwa 6 km. Jadi jika saya akan
menempuh sekitar 28 km ke Ramuk atau 34 km ke Mahaniwa dengan berjalan kaki.
Luar biasa, deretan angka jarak tersebut membuat saya semakin penasaran dan
bergairah untuk mencapainya!
Awalnya banyak yang sangsi dengan
kesungguhan saya karena saya ingin pergi ke Ramuk dan Mahaniwa sendirian,
sementara saya belum mengenal medan
dan rute yang akan saya tempuh. Bapak Kepala Sekolah dan para Guru sampai
memanggil saya secara khusus untuk menanyakan kesungguhan saya. “Guru yakin mau pigi ke Ramuk?”, tanya
Bapak Kepsek kepada saya. Saya menjawab : “Insya
Allah, Saya yakin”. Bapak Kepsek berusaha membujuk saya untuk mengurungkan
niat : “Bukannya kita meremehkan Guru,
tapi Guru kan belum tahu medan
di sana. Kita
yang asli sini saja pakai motor mau jatuh itu ke jurang. Apalagi Guru sendiri
dan tidak tahu jalan”. Saya pun berusaha meyakinkan mereka : “Saya biasa jalan Bapak, sudah pernah tempuh
Mojokerto-Surabaya sekitar 80 km. Lagi pula nanti kan bisa tanya orang di jalan to. Besok saya
berangkat pagi dari sini supaya tidak terlalu malam sampai Ramuk”. Bapak
Kepsek belum menyerah : “Tapi Guru, kalau
di Jawa kan medan datar kho, kalau dari sini ke Ramuk itu
jalan banyak mendaki sudah. Memang di sepanjang jalan ada perkampungan dan
barangkali Guru bias tanya orang di situ, tapi ada juga banyak tempat yang
tidak ada rumah orang dan jalan banyak bercabang, salah-salah Guru bias
tersesat”. Walau pun sedikit ciut nyali mendengar kalimat terakhir dari
Bapak Kepsek, saya tetap berusaha meneguhkan niat : “Saya tetap berangkat Bapak”. Bapak Kepsek pun akhirnya pasrah : “Baiklah Guru, tapi sebaiknya ajak anak
murid kita yang rumahnya Wanggabewa, karena mereka tahu jalan”. Saya pun
menyanggupi : “Iya Bapak”.
Saat itu hanya Yohanes, atau
biasa dipanggil Hanis, satu-satunya siswa dari Wanggabewa yang masih tinggal di
sekolah. Saya segera menemuinya untuk memintanya menemani saya besok,
setidaknya sampai perbatasan antara Wanggabewa dan Ramuk. Hanis bersedia menemani
saya, karena dia juga berencana pulang ke Wanggabewa. Saya segera mengemas
barang untuk perjalanan esok.
Keesokan paginya saya harus
menunggu Hanis bangun, jadi kami baru berangkat sekitar jam 9. Tanpa saya duga,
Hanis ingin ikut saya ke Ramuk. Kebetulan sekali, jadi ada pemandu untuk saya.
Sebelum kami berangkat, saya terlebih dahulu menghubungi Kiki (Riski Sugiarto,
peserta SM-3T UNESA yang bertugas di SDN Ramuk) untuk mengabarkan bahwa saya
berangkat. Ternyata di Ramuk sudah ada Kiki bersama dengan Anis dan Ifti
(keduanya peserta SM-3T UNESA yang bertugas di SMPN SATAP Umandundu, desa
Mahaniwa) yang menunggu saya.
Sepanjang perjalanan, saya banyak
ngobrol dengan Hanis. Ternyata Ayah Hanis berasal dari Ramuk, jadi dia tahu
jalan menuju Ramuk dengan baik. Hanis adalah anak kedua dari empat bersaudara.
Ayahnya bekerja sebagai petani di Wanggabewa. Ibu Hanis meninggal dunia saat
melahirkan adiknya yang bungsu, ketika Hanis masih duduk di kelas 2 SD. Hanis
sekarang berumur 16 tahun, tapi masih duduk di kelas 8. Ini karena ketika kelas
3 SD Hanis sempat drop out, baru
kemudian melanjutkan sekolah 2 tahun kemudian. Keluar-masuk sekolah adalah hal
yang biasa terjadi di sini, selain karena faktor jauhnya jarak antara sekolah
dan rumah, juga karena kurangnya perhatian orang tua. Banyak siswa kami,
terutama yang tinggal di Lailunggi, setiap hari berjalan kaki 12 km pulang
pergi menuju sekolah, padahal mereka tidak sempat sarapan pagi.
Hanis tinggal menumpang di mess
Bapak Wakasek. Setiap hari dia membantu mencari air, mencuci pakaian, dan
memasak untuk Bapak Wakasek. Dia termasuk beruntung, karena Bapak Wakasek
sering memberinya uang untuk belanja lauk dan sayur, sementara beberapa
kawannya yang juga tinggal di mess (tapi sendiri, tidak menumpang Guru) harus
memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya. Sering saya lihat, tiga orang anak memasak
sebungkus mie instan dengan kuah banyak dengan ditambahi garam. Mereka bilang :
“Biar bias cukup untuk bertiga Pak Guru”.
Beberapa kali kami memberi mereka mie instan atau pun kue untuk sekedar berbagi
kebahagiaan. Mereka yang sangat polos memang butuh perhatian, ini yang mungkin
kurang mereka dapatkan di rumah.
Saya terkesan dengan ketulusan
Hanis yang bersedia memandu perjalanan saya menuju Ramuk dan Mahaniwa. Saya
berjanji kepadanya akan memberikan sepatu Spotec (jatah untuk peserta SM-3T)
yang saya miliki kepadanya ketika saya kembali ke Jawa. Hanis sangat gembira.
Sepanjang jalan kami banyak bercerita tentang kehidupan kami masing-masing.
Seperti halnya siswa saya yang lain, Hanis sangat tertarik dengan kehidupan
“Surga” (dalam bayangan mereka) yang selama ini saya alami di Jawa, walaupun
pada kenyataannya hidup di Jawa tak semudah dan seindah bayangan mereka.
Sepanjang jalan dari Tawui sampai
Lailunggi masih relatif ringan ditempuh. Memasuki Wanggabewa, kami harus langgar (menyeberangi) sungai besar
selebar sekitar 20 m. Ketika kemarau, ketinggian air setinggi lutut dan arusnya
sudah cukup merepotkan orang yang
melintas. Ketika musim hujan, ketinggian air bias mencapai leher atau bahkan
lebih. Beberapa kali sungai tersebut menelan korban jiwa. Beberapa orang yang
kami sapa di jalan sempat bertanya kepada saya : “Adam au kemana Pak Guru?”. Saya menjawab : “Pigi ke Ramuk!”. Kebanyakan dari mereka terkejut dan bereaksi : “Eh bukan main itu jauhnya Pak Guru”.
Saya pun hanya membalas dengan senyuman sambil terus berlalu.
Sepanjang jalan di Wanggabewa
kami lalui dengan ringan karena medan
jalan masih rata dan di sepanjang tepi jalan banyak pepohonan rindang yang
meneduhkan perjalanan kami. Kami temukan pula beberapa pohon besar yang tumbang
karena angina puting beliung akhir Maret lalu. Ada pohon besar yang berdiameter sekitar 5
meter tumbaang ditepi jalan. Warga setempat tidak memotongnya karena pohon
tersebut dikeramatkan.
Perjalanan yang cukup melelahkan
membuat kami sempat dua kali berhenti untuk melepas lelah sambil makan kue dan
minum air. Ketika memasuki wilayah Kamaru, kami melintasi kerumunan orang yang
sedang memanen padi di depan rumah. Masyarakat pelosok Sumba
memang masih bertani sederhana dengan menanam padi dan jagung di halaman rumah.
Mereka terbiasa menyanyi dan menari ketika memanen padi. Kegiatan pertanian
dilakukan secara gotong royong oleh pria maupun wanita dari satu keluarga yang
sama. Saya tertarik untuk berhenti sejenak dan menengok aktivitas mereka dari
pintu pagar. Mengetahui kehadiran saya, mereka malah menghentikan aktivitasnya
dan memandang saya seperti orang asing yang aneh sambil mereka tersenyum. Cukup
lama adegan konyol tersebut terjadi, hingga kemudian seorang pemuda diantara
mereka yang bisa berbahasa Indonesia
(karena orang-orang sepuh di sini
jarang bisa berbahasa Indonesia)
menghampiri saya. Saya segera menjelaskan bahwa saya hanya ingin menengok
sebentar, tanpa bermaksud mengganggu aktivitas mereka. Mereka mempersilahkan
saya untuk singgah, tapi saya memutuskan untuk pamit meneruskan perjalanan
karena takut kemalaman.
Perjalanan berlanjut dengan medan yang semakin terasa
berat menanjak. Memasuki kawasan hutan, gerimis hujan mulai terasa. Untung saya
membawa jas hujan. Jas hujan tersebut kami gunakan untuk melindungi kami dari
hujan yang semakin deras. Jalan yang
semakin licin membuat kami hanya bisa berjalan nggeremet perlahan. Kondisi tersebut terjadi selama dua jam dan
benar-benar menguji kami. Dalam hati saya bersyukur, mengingat sebelumnya kami
para peserta SM-3T UNESA telah melalui pelatihan ketahanmalangan dibawah bimbingan
pak Tutur Jatmiko selama kegiatan pra-kondisi SM-3T UNESA. Materi tersebut
jelas sangat bermanfaat dalam kondisi seperti ini.
Perjalanan semakin melelahkan,
nafas mulai tersengal, dan perut mulai lapar, tapi kami mencoba bertahan sekuat
hati, karena tidak mungkin berhenti dalam situasi ini. Hujan mulai reda dan
terlihat SDN Ramuk di tepi bukit seberang. Semangat kembali menyala!
Satu jam kami berjalan ternyata
belum juga sampai tujuan. Tidak ada seorang pun yang kami temui di sepanjang
jalan. Saya sangat bersyukur Hanis mau menemani saya dalam liburan gila ini.
Akhirnya kami mulai memasuki perkampungan. Sinyal mulai muncul, dan ternyata
SDN Ramuk sudah di depan mata!
Seorang anak berdiri di depan
sekolah. Saya pun menghela nafas, kemudian bertanya : “Ada
Ibu Kiki?”. Gadis kecil itu menjawab : “Ada”, sambil menunjuk
ke aula tempat Kiki tinggal. Kami berjalan menuju aula. Saya mengetuk pintu
sambil mengucap salam : “Assalamu’alaikum…”.
Dari dalam terdengar jawaban serentak : “Wa;alaikum
salam…”. Kiki membuka pintu. Begitu melihat wajah saya, tiga orang Charlies Angels (Kiki, Anis, Ifti)
serempak berteriak histeris bagai menyambut artis : “Hamid … !!!”. Hahaha.
Tepat pukul 4 sore, atau setelah
menempuh 7 jam perjalanan, kami sampai di Ramuk. Saya duduk bersama Hanis
sambil melepas lelah. Sementara Charlies
Angels memasak untuk kami. Saya masih sempat menikmati alpukat Ramuk yang saking besarnya bisa dipakai untuk
ganjal pintu, hahaha.
Malam itu kami menginap di Ramuk.
Melewati malam dengan bermain poker bersama pemuda-pemuda setempat. Yadi, salah
seorang diantara mereka, mengajak kami untuk ikut pesta panen di ladang
keluarganya esok hari. Karena saya sangat saying dilewatkan, kami pun setuju
ikut.
Kamis pagi seusai sarapan, Yadi
sudah menjemput kami utntuk berangkat bersama ke ladang keluarganya. Ternyata
ladang keluarga Yadi sangat jauh. Letaknya di lembah curam. Cukup melelahkan
menuruni lembah curam seperti itu. Kami pun sampai di ladang keluarga Yadi.
Setibanya di sana,
saya diminta untuk menyembelih ayam. Kami sempat ikut panen sebentar, tapi
karena tidak kuat panas dan gatal (penyakit rutin peserta SM-3T di Sumba Timur,
hahaha), akhirnya kami istirahat di rumah kebun milik keluarga Yadi. Hanya Ifti
seorang yang tetap melanjutkan panen bersama Yadi dan keluarganya. Ifti memang
wanita super. Kawan seangkatan saya sewaktu kuliah di Jurusan Pendidikan
Sejarah UNESA ini memiliki fisik dan daya tahan tubuh yang bagus, juga aktif di
Pramuka. Ketika Yadi dan keluarganya beristirahat pun, Ifti masih kuat lanjut.
Warga setempat mengagumi wanita super ini. Cermin referensi buat anda para
calon peserta SM-3T, hehe
Warga Ramuk bertani dengan pola
yang lebih unik dan sederhana. Mereka menanam padi di lereng yang curam. Mereka
hanya menanam padi pada musim hujan, karena sawahnya bukan sawah irigasi.
Setelah panen, mereka membiarkan begitu saja ladangnya, tanpa mengolah lagi
tanah dan menanam bibit baru. Mereka tidak menggunakan pupuk kimia, melainkan
hanya memakai kotoran ternak. Di tengah ladang, terdapat rumah kebun. Rumah
kebun adalah rumah yang dibangun di tengah ladang untuk ditinggali petani dan
keluarganya ketika mereka menggarap lahan. Di situ ada juga ternak-ternak
mereka. Walau pun sangat sederhana (mungkin sebagian orang menganggap mereka
“primitif”), mereka sangat nyaman dengan pola hidup yang mereka jalani.
Pada beberapa daerah datar,
petani sudah mengolah tanah, namun jangan bayangkan mereka mengolah tanah
dengan teknologi yang sama dengan petani di Jawa. Mereka tidak memakai alat
bajak traktor ataupun alat bajak tradisional yang ditarik oleh dua ekor kerbau Kerbau.
Mereka menggunakan sekitar sepuluh ekor kerbau yang digiring untuk membajak
(mungkin lebih tepatnya “menginjak-injak”) tanah ladang mereka. Itu lah cara
mereka mengolah tanah, hahaha.
Setelah panen usai, acara pesta
dimulai. Kami makan dengan porsi yang LUARRRRRRRRR BIASA! Setiap orang diberi
nasi merah dengan porsi satu baskom kecil yang menggunung, dengan lauk 4 potong
ayam kuah (mungkin maksudnya opor). Saya menyebutnya Nasi Wanggameti, karena porsi
besar tersebut menyerupai bentuk Gunung Wanggameti (gunung tertinggi di Sumba
Timur). Sekuat-kuatnya saya makan, hanya kuat menghabiskan separo, itu pun
dengan waktu yang lama. Sementara warga setempat dapat menghabiskannya dalam
waktu yang singkat. Sekali lagi, LUARRRRRR BIASA!
Aktivitas berlanjut pada acara
inti, injak padi. Mereka merontokkan padi dengan cara menginjak padi yang
dihamparkan pada selembar alas lebar, sambil bernyanyi dalam bahasa setempat.
Semua menari dengan riang gembira. Dalam pikiran saya, bagaimana mungkin
pertanian sederhana seperti ini bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga besar
ini, sementara porsi makan mereka sebanyak itu. Sekali panen mungkin hasilnya
tidak sampai 2 kuintal, padahal mereka hanya sekali tanam dalam setahun, pada
musim penghujan.
Sambil melihat injak padi, kami
menikmati kelapa muda segar. Ramuk dan Mahaniwa memang sangat subur. Banyak
hasil kebun seperti kelapa, alpukat, mangga, dan jeruk. Hawanya juga dingin,
seperti di Batu.
Hari beranjak sore. Kami memutuskan
untuk pamit pulang karena harus ke Mahaniwa. Kami melanjutkan perjalanan ke
Mahaniwa, menuju tempat bertugas kawan-kawan peserta SM-3T di SMPN SATAP
Umandundu. Masih dengan medan
yang sama beratnya, kami butuh waktu 90 menit untuk sampai di Mahaniwa ketika
hari sudah petang. Sesampainya di sana, kami disambut oleh : Mukhamad Nurhuda
(Huda), Nova Dwi Dewantoro (Nova), Ni’matus Solihah (Nikmah), dan Putri Sari
Hati (Ciput). Rasa lelah hilang seakan hilang ketika berjumpa kawan-kawan
seperjuangan. Kami pun saling bertukar banyak cerita, sambil unu waibana (minum kopi). Ternyata Huda
dan Nova juga baru saja pulang dari acara pesta panen di Enehau, salah satu
dusun di Mahaniwa. Dua kawan saya ini sangat popular di kalangan warga
setempat, karena mereka pandai bersosialisasi. Peserta SM-3T di daerah
terpencil seperti kami memang seperti selebritis, dimana pun selalu jadi pusat
perhatian. Hahaha
Suatu ketika Nova menolong warga
setempat yang kakinya terkilir. Sebagai sarjana pendidikan olahraga yang sempat
mendapatkan mata kuliah massase, dia
cukup tanggap dan terampil menangani sang pasien dadakan. Sejak itu lah dia
sering diundang untuk mengurut warga setempat. Ini lah bukti bahwa dimana pun
kita berada, selamanya ilmu tetap bermanfaat. BRAVO FIK UNESA!
Ketika kami asyik mengobrol, datang
Pak Adi. Beliau adalah Guru SMPN SATAP Umandundu yang tinggal di Ramuk. Pak Adi
mengundang kami untuk menghadiri pesta ulang tahunnya pada hari Sabtu malam,
sekaligus meminta Nova untuk menyembelih kambing. Wah, ternyata saya memang
datang pada waktu yang tepat. Sampai di sini banyak pesta, hahaha. Niat saya
untuk pulang ke Tawui hari Jum’at pun saya tunda jadi hari minggu, eman
pestanya dong. Lagi pula Nova, Huda, Ifti dan Ciput berniat turut ke Tawui,
jadi sekalian saja jalan bersama hari minggu.
Esok siangnya kami kedatangan
tamu lagi. Mas Kamto dan Mas Panca “Sang Penunggu Pulau Salura” (karena dia
satu-satunya peserta SM-3T yang ditempatkan di Pulau Salura) datang
berboncengan sepeda motor dari Nggongi, tempat Mas Kamto bertugas. Mereka
membawa oleh-oleh ikan asap besar dari Karera. Benar-benar liburan penuh pesta.
Sambil melepas lelah, kami
kembali saling bertukar cerita. Ternyata Mas Kamto baru saja berlibur ke Pulau
Salura dan Pulau Mengkudu bersama dengan Yopi Yudhista, Anifatul Maghfiroh, dan
Widya Wisata. Mereka sangat beruntung bias menumpang kapal milik bule Italia
yang bermaksud melakukan survey potensi wisata di kedua pulau indah tersebut.
Mas Kamto dan Mas Panca bertutur sambil menunjukkan foto-foto mereka. Membuat
kami semakin iri untuk juga pergi ke sana.
Keindahan Pulau Salura dan Mengkudu terlalu sukar dijelaskan dengan kata-kata.
Jika anda ingin mengetahui keindahan dua pulau kecil di sebelah selatan Pulau
Sumba itu, coba cari di Google Map, itu akan sedikit membantu walaupun anda
akan semakin terobsesi untuk pergi ke sana.
Kami para peserta SM-3T yang
ditempatkan di daerah-daerah yang benar-benar terpencil, merasakan suka cita
yang luar biasa ketika bisa bertemu dengan saudara senasib sepenanggungan
seperti ini. Dengan diterangi cahaya bulan purnama yang indah di langit
Mahaniwa, kami saling bertutur suka dan duka. Kunang-kunang dan jangkrik adalah
hiburan pengiring kami. Hari semakin malam dan kami pun beristirahat dengan sleeping bed, peralatan tidur yang wajib
dipakai di sini untuk sedikit mengurangi rasa dingin.
Sabtu pagi Nova sudah sibuk
mengasah parang andalannya yang biasa dipakai untuk menyembelih hewan. Menurut
cerita Nova, parang tersebut adalah pemberian pak Melky, guru setempat. Pak
Melky memberikan parang istimewa dengan gagang dari tanduk kerbau tersebut
sebagai wujud suka citanya karena Nova memberikan kaos bergambar Reog Ponorogo
kepadanya. Sungguh beruntung kawan saya asal Ponorogo ini.
Hari beranjak siang dan kami
segera bergegas turun ke Ramuk untuk menghadiri pesta ulang tahun ke 25 Pak
Adi. Nova dan Huda berangkat duluan karena harus menyembelih kambing. Selepas
maghrib, kami menuju rumah Pak Adi. Kami segera mengolah daging kambing yang
sudah dipotong dengan membakarnya dalam tusukan sate. Aroma yang luar biasa
menggugah selera dalam pelukan hawa dingin di Ramuk. Nyuuuuzz
Pukul 9 malam, pesta diawali
dengan do’a yang dipimpin oleh pendeta setempat, dilanjutkan dengan makan
bersama. Pesta ulang tahun ini setara dengan resepsi pernikahan di Jawa. Para pejabat desa diundang. Seusai makan, para hadirin
menghabiskan waktu dengan bermain poker, permainan paling merakyat di Sumba. Yang sedang kalah biasa nya telinganya diberi
gantungan tali dan batu, tidak peduli apakah dia rakyat biasa atau Guru bahkan
Kepala Desa, sakitnya awet deh. Hahaha
Malam semakin larut dan kami pun
pamit pulang karena sudah mengantuk. Tubuh ini perlu beristirahat sebelum
menempuh jarak puluhan kilometer esok hari. Kami berjalan menuju aula tempat
tinggal kiki yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Pak Adi. Tubuh-tubuh
lelah dengan cepat terbaring.
Esok harinya, seusai sarapan
pagi, kami memulai perjalanan menuju Tawui dengan jumlah 6 anggota rombongan :
Saya, Hanis, Nova, Ifti, Ciput, Yani (murid SMPN SATAP Umandundu) dan Pak Yusuf
(kakak Yani). Yani dan Pak Yusuf kebetulan bermaksud mengunjungi kakaknya yang
tinggal di Tawui.
Ifti dan Ciput, dua kawan akrab
saya sejak masa kuliah ini memang LUARRR BIASA! Mereka punya kekuatan fisik
diatas rata-rata wanita pada umumnya. Ifti selalu berjalan paling di depan,
sementara Ciput justru membawa tas ransel besar yang biasa dia pakai mendaki
gunung. Mereka kebetulan memang punya latar belakang pecinta alam yang kuat.
Selama kuliah, Ifti aktif di Pramuka, sedangkan Ciput aktif di Geopala
(Geografi Pecinta Alam, perkumpulan pecinta alam mahasiswa Jurusan Pendidikan
Geografi UNESA). Inilah bukti nyata bahwa aktivitas pengembangan minat dan
organisasi kita selama kuliah sangat dibutuhkan ketika kita sudah terjun di
masyarakat. Entah kebetulan atau bagaimana, menurut saya peserta SM-3T UNESA
yang ditempatkan di daerah-daerah sulit seperti kami memiliki ketahanan fisik
yang sesuai dengan karakteristik wilayah penempatan. Semoga saja untuk
selanjutnya juga demikian.
Sepanjang jalan kami lalui dengan
riang, karena banyaknya anggota rombongan sehingga kami bisa menikmati
perjalanan sambil bercerita dan tertawa riang. Tidak lupa foto-foto dimana
saja, hahaha.
Sekitar dua jam kami berjalan,
Kami melihat pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Ketika sedang jalan
menurun, tampak di depan mata kami pemandangan lautan diantara dua bukit di
depan kami. Di tengah lautan tersebut,
Pulau Salura yang sangat indah tampak jelas, sementara Pulau Mengkudu yang
tertutup oleh bukit juga tampak tak kalah indahnya. Subhanallah, saya merasa
beruntung Allah mengirim kami di tempat sulit seperti ini dimana kami bisa
melihat dan mensyukuri kebesarannya.
Perjalanan berlanjut dengan
melalui beberapa sungai yang mengalir indah. Kami tanpa ragu meminum air sungai
ketika haus karena memang air sungai di sini layak minum. Ketika beberapa kali
memasuki area perkampungan, kami selalu menjadi pusat perhatian warga, terutama
Putri yang tetap kuat berjalan dengan tas ransel besarnya. Kami menyapa mereka
dan mereka membalas dengan senyum ramah. Bahkan ketika sampai di Wanggabewa dan
kami kehabisan air minum, kami diberi kelapa muda oleh warga setempat. Aseeek,
pesta waikokur (air kelapa).
Kami sempat dua kali istirahat di
tepi sungai besar untuk melepas lelah sambil makan siang dan sholat. Kaki mulai
terasa berat tapi langkah harus tetap berlanjut. Dengan sisa tenaga yang ada,
kami melanjutkan perjalanan hingga kemudian sampai di Tawui ketika hari sudah
gelap, sekitar jam 7 malam.
Mas Dedi dan Sulis menyambut kami
bersama dengan Nofan dan Budi, dua rekan peserta SM-3T yang ditugaskan di Lewa.
Mereka ikut ke Tawui bersama dengan Mas Dedi dan Sulis sepulang dari Tarimbang.
Malam itu kami banyak bercerita tentang pengalaman liburan masing-masing yang
sangat seru. Pukul 2 dini hari, Nofan dan Budi kembali ke Lewa dengan naik Oto. Mereka kurang beruntung karena
tidak sempat merasakan kenikmatan ikan dari Tawui sebab laut sedang pasang,
namun setidaknya mereka sangat puas menikmati indahnya Tawui.
Ternyata kawan-kawan dari
Umandundu datang pada saat yang tepat. Pagi esoknya, kami berhasil mendapatkan
5 ekor ikan kakap merah sebesar betis dari pedagang langganan kami. Harganya
Cuma Rp. 50.000,- saja. Hari itu kami isi dengan piknik sambil bakar ikan di
tepi pantai sampai sore. MANTAAAAAP!
Sayang sekali Ifti dan Ciput
tidak bisa lebih lama di Tawui. Keesokan harinya mereka langsung turun ke
Waingapu untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, sedangkan Nova dan Huda masih
tinggal di Tawui. Mereka sempat memesan ikan kakap asap sebagai buah tangan
untuk Kiki, Nikmah, dan Anis. Hari Rabu pagi, Nova dan Huda pulang ke
Umandundu. Kami berpisah dengan meninggalkan banyak kisah tak terlupakan
sepanjang liburan.
Ya Allah, terima kasih telah
mengirim kami ke tempat seperti ini. Maafkan kami yang mungkin banyak mengeluh
oleh cobaan dari-Mu. Kini kami sadar bahwa inilah cara-Mu menunjukkan
kebesaran-Mu kepada kami, para hamba-hambaMu yang terkadang lupa bersyukur
pada-Mu. Semoga kami masih berkesempatan merasakan dan mensyukuri keagunganMu
sepanjang sisa hidup kami, agar kami menjadi insane yang bermanfaat. Amin.
Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.
SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.
[1] Alumnus
Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana
Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di
SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.
Semoga saya juga bisa mengabdi seperti mas yang satu ini.
BalasHapusAwalnya niat ikut SM3T hanya menuruti panggilan jiwa yang senang bertualang. Tapi trnyata ada hal lain yang jauh lebih mulia dilakukan disana.
Mudah2an Allah memberi jalan kesana dan memberikan kesempatan mengabdi pada negara ini.Karena hanya itu yg saya bisa. Mohon do'anya kawan...!!!
amin.
BalasHapus:-)