Murid-Muridku, Permata-Permata Kecil dari Tawui
Oleh : Abdul Hamid[1]
Mereka
Menyapa Saya,
Mereka
Membangunkan Saya,
Mereka
Menginspirasi Saya.
Secara
khusus kalimat-kalimat tersebut saya tujukan untuk siswa-siswi saya, penyambung
semangat saya di tanah rantau. Siapa saja kah mereka? Berikut beberapa diantara
mereka yang dapat saya perkenalkan :
Umbu Nessy Marumata a.k.a Unes. Unes adalah putra kedua dari Bapak Camat
Pinu Pahar, Drs. Andreas Marumata. Lelaki kecil dengan tinggi 140 cm ini
dilihat dari style-nya jelas paling
menonjol dibandingkan teman-temannya. Selalu memakai sepatu sport putih, rambut
dibuat jambul ala Cristiano Ronaldo, dan lengan baju dijinjing. Unes hobi
bermain sepakbola.
Unes
(paling kanan) belajar di perpustakaan bersama dua temannya, Artasasta dan
Arnold.
|
Unes siswa
yang paling aktif di kelas. Secara akademis Unes juga istimewa. Nilainya hampir
selalu paling tinggi diantara teman-teman sekelasnya. Ketika belajar bersama
dalam kelompok, Unes mampu menempatkan diri sebagai pemimpin diskusi. Saat
ketinggalan pelajaran karena tidak masuk, Unes memiliki inisiatif untuk
mengejar ketertinggalannya dengan mencatat di perpustakaan sekolah di waktu
istirahat. Siswa kelas 7A ini juga terpilih menjadi Ketua OSIS tahun ini.
Umbu Ndamu Makatehu a.k.a Umbu Kudu. Umbu Kudu berarti Umbu Kecil, panggilana
yang memang sesuai untuk lelaki imut ini. Dengan tinggi 130 cm, Umbu Kudu
adalah siswa laki-laki paling kecil di sekolah.
Siswa
pemalu ini selalu hadir di sekolah tepat waktu tanpa pernah membolos. Pakaiannya
selalu rapi dengan baju masuk ke dalam celana, memakai ikat pinggang, memakai
sepatu dan membawa tas. Tidak ada anak serapi Umbu Kudu di sekolah. Mamanya
tidak mengizinkan Umbu Kudu berangkat sekolah sebelum memastikannya berpakaian
rapi. Bungsu dari tiga bersaudara ini memang berasal dari keluarga yang peduli
pendidikan, suatu hal yang sangat jarang di sini. Kedua orang tua Umbu Kudu
adalah petani. Kakak pertamanya kuliah di Jurusan Pertanian di Kupang,
sedangkan kakak keduanya masih sekolah SMA di Waingapu.
Umbu
Kudu sedang bermain hulahup. Pinggang kecilnya lihai bergoyang memainkan
cincin hulahup rotan di sekolah.
|
Umbu
Kudu siswa yang rajin ketika belajar di
kelas. Siswa kelas 7B ini juga hobi bermain sepakbola dan tenis meja. Meskipun
memiliki keterbatasan postur, Umbu Kudu sangat lincah ketika bermain tenis
meja. Beberapa guru dikalahkan olehnya.
Intan Harabi Loda, calon enterpreuner.
Gadis pemalu ini datang ke sekolah dengan membawa barang dagangannya : pisang
goreng dan keripik pisang.
Intan
belajar di kelas 7A dengan ditemani barang dagangan di sisinya.
|
Intan
berasal dari desa Lailunggi, sekitar 6 km dari Tawui. Dia tinggal menumpang di
rumah salah seorang warga yang tinggal di dekat kantor kecamatan Pinu Pahar.
Barang dagangan yang dijual Intan di sekolah adalah titipan dari induk
semangnya. Intan tidak mendapat imbalan apa pun selain kesempatan tinggal dan
makan.
Metu Salak K. Melip a.k.a Met. Met adalah siswa kelas 8A. Siswa dari
Lailunggi ini setiap hari berjalan sekitar 6 km dari rumahnya menuju sekolah
bersama dengan teman-temannya. Tak heran bila kemudian Met dan teman-temannya
dari Lailunggi sering datang terlambat.
Unes
(kiri) bersama Metu Salak (kanan), pasangan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 1
Pinu Pahar terpilih.
|
Menurut
Guru-guru, dulu Met suka membolos. Tapi setelah saya masuk, dia jarang membolos
karena dia ternyata menggemari pelajaran IPS, terutama Sejarah. Tak saya
sangka, di daerah udik dengan akses informasi yang sangat minim ini, ada anak
berwawasan luas seperti Met. Met tahu bahwa piramida adalah kuburan raja-raja
Mesir. Dia juga tahu tentang VOC dan Cultuurstetsel.
Semua karena dia suka menyendiri, membaca buku-buku di perpustakaan sekolah
kami yang berantakan.
Kahar Umbu Djawaray a.k.a Kahar. Kahar adalah siswa paling senior di sekolah
kami. Umurnya sudah 20 tahun. Meski demikian, Kahar tak pernah patah semangat.
Siswa kelas ( ini rajin berangkat ke sekolah.
Kahar
(berdiri paling depan) sedang mengikuti kegiatan apel pagi di sekolah.
|
Suatu
ketika Kahar pernah menawarkan ayamnya kepada kami. Dia ingin menjual ayam itu
untuk membantu Mamanya. Kahar rela melakukan apa saja demi melanjutkan sekolah.
Kabar terakhir, Kahar mendaftar di SMKN 2 Waingapu.
Alpius Pilu Ndilu a.k.a Pius. Pius setahun lebih muda dari Kahar, dia
berumur 19 tahun. Sewaktu kelas 7, Pius sempat drop out 2 tahun dan bekerja menjaga toko di Waingapu, tapi dia
kemudian sadar pentingnya pendidikan sehingga memutuskan kembali ke bangku
sekolah.
Pius
tergolong anak kreatif. Ini lah contoh hasil kreatifitas Pius yang dia
lukiskan pada bagian belakang seragam
Pramuka-nya.
|
|
Alpius
(tengah) sedang makan bersama Yeheskiel (kiri) dan Salmon (kanan) pada acara
pembukaan Ujian Nasional SMPN 1 Pinu Pahar.
|
Kabar
terakhir, Pius memutuskan menunda melanjutkan ke jenjang SMA. Dia akan mengisi
waktu setahun ke depan dengan bekerja sebagai buruh di Toko Bangunan Inti Karya
Waingapu agar bisa menabung untuk sekolah. Semangat Pius!
Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.
SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.
[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar
Kabupaten Sumba Timur.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar