Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit
Tawui
oleh : Abdul
Hamid[1]
Tak pernah saya sangka bahwa
dibalik bukit si sebelah utara desa Tawui terdapat keindahan tersembunyi
bernama dusun Mondu. Dua hari penuh kesan yang saya lalui dengan SUlistiyo (sesama
rekan peserta SM-3T UNESA), Arban (murid kami) dan keluarganya.
Perjalanan dengan jarak hanya 6 km menjadi sangat melelahkan karena medan
yang terjal, bahkan lebih berat dari 32 km yang saya lalui sewaktu menuju Ramuk
dan Umandundu, walau pun juga dengan jalan kaki. Tiga jam kami butuhkan untuk
sampai di dusun yang masih masuk wilayah desa Tawui tersebut. Hari sudah gelap
ketika keluarga Arban menyambut kami.
Saya sangat kagum, ternyata murid kami yang paling pandai di kelas 9 itu
lahir dari keluarga yang sangat bersahaja. Ayahnya menyandang cacat di tangan
kanan karena polio. Dengan memakai tangan kirinya, beliau sangat terampil
mengerjakan semua pekerjaan di rumah dan di kebun. Ayah Arban drop out dari kelas 1 SD karena sakit
polio yang dideritanya, tetapi beliau bisa membaca, menulis, dan menghitung.
Ibu Arban hanya lulus SD, namun beliau memiliki wawasan dan kepedulian
lingkungan yang tinggi sehingga dipercaya menjadi ketua kader Posyandu di dusun
yang hampir tak terjamah tersebut. Ibu Arban juga dipercaya membantu persalinan
di dusun Mondu. Meskipun sudah ada Perda yang mewajibkan setiap Ibu hamil untuk
memeriksakan kandungan dan melahirkan di Bidan atau tenaga medis resmi, hal
tersebut tidak dapat diterapkan di wilayah seperti dusun Mondu. Dengan pertimbangan
tersebut, Bidan setempat mempercayakan persalinan kepada Ibu Arban apabila
Bidan tidak sempat datang.
Kedua orang tua Arban memang tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka sadar
akan pentingnya pendidikan. Mereka bertekad untuk menyekolahkan Arban ke SMK
Pertanian di Kupang dan melanjutkan kuliah di sana. Beberapa hari yang lalu
(sebelum tulisan ini saya posting), Alpius (teman Arban) menceritakan keharuan
ketika Ibu Arban melepas keberangkatan putra keduanya itu ke Kupang untuk
mendaftar di SMK Pertanian.
Setiap pagi, ayah Arban bekerja di ladang dengan memakai tangan kirinya,
malam harinya Beliau pergi menangkap belut dan udang untuk lauk keluarganya.
Kami sempat menikmati belut bakar dan kare udang yang sangat nikmat bersama
keluarga ini. Sarapan paling nikmat selama kami berada di Sumba.
Tak kalah serunya, kami menyusuri sungai indah dengan beberapa air terjun
menuju kebun pinang keluarga ini di hutan. Walaupun tidak ikut memetik pinang
(karena kami tidak bisa memanjat pohon setinggi itu), kami masih sempat
membantu mengupas pinang. Keindahan sungai tersebut mungkin seperti Green Canyon di Jawa Barat tapi dalam
versi yang lebih mini, cocok untuk rafting
dan kanoe.
Warga Mondu biasa menanam pinang, cengkeh, maupun kakao di ladang mereka
dalam hutan, sementara padi dan ubi ditanam di kebun sekitar rumah. Sedikit pun
mereka tidak pernah pindah dari daerah sunyi dan terpencil tersebut, karena di
sana lah mereka bisa hidup sejahtera dengan hasil buminya. Mereka menjual hasil
pertaniannya ke Tawui.
Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.
SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.
[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah
Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar
Kabupaten Sumba Timur.


