Kamis, 21 Juni 2012

Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit Tawui


Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit Tawui
oleh : Abdul Hamid[1]

Tak pernah saya sangka bahwa dibalik bukit si sebelah utara desa Tawui terdapat keindahan tersembunyi bernama dusun Mondu. Dua hari penuh kesan yang saya lalui dengan SUlistiyo (sesama rekan peserta SM-3T UNESA), Arban (murid kami) dan keluarganya.
Perjalanan dengan jarak hanya 6 km menjadi sangat melelahkan karena medan yang terjal, bahkan lebih berat dari 32 km yang saya lalui sewaktu menuju Ramuk dan Umandundu, walau pun juga dengan jalan kaki. Tiga jam kami butuhkan untuk sampai di dusun yang masih masuk wilayah desa Tawui tersebut. Hari sudah gelap ketika keluarga Arban menyambut kami.
Saya sangat kagum, ternyata murid kami yang paling pandai di kelas 9 itu lahir dari keluarga yang sangat bersahaja. Ayahnya menyandang cacat di tangan kanan karena polio. Dengan memakai tangan kirinya, beliau sangat terampil mengerjakan semua pekerjaan di rumah dan di kebun. Ayah Arban drop out dari kelas 1 SD karena sakit polio yang dideritanya, tetapi beliau bisa membaca, menulis, dan menghitung.
Ibu Arban hanya lulus SD, namun beliau memiliki wawasan dan kepedulian lingkungan yang tinggi sehingga dipercaya menjadi ketua kader Posyandu di dusun yang hampir tak terjamah tersebut. Ibu Arban juga dipercaya membantu persalinan di dusun Mondu. Meskipun sudah ada Perda yang mewajibkan setiap Ibu hamil untuk memeriksakan kandungan dan melahirkan di Bidan atau tenaga medis resmi, hal tersebut tidak dapat diterapkan di wilayah seperti dusun Mondu. Dengan pertimbangan tersebut, Bidan setempat mempercayakan persalinan kepada Ibu Arban apabila Bidan tidak sempat datang.
Kedua orang tua Arban memang tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka bertekad untuk menyekolahkan Arban ke SMK Pertanian di Kupang dan melanjutkan kuliah di sana. Beberapa hari yang lalu (sebelum tulisan ini saya posting), Alpius (teman Arban) menceritakan keharuan ketika Ibu Arban melepas keberangkatan putra keduanya itu ke Kupang untuk mendaftar di SMK Pertanian.
Setiap pagi, ayah Arban bekerja di ladang dengan memakai tangan kirinya, malam harinya Beliau pergi menangkap belut dan udang untuk lauk keluarganya. Kami sempat menikmati belut bakar dan kare udang yang sangat nikmat bersama keluarga ini. Sarapan paling nikmat selama kami berada di Sumba.
Tak kalah serunya, kami menyusuri sungai indah dengan beberapa air terjun menuju kebun pinang keluarga ini di hutan. Walaupun tidak ikut memetik pinang (karena kami tidak bisa memanjat pohon setinggi itu), kami masih sempat membantu mengupas pinang. Keindahan sungai tersebut mungkin seperti Green Canyon di Jawa Barat tapi dalam versi yang lebih mini, cocok untuk rafting dan kanoe.
Warga Mondu biasa menanam pinang, cengkeh, maupun kakao di ladang mereka dalam hutan, sementara padi dan ubi ditanam di kebun sekitar rumah. Sedikit pun mereka tidak pernah pindah dari daerah sunyi dan terpencil tersebut, karena di sana lah mereka bisa hidup sejahtera dengan hasil buminya. Mereka menjual hasil pertaniannya ke Tawui.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Jumat, 15 Juni 2012

Murid-Muridku, Permata-Permata Kecil dari Tawui


Murid-Muridku, Permata-Permata Kecil dari Tawui
Oleh : Abdul Hamid[1]

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.
Secara khusus kalimat-kalimat tersebut saya tujukan untuk siswa-siswi saya, penyambung semangat saya di tanah rantau. Siapa saja kah mereka? Berikut beberapa diantara mereka yang dapat saya perkenalkan :
Umbu Nessy Marumata a.k.a Unes. Unes adalah putra kedua dari Bapak Camat Pinu Pahar, Drs. Andreas Marumata. Lelaki kecil dengan tinggi 140 cm ini dilihat dari style-nya jelas paling menonjol dibandingkan teman-temannya. Selalu memakai sepatu sport putih, rambut dibuat jambul ala Cristiano Ronaldo, dan lengan baju dijinjing. Unes hobi bermain sepakbola.
Unes (paling kanan) belajar di perpustakaan bersama dua temannya, Artasasta dan Arnold.
Unes siswa yang paling aktif di kelas. Secara akademis Unes juga istimewa. Nilainya hampir selalu paling tinggi diantara teman-teman sekelasnya. Ketika belajar bersama dalam kelompok, Unes mampu menempatkan diri sebagai pemimpin diskusi. Saat ketinggalan pelajaran karena tidak masuk, Unes memiliki inisiatif untuk mengejar ketertinggalannya dengan mencatat di perpustakaan sekolah di waktu istirahat. Siswa kelas 7A ini juga  terpilih menjadi Ketua OSIS tahun ini.
Umbu Ndamu Makatehu a.k.a Umbu Kudu. Umbu Kudu berarti Umbu Kecil, panggilana yang memang sesuai untuk lelaki imut ini. Dengan tinggi 130 cm, Umbu Kudu adalah siswa laki-laki paling kecil di sekolah.
Siswa pemalu ini selalu hadir di sekolah tepat waktu tanpa pernah membolos. Pakaiannya selalu rapi dengan baju masuk ke dalam celana, memakai ikat pinggang, memakai sepatu dan membawa tas. Tidak ada anak serapi Umbu Kudu di sekolah. Mamanya tidak mengizinkan Umbu Kudu berangkat sekolah sebelum memastikannya berpakaian rapi. Bungsu dari tiga bersaudara ini memang berasal dari keluarga yang peduli pendidikan, suatu hal yang sangat jarang di sini. Kedua orang tua Umbu Kudu adalah petani. Kakak pertamanya kuliah di Jurusan Pertanian di Kupang, sedangkan kakak keduanya masih sekolah SMA di Waingapu.
Umbu Kudu sedang bermain hulahup. Pinggang kecilnya lihai bergoyang memainkan cincin hulahup rotan di sekolah.
Umbu Kudu  siswa yang rajin ketika belajar di kelas. Siswa kelas 7B ini juga hobi bermain sepakbola dan tenis meja. Meskipun memiliki keterbatasan postur, Umbu Kudu sangat lincah ketika bermain tenis meja. Beberapa guru dikalahkan olehnya.
Intan Harabi Loda, calon enterpreuner. Gadis pemalu ini datang ke sekolah dengan membawa barang dagangannya : pisang goreng dan keripik pisang.
Intan belajar di kelas 7A dengan ditemani barang dagangan di sisinya.
Intan berasal dari desa Lailunggi, sekitar 6 km dari Tawui. Dia tinggal menumpang di rumah salah seorang warga yang tinggal di dekat kantor kecamatan Pinu Pahar. Barang dagangan yang dijual Intan di sekolah adalah titipan dari induk semangnya. Intan tidak mendapat imbalan apa pun selain kesempatan tinggal dan makan.
Metu Salak K. Melip a.k.a Met. Met adalah siswa kelas 8A. Siswa dari Lailunggi ini setiap hari berjalan sekitar 6 km dari rumahnya menuju sekolah bersama dengan teman-temannya. Tak heran bila kemudian Met dan teman-temannya dari Lailunggi sering datang terlambat.
Unes (kiri) bersama Metu Salak (kanan), pasangan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 1 Pinu Pahar terpilih.
Menurut Guru-guru, dulu Met suka membolos. Tapi setelah saya masuk, dia jarang membolos karena dia ternyata menggemari pelajaran IPS, terutama Sejarah. Tak saya sangka, di daerah udik dengan akses informasi yang sangat minim ini, ada anak berwawasan luas seperti Met. Met tahu bahwa piramida adalah kuburan raja-raja Mesir. Dia juga tahu tentang VOC dan Cultuurstetsel. Semua karena dia suka menyendiri, membaca buku-buku di perpustakaan sekolah kami yang berantakan.
Kahar Umbu Djawaray a.k.a Kahar. Kahar adalah siswa paling senior di sekolah kami. Umurnya sudah 20 tahun. Meski demikian, Kahar tak pernah patah semangat. Siswa kelas ( ini rajin berangkat ke sekolah.
Kahar (berdiri paling depan) sedang mengikuti kegiatan apel pagi di sekolah.
Suatu ketika Kahar pernah menawarkan ayamnya kepada kami. Dia ingin menjual ayam itu untuk membantu Mamanya. Kahar rela melakukan apa saja demi melanjutkan sekolah. Kabar terakhir, Kahar mendaftar di SMKN 2 Waingapu.
Alpius Pilu Ndilu a.k.a Pius. Pius setahun lebih muda dari Kahar, dia berumur 19 tahun. Sewaktu kelas 7, Pius sempat drop out 2 tahun dan bekerja menjaga toko di Waingapu, tapi dia kemudian sadar pentingnya pendidikan sehingga memutuskan kembali ke bangku sekolah.
Pius tergolong anak kreatif. Ini lah contoh hasil kreatifitas Pius yang dia lukiskan pada bagian belakang  seragam Pramuka-nya.
Alpius (tengah) sedang makan bersama Yeheskiel (kiri) dan Salmon (kanan) pada acara pembukaan Ujian Nasional SMPN 1 Pinu Pahar.
Kabar terakhir, Pius memutuskan menunda melanjutkan ke jenjang SMA. Dia akan mengisi waktu setahun ke depan dengan bekerja sebagai buruh di Toko Bangunan Inti Karya Waingapu agar bisa menabung untuk sekolah. Semangat Pius!

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.