“Terima Kasih Pak dan Bu!”
oleh
: Abdul Hamid[1]
Tujuh bulan sudah kami bertugas di tanah sabana ini.
Semakin hari rasa rindu kampung halaman di Jawa semakin timbul di benak kami,
namun sebenarnya seiring dengan itu semakin besar pula kesedihan yang terbayang
ketika kami nanti harus meninggalkan putra-putri Sumba binaan kami.
Mengingat kembali awal tugas kami, adalah momen yang
sangat berkesan dan tak terlupakan, seakan membuka kembali album kenangan. Saat
pertama kali memasuki desa Tawui, kami empat belas orang Guru SM-3T (enam orang
bertugas di SMPN 1 Pinu Pahar, 8 orang di SMPN SATAP Okatana) sempat menjumpai
beberapa murid kami yang sore itu memang banyak berada d depan rumah-rumah
mereka yang terletak di tepi jalan trans Sumba Selatan yang banyak berlubang
dan penuh dengan debu. Oto yang kami
tumpangi berhenti sejenak pada sebuah komplek pemukiman warga di dekat kantor
desa Tawui, tepat di depan sebuah tugu peringatan dimulainya proyek jalan trans
Selatan Sumba yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada tahun 1988.
Diantara beberapa anak yang menunggu kami di sepanjang
jalan, saya menghampiri seorang anak perempuan. Saya bertanya padanya: “Kelas
berapa kamu?”. Sambil tersenyum malu-malu (ekspresi khas anak di pelosok Sumba)
dia menjawab : “Kelas Delapan”. Saya pun membalas : “Salam kenal ya, besok saya
mengajar kamu”. Gadis kecil itu pun berkata : “Iya Pak Guru”, sambil kemudian
berlalu pergi. “Pak Guru”, sapaan yang sungguh berkesan karena baru sekali itu
saya dipanggil dengan sebutan Pak Guru. Maklum, S.Pd anyar dengan pengalaman
minim. Hehehe
Hari beranjak senja dan saya tak sabar menanti hari esok,
berjumpa dengan murid-murid pertama saya untuk pertama kalinya, sebuah momen
bersejarah bagi seorang guru pemula. Pagi itu para siswa sudah berkumpul dengan
aneka rupa seragam, hal yang belum pernah saya jumpai di sekolah mana pun di
Indonesia.
Kebanyakan siswa kami
hanya memiliki satu stel pakaian seragam putih biru. Sedikit sekali yang
memiliki seragam pramuka. Mereka memakai seragam putih biru itu selama enam
hari sepekan, kemudian dicuci di hari minggu. Pantas lah jika tampak lusuh.
Banyak yang pergi ke sekolah tanpa sepatu, danya memakai sandal jepit. Tas?
Siswa yang pergi ke sekolah dengan membawa tas mungkin bisa dihitung dengan
jari. Siswa yang selalu datang kesekolah dengan pakaian rapi dan membawa tas
hanya tiga orang : Umbu Nessy Marumata (putra Pak Camat), Umbu Ndamu Makatehu,
dan Jelita Andu Uma Rara Mata. Itu karena mereka berasal dari keluarga berada
dan peduli pendidikan.
Bagaimana pun itu lah
mereka, siswa-siswi lugu dengan keceriaan khas anak-anak yang selalu setia
menghibur hati saya di kala sepi. Sering kali kami harus belajar di
perpustakaan atau parkir sekolah karena kelas penuh dengan kotoran atau air
kencing hewam ternak warga yang seolah sudah menjadikan sekolah kami sebagai
“rumah kedua” mereka. Dan yang tak mungkin akan saya lupa adalah teriakan
serempak yang selalu mereka ucapkan ketika apel pagi sebelum kegiatan belajar
mengajar dimulai : “Selamat Pagi Pak dan
Bu!”. Sedangkan ketika apel siang sebelum pulang, mereka berucap : “Terima Kasih Pak dan Bu!”. Selalu
dengan nada yang sama, semangat yang sama, dan senyuman yang sama. Full Power banget!
Apa yang saya jumpai
mungkin juga dijumpai oleh rekan-rekan peserta SM-3T lain di pelosok Sumba,
bahkan ada pula yang lebih parah. Di SMPN SATAP Umandundu, tidak semua siswa
memiliki pakaian seragam olahraga. Setiap akan memulai pelajaran olahraga,
mereka meminjam pakaian olahraga yang disimpan di sekolah. Setelah pelajaran
selesai, seragam tersebut dikembalikan untuk kemudian dipakai kembali keesokan
harinya.
Banyak rekan-rekan
yang ditugaskan di SMPN SATAP (Satu Atap, berdiri dalam satu area lokasi dengan
SD) mengeluhkan ketiadaan buku pelajaran maupun buku bacaan untuk siswa.
Masalah ini memang lumrah terjadi pada sekolah-sekolah “muda” yang baru
berdiri. Berbanding terbalik dengan sekolah yang lebih “tua” seperti sekolah
saya, sebenarnya sudah memiliki buku pelajaran dan buku bacaan yang bagus,
bahkan menurut saya peralatan laboratorium IPA dan IPS di sini sangat
mengagumkan. Lengkap, bahkan mungkin tidak semua sekolah di Jawa memiliki
selengkap ini. Semua peralatan lab tersebut masih terbungkus rapi, karena belum
pernah digunakan. Saya adalah orang pertama yang membuka bungkus peta dan menggunakannya
untuk mengajar. Demikian juga halnya dengan dua rekan saya, mas Dedi Ardiawan
adalah orang pertama yang mengajarkan siswa-siswi kami cara menggunakan
mikroskop, sedangkan Nor Oktaviyanti adalah Ibu Guru pertama yang menunjukkan
bentuk bangun-bangun ruang. Antusiasme siswa-siswi kami menunjukkan bahwa
selama ini mereka hanya dicekoki teori-teori kosong. Belum tahu dimana letak
Pulau Sumba dalam wilayah Indonesia, belum tahu tentang adanya mikroorganisme,
bahkan paham beda antara bangun datar dan bangun ruang. Menjadi orang pertama
yang mengenalkan itu semua kepada mereka adalah hal berkesan dan membanggakan
yang mungkin tidak akan saya rasakan jika saya tidak pergi ke sini. Excited!
Sekolah kami sangat
jarang (atau bahkan hampir tidak pernah) melaksanakan upacara bendera di hari
Senin. Hal yang lumrah untuk sekolah-sekolah di pelosok. Melaksanakan upacara
bendera adalah salah satu misi penting kami, tugas berat yang juga diemban oleh
seluruh peserta SM-3T di Sumba. Berat?
Hal paling mendasar :
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan nada yang baik dan benar,
sangat sulit dilakukan oleh siswa-siswi kami, begitu juga dengan lagu-lagu
nasional yang lain. Lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan nada penuh semangat
ternyata sulit sekali dilakukan oleh siswa-siswi kami. Alunan nada mereka
cenderung melambai-lambai. Berulangkali kami coba benahi tapi sangat sulit
untuk mereka memahami apa yang kami ajarkan.
Bulan Maret 2012,
kami mendapat kabar gembira dengan datangnya bantuan 1060 stel pakaian SD dan
100 stel pakaian seragam SMP untuk siswa-siswi Sumba Timur, hasil penggalangan
bantuan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Surabaya. Walupun tentu belum
mencukupi kebutuhan seluruh siswa-siswi kami di sini, bantuan tersebut
merupakan berkah luar biasa bagi putra-putri dari tanah sabana ini.
Berkah kembali datang
ketika bulan Juni lalu, kami menerima bantuan 10.000 buku bacaan untuk
sekolah-sekolah di Sumba Timur, hasil penggalangan yang dilakukan oleh
adik-adik kami, pengurus BEMJ Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya. Bersamaan dengan itu dibagikan pula sumbangan
berupa bendera merah putih dan CD berisi kumpulan lagu-lagu nasional untuk
seluruh sekolah di Sumba Timur. Sesuatu yang sederhana namun sangat membantu menghadirkan
semakin banyak keceriaan bagi anak-anak kami di sini.
Terima kasih Tuhan,
jaga lah keceriaan dan semangat anak-anak Sumba ini. Jaga lah rizki untuk
orang-orang yang membawa keceriaan bagi mereka.
“Selamat Pagi Pak dan Bu! Terima Kasih Pak dan Bu!” Kalimat sapaan seru yang akan selalu saya rindukan.
Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.
SM-3T UNESA, Maju Bersama
Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling
Menginspirasi.
[1] Alumnus Jurusan Pendidikan
Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah
Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar
Kabupaten Sumba Timur.