Selasa, 27 November 2012

Tawui Arena, The Theatre of The Dream
oleh : Abdul Hamid[1]


Tawui Arena
=

Old Trafford

Pak Guru, mari kita main bola kaki ... !

Panggilan yang akan selalu saya rindukan. Sebuah bola usang telah menjadi saksi “pergumulan” yang kami lalui bersama di lapangan rumput berselimut debu di belakang sekolah kami.
Lahan kosong penuh semak belukar membentang di halaman belakang sekolah kami yang luas. Rekan-rekan guru setempat mengatakan bahwa lahan itu adalah sebuah lapangan sepakbola yang jarang dirawat sehingga semak belukar tumbuh subur menutup rumput lapangan. Hujan ikut memacu pertumbuhan semak belukar itu dengan cepat. Kami harus menunggu musim hujan selesai untuk mulai membangun kembali lapangan.
Memasuki semester kedua masa tugas, baru lah kami bisa memulai proyek kami. Setiap hari Jum’at sore, sekolah kami mengadakan acara kerja bakti bersama yang dikoordinir oleh OSIS. Kami memanfaatkan waktu tersebut untuk mengarahkan siswa membersihkan semak belukar. Cukup sulit membersihkan tumbuhan-tumbuhan liar yang biasa disebut tumbuhan Kehi dan Tai Belalang dengan akarnya yang besar, belum lagi rumput-rumput liar yang tajamnya bisa dengan mudah mengiris kulit kaki. Butuh empat kali kerja bakti untuk membersihkan lapangan itu.
Adalah Supriyadi Pura Tanya atau karib disapa Yadi, siswa kelas 8A yang dengan suka rela menghibahkan bambu dari kebunnya untuk kami jadikan gawang lapangan kami. Tak akan saya lupakan sore yang melelahkan itu, saat saya dengan Yadi memotong kemudian memikul bambu bersama saya dari rumah Yadi yang terletak di seberang lembah sungai Tawui, kurang lebih 2 km. Bukan jarak yang ringan karena kami berdua harus memikul bambu yang berat.
Dan gawang itu pun berdiri kokoh keesokan paginya. Sejak itu lah hari-hari yang indah penuh keceriaan kami lalui. Dengan sebuah bola futsal abu – abu yang saya beli di Waingapu, lapangan itu seolah tak pernah sepi pada jam istirahat sekolah dan sore hari selepas kegiatan kerja bakti OSIS. Kaki – kaki kecil nan lincah itu tiada henti mengejar bola yang bergulir, menerjang sisa – sisa rumput berduri yang tak mampu melukai kesaktian kaki – kaki mereka. Saya pun tak ketinggalan meramaikan permainan mereka dengan ikut bermain, walaupun hanya menjadi Kiper atau pemain belakang. Itulah cara saya mengikat hati mereka. Peluh keringat kami adalah ungkapan emosi kedekatan kami.
“Pinjam bola kaki Pak Guru”. Permintaan yang selalu mereka katakan kepada saya ketika istirahat sekolah atau jam kosong. Saya selalu mengabulkannya, asal mereka tetap masuk kelas ketika waktunya belajar, daripada mereka meninggalkan sekolah ketika tidak ada kegiatan belajar di kelas.
Saya seorang Milanisti (penggemar AC Milan), tapi saya selalu terkesan dengan gelar “The Theatre of The Dream” yang melekat pada stadion Old Trafford milik Manchester United. Di tempat itulah Milan mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti pada final UEFA Champions League 2002/2003, namun lebih dari itu gelar “The Theatre of The Dream” adalah simbol bahwa ditempat tersebut para bintang berlaga mewujudkan mimpinya. Semangat yang coba saya tularkan kepada murid – murid kami di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar”.
Kami memiliki sosok hebat di bawah mistar gawang layaknya Peter Schmeichel pada diri Yanto Pandangara. Pria kecil asal desa Lailunggi ini selalu tampil kokoh mengawal gawang dengan kaos andalan bertuliskan “Pemburu Janda Muda”. Hahaha

Yanto
=

Peter Schmeichel

Manchester United pernah memiliki palang pintu kokoh Jaap Stam dari Belanda. Kami juga punya palang pintu kokoh bernama Supriyadi Pura Tanya dari Tawui. 0(^_^)0

Yadi (tengah)
=

Jaap Stam

Sekarang hamper di seluruh dunia memperdebatkan siapa yang terbaik antara Leonel Messi dan Cristiano Ronaldo. Kami juga punya Ronaldo : Ronaldo Bulu Bili atau biasa dipanggil Ronald. Jika ayah Cristiano Ronaldo mengambil nama mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, lain dengan papa Ronald yang memberi nama putra pertamanya ini dengan mengadopsi nama superstar Brazil Ronaldo Luis Nazario de Lima.

Ronaldo Bulu Bili
=

Cristiano Ronaldo

Masih ingat dengan penentu kemenangan MU atas Bayern Muenchen di final UEFA Champions League 1998/1999? “The Baby Face Assasin” Ole Gunnar Solskjaer, penyerang Norwegia berwajah imut yang sering menjadi penentu kemenangan MU pada beberapa pertandingan penting. Sosok oportunis ini ada pada Umbu Nessy Marumata alias Unes.

Unes
=

Ole Gunnar Solskjaer

Tak ada yang menyangkal bahwa aktor utama kejayaan MU adala Sir Alex Ferguson, pria Skotlandia berwatak keras namun pandai memotivasi para pemainnya. Kesuksesan yang coba saya teladani (dalam konteks seorang pendidik) walaupun pastinya saya belum sehebat Opa Fergie, hehe.

Saya dan permata – permata Tawui
=

Sir Alex dan para superstar MU

Hari – hari indah yang kami lalui bersama di Tawui Arena, “The Theatre of The Dream of Pinu Pahar” mungkin bukan sesuatu yang special untuk sebagian orang, namun dari situlah saya mencoba menanamkan nilai sportivitas dan jiwa kompetitif dalam diri murid – murid kami, walaupun hanya lewat event – event sederhana seperti kegiatan ekstrakurikuler sepak bola atau juga kompetisi Class Meeting dan peringatan HUT Kemerdekaan yang sempat kami adakan di sana. Semoga sedikit kenangan ini bermanfaat untuk masa depan anak – anak bangsa di ujung selatan negeri.

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.




[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Kamis, 05 Juli 2012

Terima Kasih Pak dan Bu!


Terima Kasih Pak dan Bu!”
oleh : Abdul Hamid[1]

Tujuh bulan sudah kami bertugas di tanah sabana ini. Semakin hari rasa rindu kampung halaman di Jawa semakin timbul di benak kami, namun sebenarnya seiring dengan itu semakin besar pula kesedihan yang terbayang ketika kami nanti harus meninggalkan putra-putri Sumba binaan kami.
Mengingat kembali awal tugas kami, adalah momen yang sangat berkesan dan tak terlupakan, seakan membuka kembali album kenangan. Saat pertama kali memasuki desa Tawui, kami empat belas orang Guru SM-3T (enam orang bertugas di SMPN 1 Pinu Pahar, 8 orang di SMPN SATAP Okatana) sempat menjumpai beberapa murid kami yang sore itu memang banyak berada d depan rumah-rumah mereka yang terletak di tepi jalan trans Sumba Selatan yang banyak berlubang dan penuh dengan debu. Oto yang kami tumpangi berhenti sejenak pada sebuah komplek pemukiman warga di dekat kantor desa Tawui, tepat di depan sebuah tugu peringatan dimulainya proyek jalan trans Selatan Sumba yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada tahun 1988.
Diantara beberapa anak yang menunggu kami di sepanjang jalan, saya menghampiri seorang anak perempuan. Saya bertanya padanya: “Kelas berapa kamu?”. Sambil tersenyum malu-malu (ekspresi khas anak di pelosok Sumba) dia menjawab : “Kelas Delapan”. Saya pun membalas : “Salam kenal ya, besok saya mengajar kamu”. Gadis kecil itu pun berkata : “Iya Pak Guru”, sambil kemudian berlalu pergi. “Pak Guru”, sapaan yang sungguh berkesan karena baru sekali itu saya dipanggil dengan sebutan Pak Guru. Maklum, S.Pd anyar dengan pengalaman minim. Hehehe
Hari beranjak senja dan saya tak sabar menanti hari esok, berjumpa dengan murid-murid pertama saya untuk pertama kalinya, sebuah momen bersejarah bagi seorang guru pemula. Pagi itu para siswa sudah berkumpul dengan aneka rupa seragam, hal yang belum pernah saya jumpai di sekolah mana pun di Indonesia.
Kebanyakan siswa kami hanya memiliki satu stel pakaian seragam putih biru. Sedikit sekali yang memiliki seragam pramuka. Mereka memakai seragam putih biru itu selama enam hari sepekan, kemudian dicuci di hari minggu. Pantas lah jika tampak lusuh. Banyak yang pergi ke sekolah tanpa sepatu, danya memakai sandal jepit. Tas? Siswa yang pergi ke sekolah dengan membawa tas mungkin bisa dihitung dengan jari. Siswa yang selalu datang kesekolah dengan pakaian rapi dan membawa tas hanya tiga orang : Umbu Nessy Marumata (putra Pak Camat), Umbu Ndamu Makatehu, dan Jelita Andu Uma Rara Mata. Itu karena mereka berasal dari keluarga berada dan peduli pendidikan.
Bagaimana pun itu lah mereka, siswa-siswi lugu dengan keceriaan khas anak-anak yang selalu setia menghibur hati saya di kala sepi. Sering kali kami harus belajar di perpustakaan atau parkir sekolah karena kelas penuh dengan kotoran atau air kencing hewam ternak warga yang seolah sudah menjadikan sekolah kami sebagai “rumah kedua” mereka. Dan yang tak mungkin akan saya lupa adalah teriakan serempak yang selalu mereka ucapkan ketika apel pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai : “Selamat Pagi Pak dan Bu!”. Sedangkan ketika apel siang sebelum pulang, mereka berucap : “Terima Kasih Pak dan Bu!”. Selalu dengan nada yang sama, semangat yang sama, dan senyuman yang sama. Full Power banget!
Apa yang saya jumpai mungkin juga dijumpai oleh rekan-rekan peserta SM-3T lain di pelosok Sumba, bahkan ada pula yang lebih parah. Di SMPN SATAP Umandundu, tidak semua siswa memiliki pakaian seragam olahraga. Setiap akan memulai pelajaran olahraga, mereka meminjam pakaian olahraga yang disimpan di sekolah. Setelah pelajaran selesai, seragam tersebut dikembalikan untuk kemudian dipakai kembali keesokan harinya.
Banyak rekan-rekan yang ditugaskan di SMPN SATAP (Satu Atap, berdiri dalam satu area lokasi dengan SD) mengeluhkan ketiadaan buku pelajaran maupun buku bacaan untuk siswa. Masalah ini memang lumrah terjadi pada sekolah-sekolah “muda” yang baru berdiri. Berbanding terbalik dengan sekolah yang lebih “tua” seperti sekolah saya, sebenarnya sudah memiliki buku pelajaran dan buku bacaan yang bagus, bahkan menurut saya peralatan laboratorium IPA dan IPS di sini sangat mengagumkan. Lengkap, bahkan mungkin tidak semua sekolah di Jawa memiliki selengkap ini. Semua peralatan lab tersebut masih terbungkus rapi, karena belum pernah digunakan. Saya adalah orang pertama yang membuka bungkus peta dan menggunakannya untuk mengajar. Demikian juga halnya dengan dua rekan saya, mas Dedi Ardiawan adalah orang pertama yang mengajarkan siswa-siswi kami cara menggunakan mikroskop, sedangkan Nor Oktaviyanti adalah Ibu Guru pertama yang menunjukkan bentuk bangun-bangun ruang. Antusiasme siswa-siswi kami menunjukkan bahwa selama ini mereka hanya dicekoki teori-teori kosong. Belum tahu dimana letak Pulau Sumba dalam wilayah Indonesia, belum tahu tentang adanya mikroorganisme, bahkan paham beda antara bangun datar dan bangun ruang. Menjadi orang pertama yang mengenalkan itu semua kepada mereka adalah hal berkesan dan membanggakan yang mungkin tidak akan saya rasakan jika saya tidak pergi ke sini. Excited!
Sekolah kami sangat jarang (atau bahkan hampir tidak pernah) melaksanakan upacara bendera di hari Senin. Hal yang lumrah untuk sekolah-sekolah di pelosok. Melaksanakan upacara bendera adalah salah satu misi penting kami, tugas berat yang juga diemban oleh seluruh peserta SM-3T di Sumba. Berat?
Hal paling mendasar : menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan nada yang baik dan benar, sangat sulit dilakukan oleh siswa-siswi kami, begitu juga dengan lagu-lagu nasional yang lain. Lagu yang seharusnya dinyanyikan dengan nada penuh semangat ternyata sulit sekali dilakukan oleh siswa-siswi kami. Alunan nada mereka cenderung melambai-lambai. Berulangkali kami coba benahi tapi sangat sulit untuk mereka memahami apa yang kami ajarkan.
Bulan Maret 2012, kami mendapat kabar gembira dengan datangnya bantuan 1060 stel pakaian SD dan 100 stel pakaian seragam SMP untuk siswa-siswi Sumba Timur, hasil penggalangan bantuan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Surabaya. Walupun tentu belum mencukupi kebutuhan seluruh siswa-siswi kami di sini, bantuan tersebut merupakan berkah luar biasa bagi putra-putri dari tanah sabana ini.
Berkah kembali datang ketika bulan Juni lalu, kami menerima bantuan 10.000 buku bacaan untuk sekolah-sekolah di Sumba Timur, hasil penggalangan yang dilakukan oleh adik-adik kami, pengurus BEMJ Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya. Bersamaan dengan itu dibagikan pula sumbangan berupa bendera merah putih dan CD berisi kumpulan lagu-lagu nasional untuk seluruh sekolah di Sumba Timur. Sesuatu yang sederhana namun sangat membantu menghadirkan semakin banyak keceriaan bagi anak-anak kami di sini.
Terima kasih Tuhan, jaga lah keceriaan dan semangat anak-anak Sumba ini. Jaga lah rizki untuk orang-orang yang membawa keceriaan bagi mereka.
“Selamat Pagi Pak dan Bu! Terima Kasih Pak dan Bu!” Kalimat sapaan seru yang akan selalu saya rindukan.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.




[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Kamis, 21 Juni 2012

Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit Tawui


Mondu, Keindahan Tersembunyi dibalik Bukit Tawui
oleh : Abdul Hamid[1]

Tak pernah saya sangka bahwa dibalik bukit si sebelah utara desa Tawui terdapat keindahan tersembunyi bernama dusun Mondu. Dua hari penuh kesan yang saya lalui dengan SUlistiyo (sesama rekan peserta SM-3T UNESA), Arban (murid kami) dan keluarganya.
Perjalanan dengan jarak hanya 6 km menjadi sangat melelahkan karena medan yang terjal, bahkan lebih berat dari 32 km yang saya lalui sewaktu menuju Ramuk dan Umandundu, walau pun juga dengan jalan kaki. Tiga jam kami butuhkan untuk sampai di dusun yang masih masuk wilayah desa Tawui tersebut. Hari sudah gelap ketika keluarga Arban menyambut kami.
Saya sangat kagum, ternyata murid kami yang paling pandai di kelas 9 itu lahir dari keluarga yang sangat bersahaja. Ayahnya menyandang cacat di tangan kanan karena polio. Dengan memakai tangan kirinya, beliau sangat terampil mengerjakan semua pekerjaan di rumah dan di kebun. Ayah Arban drop out dari kelas 1 SD karena sakit polio yang dideritanya, tetapi beliau bisa membaca, menulis, dan menghitung.
Ibu Arban hanya lulus SD, namun beliau memiliki wawasan dan kepedulian lingkungan yang tinggi sehingga dipercaya menjadi ketua kader Posyandu di dusun yang hampir tak terjamah tersebut. Ibu Arban juga dipercaya membantu persalinan di dusun Mondu. Meskipun sudah ada Perda yang mewajibkan setiap Ibu hamil untuk memeriksakan kandungan dan melahirkan di Bidan atau tenaga medis resmi, hal tersebut tidak dapat diterapkan di wilayah seperti dusun Mondu. Dengan pertimbangan tersebut, Bidan setempat mempercayakan persalinan kepada Ibu Arban apabila Bidan tidak sempat datang.
Kedua orang tua Arban memang tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka bertekad untuk menyekolahkan Arban ke SMK Pertanian di Kupang dan melanjutkan kuliah di sana. Beberapa hari yang lalu (sebelum tulisan ini saya posting), Alpius (teman Arban) menceritakan keharuan ketika Ibu Arban melepas keberangkatan putra keduanya itu ke Kupang untuk mendaftar di SMK Pertanian.
Setiap pagi, ayah Arban bekerja di ladang dengan memakai tangan kirinya, malam harinya Beliau pergi menangkap belut dan udang untuk lauk keluarganya. Kami sempat menikmati belut bakar dan kare udang yang sangat nikmat bersama keluarga ini. Sarapan paling nikmat selama kami berada di Sumba.
Tak kalah serunya, kami menyusuri sungai indah dengan beberapa air terjun menuju kebun pinang keluarga ini di hutan. Walaupun tidak ikut memetik pinang (karena kami tidak bisa memanjat pohon setinggi itu), kami masih sempat membantu mengupas pinang. Keindahan sungai tersebut mungkin seperti Green Canyon di Jawa Barat tapi dalam versi yang lebih mini, cocok untuk rafting dan kanoe.
Warga Mondu biasa menanam pinang, cengkeh, maupun kakao di ladang mereka dalam hutan, sementara padi dan ubi ditanam di kebun sekitar rumah. Sedikit pun mereka tidak pernah pindah dari daerah sunyi dan terpencil tersebut, karena di sana lah mereka bisa hidup sejahtera dengan hasil buminya. Mereka menjual hasil pertaniannya ke Tawui.

Mereka Menyapa Saya, Mereka Membangunkan Saya, Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.

Jumat, 15 Juni 2012

Murid-Muridku, Permata-Permata Kecil dari Tawui


Murid-Muridku, Permata-Permata Kecil dari Tawui
Oleh : Abdul Hamid[1]

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.
Secara khusus kalimat-kalimat tersebut saya tujukan untuk siswa-siswi saya, penyambung semangat saya di tanah rantau. Siapa saja kah mereka? Berikut beberapa diantara mereka yang dapat saya perkenalkan :
Umbu Nessy Marumata a.k.a Unes. Unes adalah putra kedua dari Bapak Camat Pinu Pahar, Drs. Andreas Marumata. Lelaki kecil dengan tinggi 140 cm ini dilihat dari style-nya jelas paling menonjol dibandingkan teman-temannya. Selalu memakai sepatu sport putih, rambut dibuat jambul ala Cristiano Ronaldo, dan lengan baju dijinjing. Unes hobi bermain sepakbola.
Unes (paling kanan) belajar di perpustakaan bersama dua temannya, Artasasta dan Arnold.
Unes siswa yang paling aktif di kelas. Secara akademis Unes juga istimewa. Nilainya hampir selalu paling tinggi diantara teman-teman sekelasnya. Ketika belajar bersama dalam kelompok, Unes mampu menempatkan diri sebagai pemimpin diskusi. Saat ketinggalan pelajaran karena tidak masuk, Unes memiliki inisiatif untuk mengejar ketertinggalannya dengan mencatat di perpustakaan sekolah di waktu istirahat. Siswa kelas 7A ini juga  terpilih menjadi Ketua OSIS tahun ini.
Umbu Ndamu Makatehu a.k.a Umbu Kudu. Umbu Kudu berarti Umbu Kecil, panggilana yang memang sesuai untuk lelaki imut ini. Dengan tinggi 130 cm, Umbu Kudu adalah siswa laki-laki paling kecil di sekolah.
Siswa pemalu ini selalu hadir di sekolah tepat waktu tanpa pernah membolos. Pakaiannya selalu rapi dengan baju masuk ke dalam celana, memakai ikat pinggang, memakai sepatu dan membawa tas. Tidak ada anak serapi Umbu Kudu di sekolah. Mamanya tidak mengizinkan Umbu Kudu berangkat sekolah sebelum memastikannya berpakaian rapi. Bungsu dari tiga bersaudara ini memang berasal dari keluarga yang peduli pendidikan, suatu hal yang sangat jarang di sini. Kedua orang tua Umbu Kudu adalah petani. Kakak pertamanya kuliah di Jurusan Pertanian di Kupang, sedangkan kakak keduanya masih sekolah SMA di Waingapu.
Umbu Kudu sedang bermain hulahup. Pinggang kecilnya lihai bergoyang memainkan cincin hulahup rotan di sekolah.
Umbu Kudu  siswa yang rajin ketika belajar di kelas. Siswa kelas 7B ini juga hobi bermain sepakbola dan tenis meja. Meskipun memiliki keterbatasan postur, Umbu Kudu sangat lincah ketika bermain tenis meja. Beberapa guru dikalahkan olehnya.
Intan Harabi Loda, calon enterpreuner. Gadis pemalu ini datang ke sekolah dengan membawa barang dagangannya : pisang goreng dan keripik pisang.
Intan belajar di kelas 7A dengan ditemani barang dagangan di sisinya.
Intan berasal dari desa Lailunggi, sekitar 6 km dari Tawui. Dia tinggal menumpang di rumah salah seorang warga yang tinggal di dekat kantor kecamatan Pinu Pahar. Barang dagangan yang dijual Intan di sekolah adalah titipan dari induk semangnya. Intan tidak mendapat imbalan apa pun selain kesempatan tinggal dan makan.
Metu Salak K. Melip a.k.a Met. Met adalah siswa kelas 8A. Siswa dari Lailunggi ini setiap hari berjalan sekitar 6 km dari rumahnya menuju sekolah bersama dengan teman-temannya. Tak heran bila kemudian Met dan teman-temannya dari Lailunggi sering datang terlambat.
Unes (kiri) bersama Metu Salak (kanan), pasangan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 1 Pinu Pahar terpilih.
Menurut Guru-guru, dulu Met suka membolos. Tapi setelah saya masuk, dia jarang membolos karena dia ternyata menggemari pelajaran IPS, terutama Sejarah. Tak saya sangka, di daerah udik dengan akses informasi yang sangat minim ini, ada anak berwawasan luas seperti Met. Met tahu bahwa piramida adalah kuburan raja-raja Mesir. Dia juga tahu tentang VOC dan Cultuurstetsel. Semua karena dia suka menyendiri, membaca buku-buku di perpustakaan sekolah kami yang berantakan.
Kahar Umbu Djawaray a.k.a Kahar. Kahar adalah siswa paling senior di sekolah kami. Umurnya sudah 20 tahun. Meski demikian, Kahar tak pernah patah semangat. Siswa kelas ( ini rajin berangkat ke sekolah.
Kahar (berdiri paling depan) sedang mengikuti kegiatan apel pagi di sekolah.
Suatu ketika Kahar pernah menawarkan ayamnya kepada kami. Dia ingin menjual ayam itu untuk membantu Mamanya. Kahar rela melakukan apa saja demi melanjutkan sekolah. Kabar terakhir, Kahar mendaftar di SMKN 2 Waingapu.
Alpius Pilu Ndilu a.k.a Pius. Pius setahun lebih muda dari Kahar, dia berumur 19 tahun. Sewaktu kelas 7, Pius sempat drop out 2 tahun dan bekerja menjaga toko di Waingapu, tapi dia kemudian sadar pentingnya pendidikan sehingga memutuskan kembali ke bangku sekolah.
Pius tergolong anak kreatif. Ini lah contoh hasil kreatifitas Pius yang dia lukiskan pada bagian belakang  seragam Pramuka-nya.
Alpius (tengah) sedang makan bersama Yeheskiel (kiri) dan Salmon (kanan) pada acara pembukaan Ujian Nasional SMPN 1 Pinu Pahar.
Kabar terakhir, Pius memutuskan menunda melanjutkan ke jenjang SMA. Dia akan mengisi waktu setahun ke depan dengan bekerja sebagai buruh di Toko Bangunan Inti Karya Waingapu agar bisa menabung untuk sekolah. Semangat Pius!

Mereka Menyapa Saya,
Mereka Membangunkan Saya,
Mereka Menginspirasi Saya.

SM-3T UNESA, Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.
Saling Berbagi, Saling Menginspirasi.


[1] Alumnus Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya, peserta program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) yang ditugaskan di SMPN 1 Pinu Pahar Kabupaten Sumba Timur.